Wisata dan Kuliner

Semangkuk Mie Aceh Sigli Jaya, Jejak Rempah Aceh di CitraRaya

×

Semangkuk Mie Aceh Sigli Jaya, Jejak Rempah Aceh di CitraRaya

Sebarkan artikel ini
Mie Aceh

KULINER — Aroma bawang, ketumbar, cabai, kayu manis dan rempah lain menguar dari wajan panas. Mie kuning yang kenyal ditumis bersama bumbu berwarna kemerahan, lalu disajikan mengepul. Gurih, pedas, dan kaya rasa. Di baliknya ada jejak bumbu kare yang menjadi ciri masakan Aceh.

Pada malam hari, aroma itu mudah mengundang selera di Warkop Mie Aceh Sigli Jaya, Ruko Park View, Citra Raya, Cikupa, Kabupaten Tangerang. Tempat ini menyajikan mie Aceh, roti cane, serta minuman khas seperti kopi tarik, kopi telur, teh telur, dan teh tarik.

Pengelola Warkop Mie Aceh Sigli Jaya, Zulkifli, mengatakan bahwa usaha tersebut dibangun keluarganya dari nol. Resep yang digunakan berasal dari keluarga di Aceh dan dipertahankan tanpa banyak perubahan.

“Memang seperti ini masakan khas Aceh, identik dengan kare,” kata Zulkifli.

Rahasia rasa mie itu bertumpu pada bumbu yang mereka racik sendiri. Bawang merah dan bawang putih, cabai, ketumbar, kayu manis, kacang, kemiri, serta sejumlah rempah dicampur dengan kelapa parut. Santan tidak digunakan.

“Tidak pakai santan, tapi kelapa parut,” ujarnya.

Racikan serupa juga menjadi dasar kuah kare untuk roti cane. Bumbunya terdiri atas ketumbar, bawang merah, bawang putih, dan kelapa parut, kemudian dipadukan dengan daging sapi.

Mie Aceh tersedia dalam sejumlah pilihan. Ada yang sederhana, ada pula yang dilengkapi daging sapi atau seafood. Harganya berkisar dari belasan ribu hingga sekitar Rp30 ribuan, tergantung pilihan lauk dan sajian.

Warkop itu menjadi tempat bertemunya beragam pelanggan. Buruh pabrik, pengusaha, pejabat pemerintahan hingga anggota dewan disebut pernah menjadi pelanggan. Harga yang relatif terjangkau membuat semangkuk mie Aceh tak mengenal kelas sosial.

Zulkifli mengatakan ada hal lain yang dipertahankan selain resep: kebersihan dan kejujuran. Ia meyakini pelanggan akan kembali jika mendapatkan makanan yang enak sekaligus pelayanan yang baik.

“Pembeli adalah raja. Kita wajib memberikan pelayanan dan sajian yang terbaik,” katanya.

Di tengah deretan ruko Citra Raya, semangkuk mie Aceh itu menjadi semacam pengingat bahwa makanan tak selalu harus berasal dari dapur di tanah asalnya untuk mempertahankan identitas. Rempah-rempahnya membawa Aceh jauh ke Tangerang—dihidangkan panas, pedas, dan gurih ketika malam mulai turun. (*

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *