BELAKANGAN ini, media sosial Indonesia dipenuhi potongan video dan kutipan pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai melemahnya rupiah terhadap dolar Amerika. Kalimat seperti “orang desa tidak pakai dolar” dan “rakyat tidak bermimpi kaya raya” menyebar begitu cepat di TikTok, X, Instagram, hingga grup WhatsApp keluarga. Dalam hitungan jam, ucapan itu berubah menjadi perdebatan nasional. Sebagian orang mencoba memahaminya sebagai candaan atau cara pemerintah meredakan kepanikan publik. Namun bagi sebagian masyarakat lain, terutama generasi muda yang hidup di tengah tekanan ekonomi, ucapan itu justru terasa menyakitkan dan kehilangan empati.
Sebab Rakyat Lelah
Mereka lelah melihat harga kebutuhan perlahan naik tanpa bisa dicegah. Lelah mendengar kabar PHK yang datang hampir setiap minggu. Lelah hidup di tengah ketidakpastian ekonomi yang membuat masa depan terasa semakin kabur. Anak muda sibuk mencari pekerjaan yang semakin sulit didapatkan. Orang tua sibuk memikirkan biaya hidup yang terus meningkat. Bahkan banyak mahasiswa mulai merasa takut memikirkan dunia setelah lulus kuliah karena lapangan kerja semakin sempit sementara kebutuhan hidup semakin mahal.
Dalam kondisi seperti itu, masyarakat tentu berharap pemimpinnya hadir membawa rasa tenang. Bukan sekadar lewat kebijakan, tetapi juga melalui kata-kata yang mampu menunjukkan bahwa keresahan rakyat benar-benar dipahami.
Namun yang Terjadi Justru Sebaliknya
Pernyataan “orang desa tidak pakai dolar” dianggap banyak orang terlalu menyederhanakan persoalan ekonomi yang sebenarnya jauh lebih kompleks. Memang benar masyarakat desa tidak bertransaksi menggunakan dolar secara langsung. Akan tetapi, kehidupan mereka tetap bergantung pada kondisi ekonomi global. Petani membeli pupuk yang sebagian bahan bakunya dipengaruhi impor. Nelayan membeli bahan bakar yang harganya mengikuti situasi internasional. Pedagang kecil membeli barang dagangan yang biaya distribusinya terus meningkat ketika rupiah melemah.
Mereka mungkin tidak pernah memegang dolar di tangan, tetapi dampaknya tetap masuk ke dapur rumah mereka.
Inilah yang membuat sebagian publik merasa kecewa. Karena ucapan tersebut terasa seperti melihat ekonomi hanya dari permukaan, sementara rakyat kecil harus menghadapi dampaknya secara nyata setiap hari. Di saat masyarakat sedang cemas, candaan seperti itu justru terdengar seperti bentuk ketidakpekaan dari orang yang seharusnya paling memahami kondisi rakyatnya sendiri.
Padahal, melemahnya rupiah bukan persoalan kecil. Ketika nilai tukar rupiah turun terhadap dolar, harga barang impor meningkat, biaya produksi naik, dan harga kebutuhan sehari-hari ikut terdorong. Dampaknya mungkin tidak datang secara tiba-tiba, tetapi perlahan menekan kehidupan masyarakat dari berbagai sisi. Mulai dari harga makanan, biaya transportasi, pendidikan, hingga kebutuhan rumah tangga lainnya.
Dan seperti biasa, kelompok yang paling merasakan dampaknya adalah rakyat kecil.
Ironisnya, di tengah situasi seperti ini, publik justru merasa pemerintah lebih sibuk menenangkan keadaan lewat pernyataan-pernyataan yang terdengar ringan dibanding benar-benar menunjukkan empati terhadap keresahan masyarakat. Padahal, dalam kondisi ekonomi yang tidak stabil, rakyat tidak selalu menuntut jawaban sempurna. Kadang mereka hanya ingin didengar. Ingin diyakinkan bahwa rasa takut mereka dianggap nyata.
Di era media sosial hari ini, ucapan seorang pemimpin tidak pernah benar-benar berhenti di podium pidato. Satu kalimat bisa dipotong, diunggah ulang, lalu berubah menjadi opini publik nasional hanya dalam beberapa jam. Kata-kata seorang presiden kini memiliki dampak yang jauh lebih besar dibanding sebelumnya. Bukan hanya karena posisinya sebagai kepala negara, tetapi karena masyarakat sekarang semakin kritis terhadap cara kekuasaan berbicara.
Generasi muda hari ini tidak hanya memperhatikan kebijakan pemerintah, tetapi juga sensitivitas pemimpinnya. Mereka ingin melihat apakah seorang pemimpin benar-benar memahami realitas kehidupan rakyat biasa atau justru terlalu jauh dari kehidupan masyarakat sehari-hari. Ketika komunikasi terasa tidak sensitif, rasa percaya publik pun perlahan mulai melemah.
Banyak masyarakat kemudian membandingkan situasi sekarang dengan masa kepemimpinan B. J. Habibie. Nama Habibie kembali ramai dibicarakan bukan semata karena keberhasilannya menghadapi krisis ekonomi, tetapi karena cara beliau memperlakukan rakyat lewat kata-kata dan sikapnya. Di tengah situasi Indonesia yang pernah berada di titik paling sulit setelah krisis 1998, Habibie hadir dengan cara bicara yang tenang, hati-hati, dan penuh penghormatan terhadap kecemasan masyarakat.
Habibie tidak pernah dikenal sebagai sosok yang gemar melontarkan candaan di tengah keresahan publik. Ia berbicara dengan bahasa yang menenangkan, intelektual, tetapi tetap terasa dekat dengan rakyat. Ketika masyarakat sedang takut, ia tidak mengecilkan rasa takut itu. Justru ia berusaha membuat rakyat percaya bahwa negara masih memiliki arah dan harapan.
Mungkin itulah alasan mengapa sampai hari ini nama Habibie masih begitu dihormati banyak orang. Bukan hanya karena kecerdasannya, tetapi karena masyarakat merasa dihargai sebagai manusia ketika beliau berbicara.
Tentu membandingkan dua zaman tidak bisa dilakukan secara sederhana. Tantangan ekonomi global hari ini jauh lebih rumit dibanding era reformasi. Dunia sedang menghadapi ketidakpastian geopolitik, konflik internasional, hingga tekanan ekonomi global yang memengaruhi hampir seluruh negara, termasuk Indonesia. Namun satu hal yang tidak pernah berubah adalah harapan rakyat terhadap pemimpinnya.
Rakyat Selalu Ingin Merasa Dipahami
Fenomena viralnya pernyataan ini juga menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia semakin sadar bahwa komunikasi politik memiliki pengaruh besar terhadap stabilitas sosial. Kata-kata pemimpin bisa menjadi penenang, tetapi juga bisa menjadi sumber kekecewaan publik. Dalam situasi ekonomi yang sensitif, masyarakat membutuhkan lebih dari sekadar optimisme kosong atau candaan politik. Mereka membutuhkan kejujuran, ketenangan, dan empati.
Pada akhirnya, persoalan ini bukan hanya tentang dolar atau nilai tukar rupiah. Persoalan sebenarnya adalah tentang bagaimana seorang pemimpin membangun hubungan emosional dengan rakyatnya sendiri. Dalam situasi ekonomi yang sulit, masyarakat tidak membutuhkan sosok yang terdengar paling kuat. Mereka membutuhkan pemimpin yang mampu memahami rasa cemas rakyat tanpa harus meremehkannya.
Karena rupiah yang melemah mungkin masih bisa diperbaiki lewat kebijakan ekonomi.
Namun ketika empati mulai hilang dari cara pemimpin berbicara kepada rakyatnya, yang ikut melemah bukan hanya mata uang negara—melainkan juga kepercayaan masyarakat.
Dan ketika kepercayaan itu hilang, proses memulihkannya sering kali jauh lebih sulit daripada menguatkan kembali nilai rupiah itu sendiri.
PENULIS:
Ika Rahayu
Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA






