Wisata dan Kuliner

Kota Kecil Lasem dan Jejak Dua Peradaban dalam Selembar Kain

×

Kota Kecil Lasem dan Jejak Dua Peradaban dalam Selembar Kain

Sebarkan artikel ini
Salah seorang pengusaha Batik Lasem menunjukkan karya kebanggaannya | Foto: Widi. Hm

JEJAK KATA, Lasem — Di pesisir utara Jawa Tengah, tepatnya di Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, selembar kain tak hanya menjadi karya seni. Ia menyimpan jejak pelayaran, perjumpaan budaya, hingga kisah perjuangan yang diwariskan lintas generasi.

Nama Lasem mungkin tidak sepopuler Solo, Yogyakarta, atau Pekalongan sebagai pusat batik Nusantara. Namun, kota kecil yang pernah menjadi pelabuhan penting di pesisir Jawa ini memiliki identitas yang berbeda. Batik Lasem lahir dari pertemuan dua peradaban besar—Jawa dan Tiongkok—yang telah berlangsung selama berabad-abad.

Sejak abad ke-14, Lasem menjadi salah satu titik persinggahan para pedagang dari Tiongkok. Sebagian menetap, membangun keluarga, dan hidup berdampingan dengan masyarakat lokal. Dari perjumpaan itulah tumbuh sebuah kebudayaan baru yang tidak menghapus akar masing-masing, melainkan saling memperkaya.

Jejak akulturasi itu masih mudah ditemukan hingga kini. Klenteng-klenteng tua berdiri kokoh di antara permukiman, rumah-rumah bergaya Tionghoa menghiasi sudut kota, sementara aroma sejarah terasa kuat di setiap gang yang menghubungkan kawasan tua Lasem.

Warisan itu kemudian diterjemahkan para perajin ke dalam batik. Berbeda dengan batik pedalaman yang didominasi warna-warna lembut, Batik Lasem tampil berani dengan warna merah menyala yang dikenal sebagai merah darah ayam, dipadukan biru, hijau, dan warna-warna cerah lainnya. Motif naga, burung hong, bunga peoni, hingga ornamen khas pesisir berpadu harmonis dengan filosofi Jawa.

Namun, Batik Lasem tidak hanya berbicara tentang keindahan. Di balik setiap motif, tersimpan cerita yang merekam perjalanan masyarakatnya.

Salah satunya adalah motif Watu Pecah atau Krica’an. Motif ini lahir dari memori kolektif masyarakat atas pembangunan Jalan Raya Pos Anyer–Panarukan pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Herman Willem Daendels, sekitar 1808–1811.

Pembangunan jalan sepanjang Pulau Jawa itu dilakukan melalui kerja paksa. Di wilayah Lasem, banyak warga dipaksa memecah batu dan bekerja dalam kondisi yang berat. Tidak sedikit yang kehilangan nyawa. Pecahan batu yang kemudian menjadi inspirasi motif Watu Pecah menjadi simbol ketabahan sekaligus pengingat bahwa batik juga dapat menjadi media untuk merekam sejarah.

Ada pula motif Sekar Jagad atau yang dikenal sebagai Batik Tiga Negeri, yang mencerminkan keberagaman budaya pesisir. Setiap guratan seolah menggambarkan bagaimana perbedaan dapat berpadu menjadi sebuah karya yang utuh.

Hingga kini, tradisi membatik masih hidup di sejumlah kampung batik di Lasem, seperti Desa Pohlandak, Karaskepoh, Doropayung, hingga Karangturi. Di Desa Karangturi, terdapat Rumah Merah, salah satu rumah batik yang tidak hanya memproduksi kain, tetapi juga membuka ruang belajar bagi siapa saja yang ingin mengenal proses membatik secara langsung.

Di tempat ini, pengunjung dapat menyaksikan bagaimana malam ditorehkan di atas kain, bagaimana warna-warna alami menyatu menjadi motif, sekaligus mendengar kisah panjang Lasem yang menghubungkan perdagangan maritim, kolonialisme, hingga lahirnya salah satu batik paling khas di Indonesia.

Mengunjungi Lasem bukan sekadar berburu kain batik. Perjalanan ke kota kecil ini adalah kesempatan membaca sejarah melalui selembar kain, memahami bagaimana perbedaan budaya dapat melahirkan harmoni, dan menyadari bahwa warisan budaya bukan hanya untuk dikenakan, tetapi juga untuk dipahami dan dijaga. Di Lasem, setiap helai batik adalah halaman sejarah yang masih terus ditulis hingga hari ini. (*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *