JEJAK KATA, Jakarta — Latief Hendraningrat menaikkan Merah Putih ke tiang pada 17 Agustus 1945. Suhud Sastro Kusumo membentangkan kain merah dan putih itu. Sementara SK Trimurti sempat diminta ikut menaikkannya, tetapi menolak dan meminta bendera dikibarkan.
Hari itu belum ada Paskibraka. Pasukan pengibar bendera baru lahir lebih dari dua dekade kemudian. Pada 1967, H. Iskandar Mutahar merumuskan konsep yang kelak menjadi Paskibraka—pasukan yang setiap 17 Agustus mendapat tugas simbolis mengibarkan Sang Merah Putih di berbagai upacara kenegaraan.
Kini, 81 tahun setelah Proklamasi, tradisi itu diteruskan oleh putra-putri dari berbagai penjuru Indonesia.
Dalam Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia di Istana Merdeka, Senin, 17 Agustus 2026, mereka tergabung dalam Tim Paskibraka bernama “Indonesia Berdaulat”.
Formasi utama menjadi jantung pasukan. Di sanalah sejumlah tugas penting dalam pengibaran bendera dipercayakan kepada anggota pilihan.
Celina Olivia Apriani Theo, pelajar SMK Negeri 5 Pontianak, Kalimantan Barat, ditunjuk sebagai pembawa bendera Merah Putih. Ia menjadi salah satu figur paling depan dalam prosesi pengibaran Sang Saka. Posisi itu memiliki pasangan cadangan. Eighteen Jeanette Hekboy dari Nusa Tenggara Timur, siswi SMA Negeri 1 Kupang, disiapkan sebagai cadangan pembawa baki.
Di belakangnya, formasi bergerak dalam disiplin yang nyaris tanpa ruang untuk kesalahan.
Komandan Kelompok 8 dipercayakan kepada Achmad Fachri Mubarok dari Jambi. Pelajar SMKN 1 Kota Jambi itu bertugas memimpin kelompok yang menjadi bagian penting dalam prosesi pengibaran.
Tugas pengerek bendera diberikan kepada I Nyoman Harya Dhanurendra Darmamukti dari Kalimantan Selatan. Siswa SMAN 7 Banjarmasin itu mendapat tanggung jawab mengerek Merah Putih menuju puncak tiang. Di sampingnya terdapat M. Aryo Wira Zandhyka Y dari Bengkulu. Pelajar SMAN 7 Kota Bengkulu tersebut dipercaya sebagai pembentang bendera.
Tiga peran itu—pembawa bendera, pengerek, dan pembentang—menjadi bagian yang paling mudah dikenali publik ketika prosesi pengibaran berlangsung. Gerak mereka harus bertemu dalam hitungan waktu yang sama, di bawah tatapan jutaan mata yang mengikuti upacara dari layar televisi maupun gawai.
Namun Paskibraka bukan hanya tentang tiga orang tersebut.
Dalam formasi lain terdapat Komandan Kelompok 17, yang dipercayakan kepada Ahmad Raditya dari Daerah Istimewa Yogyakarta. Ia merupakan siswa SMK Penerbangan AAB Adi Sucipto. Sementara komando keseluruhan pasukan berada di tangan Kapten Mar Rachmatsah Adi Putera, Komandan Kompi Senapan H Yonif 9 Brigif 4 BS Korps Marinir.
Nama-nama itu berasal dari daerah yang berbeda. Mereka bertemu dalam satu formasi, membawa identitas provinsi masing-masing, tetapi berdiri untuk satu tugas: memastikan Merah Putih berkibar pada peringatan kemerdekaan.
Ada perubahan zaman dalam perjalanan itu. Pada 1945, pengibaran bendera dilakukan dalam suasana revolusi, dengan perlengkapan dan tata upacara yang jauh dari kemegahan seremoni kenegaraan hari ini. Kini, pengibaran dilakukan dengan formasi yang disusun, komando yang terukur, dan anggota yang dipilih melalui proses panjang.
Tetapi esensinya tetap sama: Merah Putih harus sampai ke puncak tiang.
Dari tangan Latief Hendraningrat pada pagi bersejarah 1945 hingga formasi “Indonesia Berdaulat” pada 2026, pengibaran bendera berubah menjadi sebuah tradisi kenegaraan. Para pelakunya berganti, generasinya berubah, tetapi kain dua warna itu tetap menjadi pusat perhatian.
Paskibraka hari ini bukan orang-orang yang memproklamasikan kemerdekaan. Mereka adalah generasi yang mendapat tugas untuk mengingatkan bahwa kemerdekaan memiliki simbol yang harus dijaga—dan pekerjaan yang harus diteruskan.
Setelah upacara selesai, Merah Putih mungkin kembali diturunkan. Namun bagi para anggota Paskibraka, tugas mereka meninggalkan satu pesan yang lebih panjang dari durasi upacara: Indonesia bukan hanya diwariskan melalui sejarah, tetapi juga melalui generasi yang bersedia berdiri di dalamnya. (*






