SENI – Di tengah panggung festival teater pelajar yang kian lengang, Teater Bada SMKN 3 Kota Tangerang memilih cara sendiri untuk menjaga api kesenian tetap menyala. Bukan dengan meratapi sepinya pertunjukan, melainkan menghadirkan kembali kisah klasik Ramayana melalui pementasan Kisah Cinta Rama dan Shinta.
Penonton berdesakan di salah satu pusat perbelanjaan di Kota Tangerang, Kamis, 5 November 2026. Kostum yang megah, properti panggung, dan tata artistik membawa mereka sejenak meninggalkan hiruk-pikuk pusat belanja menuju dunia mitologi yang sarat cinta, pengkhianatan, dan keraguan.
Bagi Teater Bada, pertunjukan ini bukan sekadar pementasan biasa. Karya tersebut menjadi produksi ke-98 sejak kelompok teater ini berdiri pada 2000. Selama 26 tahun, kelompok ekstrakurikuler SMKN 3 Kota Tangerang itu menjadi ruang bagi siswa untuk belajar mengenal panggung, mengasah kreativitas, sekaligus membangun keberanian berekspresi.
Pelatih Teater Bada, Medy Kesesi, mengatakan proses pementasan melibatkan persiapan panjang. Mulai dari penulisan naskah, tata panggung, properti, hingga kostum dan tata busana dirancang untuk membangun suasana cerita.
“Sudah 26 tahun Teater Bada eksis membina generasi muda melalui ekstrakurikuler di sekolah sebagai ruang berkreativitas. Mereka juga belajar menjadi pribadi yang berani tampil, berbicara, dan berekspresi penuh percaya diri di depan umum maupun di atas panggung,” ujar Medy.
Namun, Teater Bada tidak sekadar mengulang kisah Ramayana sebagaimana dikenal dalam cerita klasik. Tim penulis menghadirkan tafsir berbeda dengan menempatkan hubungan Rama, Shinta, dan Rahwana dalam sudut pandang yang lebih personal.
Rama yang selama ini dikenal sebagai sosok bijaksana dan penuh welas asih justru diperlihatkan memiliki keraguan terhadap kesucian dan ketulusan cinta Shinta. Setelah melalui berbagai peristiwa, Shinta harus menghadapi ujian yang menyakitkan: membuktikan kesetiaannya dengan memasuki kobaran api.
Adegan itu menjadi salah satu titik emosional pertunjukan. Api bukan sekadar properti dramatik, melainkan simbol pengorbanan seorang perempuan yang harus mempertaruhkan kehormatannya demi membuktikan sesuatu yang semestinya tidak perlu dipertanyakan.
Di sisi lain, keraguan Rama menghadirkan pertanyaan tentang kepercayaan dalam sebuah hubungan. Cinta yang seharusnya menjadi tempat berlindung justru berubah menjadi ruang penghakiman.
Penafsiran ulang tersebut membuat kisah mitologi berusia panjang itu terasa dekat dengan persoalan manusia masa kini. Bahwa kesetiaan tidak selalu cukup untuk menghapus prasangka, sementara pengorbanan tidak semestinya menjadi satu-satunya ukuran ketulusan.
Bagi para pemain yang sebagian besar berasal dari generasi Z, panggung menjadi ruang untuk menyampaikan gagasan sekaligus menguji kemampuan artistik. Mereka tidak hanya menghafal dialog, tetapi juga belajar membangun karakter, mengolah emosi, dan bekerja sebagai sebuah kelompok.
Medy berharap pementasan ini meninggalkan kesan lebih luas bagi perkembangan seni pertunjukan di Kota Tangerang. Sebab, di tengah minimnya panggung festival teater pelajar, keberadaan kelompok seperti Teater Bada menjadi pengingat bahwa kesenian sekolah masih memiliki denyut kehidupan.
Produksi ke-98 itu setidaknya menunjukkan satu hal: panggung boleh semakin jarang dibuka, tetapi semangat berkesenian tidak harus ikut ditutup. Selama masih ada anak muda yang bersedia berlatih, mengolah cerita, dan berdiri di hadapan penonton, teater pelajar belum benar-benar kehilangan masa depannya. (*






