SENI BUDAYA — Bambu punya nasib yang agak ironis. Ia tumbuh di kebun, menjadi pagar, bilik rumah, tampah, kursi, atau batang yang disandarkan begitu saja di sudut halaman. Ia begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari sampai-sampai sering dianggap tidak ada.
Bambu terlalu biasa untuk disebut istimewa. Anggapan itu hendak digugat di Priangan Bamboo Fest x Kriya 2026. Festival yang berlangsung pada 14–18 Oktober 2026 di Gedung Pusat Pengembangan Industri Kerajinan (PPIK), Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, tersebut mencoba membawa bambu keluar dari citra lama sebagai bahan anyaman.
Di tangan perajin, seniman, dan desainer, bambu diperlakukan sebagai material kreatif. Ia bisa menjadi furnitur, dekorasi rumah, perlengkapan dapur, fesyen, instalasi seni, bahkan produk yang dibidik untuk pasar yang lebih luas.
Festival yang digelar Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Priangan Timur itu mengusung gagasan transformasi bambu dari material tradisional menjadi bagian dari industri kreatif hijau.
Persoalannya memang bukan sekadar membuat bambu tampak cantik.
Ada desain yang mesti dipikirkan, kualitas yang harus dijaga, produksi yang perlu berkelanjutan, dan pasar yang harus dibaca. Bambu mungkin tumbuh tanpa banyak tuntutan. Tetapi ketika dijadikan komoditas, ia harus berhadapan dengan standar industri.
Dosen tetap di program studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Tomi Faisal Alim, yang terlibat dalam pengembangan perspektif kreatif bambu tersebut, melihat festival semacam ini sebagai ruang untuk mempertemukan gagasan akademik dengan praktik para pelaku industri.
Bambu, menurut perspektif tersebut, tidak cukup dipahami sebagai bahan kerajinan. Material ini memiliki kemungkinan desain, nilai ekonomi, sekaligus cerita budaya.
Sekitar 60 persen komposisi pameran dalam festival diarahkan pada produk kriya berbahan bambu dan serat alam. Sekitar 40 persen lainnya diisi produk kuliner khas lokal berkualitas.
Dua dunia yang tampak berbeda itu sebenarnya punya kesamaan: sama-sama mengandalkan tangan, ketekunan, pengetahuan, dan cerita tentang tempat asalnya.
Di ruang pamer, bambu akan muncul dalam berbagai rupa. Instalasi seni, furnitur, dekorasi rumah, perlengkapan dapur, fesyen, hingga produk anyaman dengan pendekatan baru akan dipertemukan dalam satu ruang.
Bambu yang selama ini hanya dipandang sebagai batang kini diberi kehidupan kedua sebagai objek desain.
Dari Anyaman ke Meja Transaksi
Festival tidak berhenti pada pameran. Workshop dan talkshow disiapkan untuk mempertemukan perajin, akademisi, pelaku industri, dan masyarakat. Topiknya mencakup teknik pengolahan, desain, hingga keberlanjutan.
Istilah “industri hijau” memang mudah diucapkan. Pelaksanaannya lain cerita.
Material yang disebut ramah lingkungan tetap membutuhkan proses produksi yang baik. Produk yang disebut berkelanjutan tetap memerlukan standar. Dan kerajinan yang hendak menembus pasar global harus berhadapan dengan kualitas, harga, kontinuitas produksi, desain, dan selera konsumen.
Karena itu, business matching menjadi salah satu bagian penting festival. Pelaku UMKM dipertemukan dengan investor dan calon pembeli dari sejumlah kota, seperti Bandung, Jakarta, Yogyakarta, hingga Cirebon.
Bambu tak lagi sekadar dipajang untuk dipandangi. Ia dibawa ke meja transaksi.
Di situlah ujian sebenarnya dimulai. Kreativitas tanpa pasar bisa berakhir sebagai benda cantik yang hanya memenuhi ruang pamer. Sebaliknya, pasar tanpa kreativitas berisiko membuat produk berhenti pada bentuk yang sama dari tahun ke tahun.
Festival juga menghadirkan pertunjukan seni dan budaya, termasuk hiburan rakyat serta seni tradisional Jawa Barat.
Kehadiran unsur budaya itu penting. Sebab bambu tidak datang dari ruang kosong.
Jauh sebelum ekonomi kreatif menjadi istilah yang akrab di ruang seminar, bambu sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Nusantara. Ia hadir dalam rumah, alat kerja, kesenian, upacara, dan berbagai kebutuhan sehari-hari.
Tantangannya kini adalah membawa bambu ke pasar modern tanpa mencabutnya dari akar budaya.
Bambu dan Masa Depannya
Priangan Bamboo Fest x Kriya 2026 mencoba membuka percakapan itu di Tasikmalaya. Bambu dipertemukan dengan perajin, desainer, akademisi, pengusaha, investor, pembeli, seniman, dan masyarakat.
Pertemuan tersebut melahirkan pertanyaan yang lebih besar: bisakah bambu menjadi bagian dari masa depan tanpa kehilangan masa lalunya?
Jawabannya tentu tidak cukup dicari di panggung festival. Ia harus diuji di bengkel perajin, meja desain, ruang produksi, pasar, dan rumah konsumen. Sebab bambu sebenarnya tidak perlu berubah menjadi sesuatu yang bukan dirinya. Yang perlu berubah adalah cara manusia memandangnya.
Dari batang menjadi gagasan. Dari anyaman menjadi desain. Dari kerajinan menjadi industri. Dari tradisi menjadi inovasi. Dan dari sesuatu yang selama ini tumbuh di pinggir halaman, bambu kini sedang mencari tempat baru: di tengah percakapan tentang masa depan ekonomi kreatif dan industri hijau. (*






