JEJAK KATA, Tangerang — Kuah hangat mengepul. Bola-bola daging mengambang di mangkuk. Begitu satu baso digigit, bunyi kres terdengar sebelum gurih daging memenuhi mulut. Lidah pun seperti tak punya alasan untuk diam: bergoyang, mengecap, lalu kembali mencari suapan berikutnya.
Sensasi itu bisa ditemukan di Java Baso Station Goyang Lidah “Mas Nano”, di Kios 3 Pasar Cikupa, Kabupaten Tangerang.
Bagi pencinta baso, tempat ini menawarkan pengalaman yang sedikit berbeda. Baso Mas Nano tidak sekadar mengandalkan bulatan daging yang kenyal. Tekstur dan rasa daging justru menjadi penanda utamanya.
Mas Nano, pemilik Java Baso Station Goyang Lidah, mengatakan adonan basonya dibuat dengan resep yang berbeda dari baso pada umumnya. Ia menggunakan daging pilihan dan tidak mencampurnya dengan tepung dalam jumlah banyak.
Dalam setiap 10 kilogram daging, kata dia, tepung yang digunakan hanya sekitar empat plastik. Tepung itu berfungsi sebagai penguat agar adonan tetap menyatu ketika dibentuk menjadi bola-bola baso.
“Tidak menggunakan bahan pengawet atau jenis bahan kimia lainnya, alias alami,” ujar Mas Nano.
Ketika dicicipi, karakter dagingnya terasa lebih menonjol. Gigitan pertama memberikan tekstur yang padat, disusul rasa gurih yang membuat satu baso terasa belum cukup.
Tak hanya baso, Java Baso Station juga menyediakan mi ayam. Hidangan ini menjadi pilihan bagi mereka yang ingin menyantap menu berkuah dengan cita rasa yang berbeda.
Setelah semangkuk baso atau mi ayam tandas, pilihan minuman dingin tersedia untuk menutup santapan. Segelas minuman menjadi penyeimbang setelah lidah diajak bergoyang oleh gurihnya bola-bola daging.
Bagi Mas Nano, kuncinya sederhana: daging yang dipilih dan resep yang dipertahankan. Bagi pembeli, hasil akhirnya lebih sederhana lagi—satu mangkuk habis, lalu muncul keinginan untuk memesan lagi. (*






