LEGENDA — Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, menyimpan banyak lapisan sejarah. Kota pesisir utara Jawa ini menjadi ruang perjumpaan masyarakat Jawa, Tionghoa, Arab, dan berbagai kelompok lain. Jejaknya terlihat dari rumah-rumah tua, kawasan pecinan, kelenteng, hingga tradisi yang bertahan lintas generasi.
Di antara cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi, ada satu legenda yang mengundang rasa ingin tahu: kutukan marga Han di Lasem.
Konon, keturunan Tionghoa bermarga Han dilarang menginjakkan kaki atau tinggal di Lasem. Jika pantangan itu dilanggar, kesialan disebut akan mengikuti.
Cerita tersebut bahkan berkembang lebih jauh. Ada kepercayaan bahwa keturunan laki-laki marga Han dapat mengalami kebangkrutan bila menetap di Lasem. Sementara perempuan dari garis keturunan tersebut disebut-sebut sulit memiliki keturunan.
Benarkah kutukan itu ada? Di sinilah sejarah dan mitos perlu ditempatkan pada ruangnya masing-masing.
Han Siong Kong dan Awal Mula Legenda
Legenda kutukan marga Han di Lasem dikaitkan dengan seorang leluhur bernama Han Siong Kong. Dalam sejumlah versi cerita rakyat, tokoh ini juga disebut Han Wee Sing atau Han Du Chun.
Ia digambarkan sebagai saudagar kaya yang hidup sekitar abad ke-18.
Kisah kemudian bergerak dari cerita keluarga menuju legenda. Han Siong Kong disebut memiliki anak-anak yang tidak menghormatinya. Dalam versi yang beredar, sikap tersebut bahkan berlanjut sampai sang ayah meninggal.
Jenazah sang ayah disebut tidak mendapatkan penghormatan sebagaimana mestinya.
Dari sinilah cerita tentang kutukan bermula. Konon, arwah Han Siong Kong mengutuk keturunannya. Mereka yang membawa garis keturunannya dipercaya akan mengalami kesialan apabila datang atau tinggal di Lasem.
Cerita itu kemudian diwariskan, diperluas, dan menjadi bagian dari kisah mistis yang melekat pada Lasem.
Kutukan Marga Han: Laki-laki Bangkrut, Perempuan Sulit Memiliki Keturunan
Versi paling populer dari legenda tersebut memiliki konsekuensi yang berbeda bagi laki-laki dan perempuan.
Keturunan laki-laki marga Han dipercaya akan menghadapi persoalan dalam bisnis atau mengalami kebangkrutan apabila menetap di Lasem.
Sementara perempuan dari garis keturunan itu disebut tidak akan memiliki keturunan.
Karena dipercaya sebagai pantangan keluarga, sebagian keturunan Han disebut memilih tidak menetap di Lasem. Bahkan berkembang cerita bahwa mereka menghindari melintasi wilayah Lasem, baik melalui jalan darat maupun udara.
Pada titik ini, legenda telah melampaui sekadar cerita keluarga. Ia berubah menjadi kepercayaan. Namun, sebuah kepercayaan tidak otomatis menjadi fakta.
Lasem dan Sejarah Masyarakat Tionghoa
Untuk memahami mengapa legenda tersebut dapat bertahan, Lasem perlu dilihat dalam konteks sejarahnya.
Lasem merupakan salah satu kawasan pesisir utara Jawa yang memiliki sejarah panjang hubungan antara masyarakat Jawa dan Tionghoa. Interaksi itu berlangsung melalui perdagangan, permukiman, perkawinan, kesenian, kuliner, hingga kehidupan sosial.
Karena itu, kisah keluarga Tionghoa di Lasem tidak muncul dalam ruang kosong. Ada sejarah komunitas yang nyata.
Tetapi keberadaan komunitas Tionghoa, termasuk keluarga bermarga Han, merupakan persoalan sejarah. Sementara kutukan marga Han berada pada wilayah legenda dan tradisi lisan.
Keduanya tidak semestinya dicampuradukkan.
Sejarah membutuhkan bukti yang dapat ditelusuri—arsip, dokumen, catatan keluarga, sumber sezaman, atau bukti material. Legenda bekerja dengan mekanisme berbeda. Ia bertahan melalui ingatan, cerita lisan, simbol, dan keyakinan.
Mengapa Mitos Kutukan Bisa Bertahan?
Mitos tidak selalu bertahan karena pernah dibuktikan. Kadang ia bertahan justru karena terus diceritakan.
Seseorang yang percaya bahwa datang ke Lasem akan membawa kesialan mungkin akan lebih mudah mengingat kejadian buruk setelah kunjungan tersebut. Jika usaha mengalami penurunan, misalnya, peristiwa itu dapat dianggap sebagai bukti kutukan.
Sementara mereka yang datang ke Lasem dan hidup normal mungkin tidak pernah masuk ke dalam cerita.
Dalam psikologi, kecenderungan mencari atau mengingat informasi yang mendukung keyakinan yang sudah dimiliki dikenal sebagai bias konfirmasi.
Ada pula persoalan sebab-akibat.
Bisnis seseorang bisa bangkrut karena utang, manajemen yang buruk, perubahan pasar, persaingan, atau keputusan investasi. Menghubungkannya secara otomatis dengan sebuah tempat membutuhkan bukti lebih dari sekadar urutan waktu.
Demikian pula persoalan kesuburan manusia memiliki faktor biologis dan medis yang kompleks. Tidak ada dasar logis untuk menyimpulkan seseorang sulit memiliki keturunan hanya karena berasal dari garis keluarga tertentu dan pernah menginjakkan kaki di sebuah wilayah. Kebetulan bukan bukti hubungan sebab-akibat.
Kutukan sebagai Pesan Moral
Legenda tersebut juga dapat dibaca dari sisi lain. Kisah Han Siong Kong menyimpan pesan mengenai hubungan antara anak dan orang tua: jangan durhaka, jangan mengabaikan orang tua, dan hormati orang yang telah meninggal.
Pesan moral semacam itu bukan hal asing dalam cerita rakyat berbagai daerah.
Konsekuensi yang dibuat sangat besar—dalam hal ini berupa kutukan turun-temurun—membuat pesan tersebut lebih mudah diingat.
Dengan cara pandang ini, seseorang tidak harus mempercayai kutukannya untuk memahami pesan moralnya.
Legenda dapat dihormati sebagai bagian dari warisan budaya tanpa harus diperlakukan sebagai hukum sebab-akibat.
Antara Fakta Sejarah dan Kepercayaan
Ada tiga hal yang perlu dibedakan ketika membaca legenda kutukan marga Han di Lasem: fakta sejarah, tradisi lisan, dan keyakinan pribadi.
Fakta sejarah dapat diuji melalui sumber yang dapat diverifikasi. Tradisi lisan merupakan bagian dari ingatan dan kebudayaan masyarakat.
Sedangkan keyakinan merupakan wilayah personal yang tidak selalu dapat dibuktikan dengan metode ilmiah.
Karena itu, cerita tentang kutukan marga Han sebaiknya ditempatkan sebagai legenda selama belum ada bukti sejarah dan empiris yang membuktikan klaim tersebut.
Lasem bukan semata-mata kota yang disebut dalam cerita kutukan.
Ia adalah ruang sejarah. Masyarakat Jawa dan Tionghoa telah berinteraksi di sana dalam perjalanan panjang yang menghasilkan kebudayaan khas.
Justru karena itulah legenda tersebut menarik untuk dikaji. Ia memperlihatkan bagaimana sebuah cerita keluarga dapat tumbuh menjadi ingatan kolektif.
Mitos Tidak Harus Dimusuhi
Mitos tidak selalu harus dilawan. Tetapi mitos juga tidak harus dipercaya sebagai fakta. Ia dapat dibaca sebagai bagian dari kebudayaan.
Dari legenda kutukan marga Han di Lasem, kita dapat melihat bagaimana manusia mewariskan ketakutan, menjelaskan peristiwa yang sulit dipahami, sekaligus menyampaikan pesan moral.
Yang perlu dijaga adalah batasnya. Legenda boleh menjadi cerita. Sejarah harus memiliki bukti. Kepercayaan boleh menjadi pilihan pribadi. Tetapi klaim tentang sebab-akibat membutuhkan pembuktian.
Pada akhirnya, persoalannya bukan semata-mata apakah Lasem benar-benar mengutuk keturunan marga Han.
Pertanyaan yang lebih menarik adalah: mengapa sebuah cerita dapat bertahan begitu lama dan dipercaya lintas generasi?
Sejarah memberikan bukti. Logika menguji hubungan sebab-akibat. Mitos menyimpan ingatan.
Ketiganya dapat berjalan beriringan, selama pembaca tahu kapan harus percaya, kapan harus bertanya, dan kapan harus mengatakan: ini legenda, bukan fakta yang telah terbukti. (*






