EsaiJejak Kata

Alun-alun Tigaraksa: Ketika ‘Skincare’ Ruang Publik Cuma Memoles Wajah

×

Alun-alun Tigaraksa: Ketika ‘Skincare’ Ruang Publik Cuma Memoles Wajah

Sebarkan artikel ini
ALun-alun Tigaraksa, ikon Kabupaten Tangerang yang terlihat tampak bersih dan estetis | Gambar: Dok. Istimewa

ESAI — Alun-alun Tigaraksa punya modal menjadi ikon Kabupaten Tangerang. Pengunjung berdatangan, pedagang menggelar dagangan, anak-anak mencari hiburan. Sayangnya, ada yang ikut meramaikan tanpa membeli tiket: sampah. Plastik dan bungkus makanan yang terlihat berserakan, jika tak tertangani, bisa membuat ruang publik ini lebih mirip pasar malam yang lupa dibereskan ketimbang etalase kabupaten.

Di kawasan Pusat Pemerintahan Kabupaten Tangerang (Puspemkab) itu, ekonomi rakyat memang berdenyut. Pedagang mencari nafkah, keluarga berburu jajanan murah, sementara pemerintah punya ruang untuk menggelar acara. Alun-alun menjadi tempat semua orang berharap kebagian rezeki. Termasuk, barangkali, tukang sapu yang mendapat pekerjaan tambahan setelah pengunjung pulang.

Tetapi keramaian rupanya bukan jaminan keindahan. Orang boleh berbondong-bondong datang. Namun, jika lapak tak tertata dan sampah tak segera diangkut, yang berkembang bukan cuma ekonomi, melainkan juga pekerjaan rumah tata ruang.

Alun-alun Bukan Lapak Raksasa

Pedagang kecil tentu bukan musuh keindahan. Mereka mencari makan, bukan sedang mengikuti lomba merusak pemandangan. Menertibkan mereka dengan cara mengusir juga bukan solusi yang bijak. Pemerintah Kabupaten Tangerang perlu menyediakan zona berdagang yang jelas, tertib, dan layak.

Namun, ruang publik bukan kavling pribadi yang bisa digunakan tanpa batas. Hak pedagang mencari nafkah perlu berjalan beriringan dengan hak pengunjung menikmati fasilitas umum.

Pemerintah perlu mempertemukan dua kepentingan: pedagang tetap berjualan, warga tetap nyaman berjalan. Jika keduanya terus dipertentangkan, yang berpeluang menang justru kesemrawutan.

Ikon Kabupaten, Bukan Latar Sampah

Tumpukan sampah di salah satu sudut Alun-alun Tigaraksa, Puspemkab Tangerang. Meskipun sudah ada imbauan, tetapi tetap saja, dijadikan tempat pembuangan sampah. Hal ini juga merusak estetika kawasan Alun-alun Tigaraksa yang merupakan salah satu ikon kebanggaan masyarakat Kabupaten Tangerang | Foto: Dok. Widi Hatmoko

Di era digital, alun-alun bukan sekadar tempat duduk sore. Ia juga panggung fotografi massal. Pengunjung datang, mengambil gambar, lalu mengunggahnya ke media sosial. Sebuah lokasi bisa menjadi tujuan wisata karena tampil menarik di layar ponsel.

Sayangnya, kamera tidak selalu bisa diajak berkompromi. Pepohonan yang asri bisa kalah mencolok oleh sampah yang berserakan. Papan nama megah pun kehilangan daya tarik jika dikelilingi lapak yang kurang tertata.

Kabupaten Tangerang tentu tak kekurangan gedung pemerintahan. Yang perlu dipikirkan ialah bagaimana ruang publiknya tampil estetis, bersih, dan nyaman. Jangan sampai pembangunan ikon lebih mudah dirayakan daripada pekerjaan merawatnya.

Penataan taman, pencahayaan, tempat duduk, drainase, dan fasilitas sampah semestinya menjadi bagian dari pengelolaan rutin. Bukan baru masuk agenda ketika pejabat hendak berkunjung atau kamera media datang. Sebab, sampah tidak mengenal jadwal kunjungan kerja.

Jangan Cuma Ramai, Bikin Betah

Alun-alun yang tertata bukan hanya memanjakan mata. Pengunjung yang nyaman berpotensi tinggal lebih lama. Pedagang pun mendapat kesempatan menjajakan dagangan tanpa harus berebut ruang dengan pejalan kaki. Kegiatan ekonomi dan kebersihan seharusnya bisa berjalan beriringan, bukan saling sikut.

Pemerintah juga perlu melibatkan pedagang dalam menjaga kebersihan. Sediakan tempat sampah yang memadai, atur jam operasional, dan terapkan aturan secara konsisten. Jangan sampai kebersihan hanya menjadi slogan di spanduk, sementara bungkus gorengan diam-diam mengincar posisi sebagai dekorasi permanen.

Pada akhirnya, keberhasilan Alun-alun Tigaraksa tak cukup dihitung dari jumlah pengunjung atau meriahnya panggung hiburan. Ukurannya juga terletak pada apakah warga bisa menikmati ruang publik tanpa harus berdamai dengan sampah dan kesemrawutan.

Tangerang tak kekurangan pengunjung. Yang dibutuhkan ialah pengelolaan agar alun-alun tak sekadar ramai, melainkan juga sedap dipandang dan nyaman digunakan. Sebab, ikon kabupaten semestinya membuat orang ingin berfoto karena keindahannya, bukan karena ingin mengabadikan bukti bahwa tempat wisata pun bisa kalah oleh bungkus gorengan. (*


Oleh: Jejak Kata

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *