DI negeri ini, pejabat biasanya rajin mendatangi investor. Karpet merah dibentangkan, spanduk dipasang, pidato dipoles. Investor dianggap membawa masa depan.
Minggu lalu, di Panongan, Kabupaten Tangerang, ada pemandangan yang sedikit berbeda. Yang didatangi justru para perantau. Pakde Kardiyo, salah satu penguasa alas kaki asal Gunungkidul yang berkiprah di Kabupaten Tangerang.
Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, memilih menyapa warganya yang telah lama meninggalkan kampung untuk mencari penghidupan di perantauan. Barangkali ia sedang mengingatkan satu hal sederhana: sebelum mengejar modal dari luar, jangan lupa merawat manusia yang lahir dari tanah sendiri.
Sambutannya pun nyaris seperti pesta desa. Warga yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Gunungkidul (IKG) berbondong-bondong datang. Mereka ingin melihat pemimpin yang datang bukan saat kampanye, bukan pula ketika musim foto bersama.
Endah justru terlihat salah tingkah.
“Lho, kok malah koyo rasulan. Mbok yang biasa saja. Saya pengennya lesehan sambil ngobrol,” katanya, membuat suasana yang semula resmi berubah menjadi ruang keluarga besar.
Kalimat itu terasa lebih ampuh daripada seribu slogan pelayanan publik. Sebab rakyat sering kali tidak membutuhkan pemimpin yang pandai berpidato. Mereka hanya ingin diperlakukan sebagai manusia, bukan sekadar angka dalam laporan pembangunan.
Pertemuan itu kemudian berubah menjadi ruang curhat. Keluhan, usulan, kritik, hingga cerita keberhasilan mengalir tanpa protokol yang kaku. Seorang bupati mendengar, para perantau berbicara. Demokrasi, rupanya, kadang lahir dari tikar lesehan, bukan dari ruang rapat berpendingin udara.
Di sela percakapan, Endah melontarkan ajakan yang menarik. Ia mengundang para perantau yang telah sukses agar membuka usaha di Gunungkidul. Pemerintah, katanya, siap memberi kemudahan perizinan.
Ajakan itu terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya mengandung kritik halus terhadap banyak daerah yang lebih sibuk memburu investor asing daripada memelihara anak-anak daerahnya sendiri. Padahal, para perantau ini telah membuktikan kemampuannya bertahan, berusaha, dan membangun bisnis tanpa banyak karpet merah.
Mereka adalah investasi yang selama ini berjalan sendiri.
Pertemuan semakin hangat ketika makanan khas Gunungkidul tersaji di meja. Aroma kampung halaman seolah mengalahkan wangi kopi modern dan restoran cepat saji yang setiap hari menemani kehidupan kota.
Begitulah makanan bekerja. Ia bukan sekadar mengenyangkan perut, tetapi juga menyuapi ingatan. Sepotong kuliner tradisional mampu membawa seseorang pulang tanpa harus membeli tiket.
Endah tampak bangga. Menurutnya, sejauh apa pun orang merantau, akar budaya tak boleh ikut tercerabut. Tradisi harus tetap hidup, gotong royong jangan pensiun, dan nama baik Gunungkidul mesti ikut dibawa ke mana pun langkah berpijak.
Pesan itu mungkin terdengar sederhana. Namun di tengah zaman ketika kampung halaman sering hanya menjadi latar belakang unggahan media sosial saat Lebaran, mengingat asal-usul justru menjadi sikap yang semakin mahal.
Barangkali inilah investasi yang sesungguhnya. Bukan gedung menjulang. Bukan kawasan industri baru. Melainkan manusia yang pergi membawa mimpi, lalu suatu hari kembali membawa pengalaman, jaringan, dan harapan.
Sebab daerah tidak hanya dibangun oleh mereka yang tinggal. Ia juga dibesarkan oleh mereka yang, meski jauh, masih menyebut nama kampung dengan mata yang berbinar.
Dan mungkin, di situlah letak kepemimpinan yang paling sederhana: mendatangi warganya lebih dulu, sebelum meminta mereka pulang membangun tanah kelahirannya. (*






