JEJAK KATA, Banyumas – Perjalanan di wilayah Kabupaten Banyumas beberapa waktu lalu, menyisir satu perkampungan adat Desa Pekuncen, di wilayah Kecamatan Jatilawang. Masyarakat adat di desa ini adalah pewaris ajaran Kyai Bonokeling, dimana hidup adalah sebuah perjalanan duniawi untuk menuju keabadian.
Mereka mengkonstruksikan adat sebagai sendi utama organisasi sosial dengan keyakinan. Saat berbincang-bincang dengan Ketua Adat Komunitas Bonokeling, Kyai Sumitro, pria paruh baya ini menjelaskan, ada lima ajaran yang menjadi pedoman hidup masyarakat di kampung adat komunitas Bonokeling ini.
Pertama adalah japa atau doa, yaitu bersyukur dan memohon kepada Sang Pencipta. Kedua, srana. Menurut Sumitro, srana adalah usaha. Jadi hidup tidak hanya berdoa saja, tetapi harus dimbangi dengan usaha, sesuai apa yang menjadi tujuan hidup. Ketiga, laku atau prilaku, yaitu hubungan baik antara manusia dengan manusia dan manusia dengan Sang Pencipta, termasuk menjaga lingkungan di sekitar. Keempat, ilmu atau pengetahuan. Menurut Sumitro, ilmu atau pengetahuan adalah cara untuk mendapatkan apa yang menjadi tujuan hidup dengan sempurna, dimana di situ ada akal dan pikiran. Dan, yang kelima adalah tapa, yang dalam hal ini, kata Sumitro, hidup harus bisa mengendalikan diri dari segala hawa nafsu.
“Tapa atau mengendalikan hawa nafsu ini paling-paling sederhana lah, tidak perlu muluk-muluk, apa adanya,” ujar Kiayi Sumitro.
Lima ajaran ini lah, kata Sumitro, sebagai kunci menjadi manusia yang sempurna “Manages manunggaling kawula Gusti”, yaitu menjalin hubungan manusia dengan Sang Pencipta tidak melalui perantara apa pun.
Namun, tidak dipungkiri, kata Sumitro, arus modernisasi, cepat atau lambat bisa menggerus budaya turunan itu. Tetapi, sampai hari ini, masyarakat adat Bonokeling di Desa Pekuncen tersebut, masih tetap berpegang teguh untuk tidak melupakan tradisi. Hal ini dibuktikan dengan masih dilakukannya berbagai ritual tradisi yang sudah ratusan tahun turun-temurun.
Komunitas adat atau Wangsa Bonokeling ini memiliki tradisi yang hampir serupa dengan tradisi nyadran atau unggahan yang sama-sama berkunjung ke makam leluhur seperti yang biasa dilakukan umat muslim atau Islam Jawa setempat saat menjelang bulan Ramadan tiba. Karena pada dasarnya, masyarakat adat Bonokeling ini adalah penganut Islam, yaitu Islam Kejawen.
Ritual unggahan ini dilaksanakan rutin oleh anak cucu dari Kyai Bonokeling setiap tahun di hari Jumat yang bertepatan sebelum bulan Ramadan tiba. Ritual ini melibatkan hingga seribu penganut kepercayaan Bonokeling, tidak hanya di Desa Pekuncen, tetapi juga dari wilayah Kabupaten Cilacap dan Kabupaten Banyumas lainnya.
Ritual ini biasanya dilakukan pada pagi hari saat matahari baru muncul, dengan memulai dengan melakukan caos bekti atau yang berarti salam penghormatan pada para tokoh pemangku yang paling dihormati dalam rumah adat pasemuan. Ritual ini dimulai dari Desa Adiraja, sebuah desa kecil yang terletak di Kabupaten Cilacap yang masyarakatnya masih banyak menganut ajaran Wangsa Bonokeling.
Pada prosesi caos bekti, para penganut Bonokeling dari yang muda hingga yang tua, semua akan berjalan kaki puluhan kilometer menuju Desa Pekuncen yang ada di wilayah Kabupaten Banyumas.
Ritual jalan kaki ini adalah sebagai simbol napak tilas dari perjalanan leluhurnya, yaitu Kyai Bonokeling saat menyebarkan ajarannya. Dalam perjalanan ini, mereka biasanya memanggul wadah yang berisi sesaji dan uba rampe, berisi hasil panen dari ladang serta ternak mereka sebagai persembahan rasa syukur.
Selama prosesi tersebut, para kelompok itu akan dipimpin oleh ketua adat selama beberapa hari ke depan. Makam keramat Kyai Bonokeling, juga akan mendadak ramai dan diserbu oleh ribuan wangsanya. Semua desa akan ramai dan meriah sebuah hajatan agung tapi tetap sakral. Ritual ini juga disebut “perlon”.
Saat pertengahan malam hingga pagi tiba, suasana desa akan dipenuhi nyanyian tembang-tembang Jawa, yang berisi pujian-pujian atau perkataan baik yang dipanjatkan kepada Kyai Bonokeling.
Pada siang harinya, para pria dari wangsa ini akan berbondong-bondong menyembelih hewan ternak hasil mereka sebagai wujud persembahan yang dibawa dari desa Adiraja. Hasil bumi itu lalu dipersembahkan kepada sesama penganut Bonokeling dan memasaknya bersama-sama secara masal untuk dimakan bersama di sekitar area makam Kyai Bonokeling.
Yang unik dari prosesi penyembelihan hingga memasak gulai kambing ini, semua dilakukan oleh kaum pria. Hal ini sebagai simbol bahwa bahan makanan yang dimasak ini bersih, karena dimasak oleh kaum pria yang tidak memiliki masa kotoran, datang bulan atau haid.
Disaat para pria sibuk menyembeli hewan ternak, ratusan perempuan dengan berbalut kemban putih memasuki makam Kyai Bonokeling satu-persatu dengan khitmad. Para perempuan akan membasuh anggota badannya satu-persatu, mulai dari kaki, tangan, wajah sambil mengucap doa atau mantra yang dipercaya akan membawa keberkahan.
Lalu mereka akan duduk sambil mengatupkan kedua telapak tangan yang diangkat tinggi oleh mereka. Hal itu bertujuan menghaturkan kehormatan di depan makan keramat. Dalam kepercayan Bonokeling, perempuan mempunyai kedudukan yang lebih dihormati daripada pria. Hal itu lantaran wanita dianggap perwujudan ibu bumi yang menghasilkan keturunan anak cucu pengikut Bonokeling hingga saat ini. Sebab itu, kedudukan wanita dalam kepercayaan kejawen kuno ini sangatlah dihormati.
Setelah rampung seluruh tradisi dan prosesi ziarah, seluruh anggota Komunitas Adat Bonokeling akan makan bersama di kompleks makam Kyai Bonokeling. Baru pada keesokan harinya, warga Bonokeling yang berasal dari Cilacap akan kembali lagi ke rumahnya masing-masing dengan tetap berjalan kaki. (*






