Liputan

Ups! Jam Dinas ASN Masih Betah Nongkrong di Kafe Kawasan Puspemkab Tangerang

×

Ups! Jam Dinas ASN Masih Betah Nongkrong di Kafe Kawasan Puspemkab Tangerang

Sebarkan artikel ini
Sejumlah pria mengenakan seragam ASN sedang asik menikmati kudapan di salah satu cafe Kawasan Puspemkab Tangerang

JEJAK KATA, Tangerang — Di atas kertas, Senin siang adalah waktu bekerja. Berkas seharusnya berpindah dari satu meja ke meja lain, pelayanan publik berjalan, dan ruang-ruang kantor dipenuhi aktivitas aparatur negara. Namun, di salah satu kafe di kawasan Pusat Pemerintahan Kabupaten (Puspemkab) Tangerang, pemandangan yang tersaji justru menghadirkan ironi yang sudah lama dianggap biasa.

Sekitar pukul 14.05 WIB, Senin (27/7/2026), sejumlah orang mengenakan seragam Aparatur Sipil Negara (ASN) terlihat duduk santai. Secangkir kopi, obrolan ringan, dan suasana kafe seolah lebih menarik daripada meja kerja yang semestinya menjadi tempat mereka mengabdi.

Fenomena itu bukan cerita baru. Ia muncul berulang kali, nyaris menjadi rutinitas yang tak lagi mengejutkan.

Bagi sebagian orang, menikmati kopi bukanlah kesalahan. Persoalannya menjadi berbeda ketika aktivitas itu berlangsung pada jam kerja, dengan seragam dinas yang melekat di badan. Seragam negara bukan sekadar pakaian, melainkan simbol tanggung jawab yang dibiayai oleh uang rakyat.

Seorang warga, Gismaya (30), mengaku hampir setiap hari menyaksikan pemandangan serupa di kawasan Puspemkab Tangerang. Menurutnya, aparat yang berwenang semestinya tidak menutup mata terhadap kebiasaan tersebut.

“Hampir setiap hari ada saja ASN yang nongkrong di kafe dan warung kopi saat jam kerja,” katanya.

Ia bahkan mengaku pernah melihat aparatur berseragam datang sejak pukul 09.00 WIB dan baru meninggalkan kafe sekitar pukul 11.00 WIB. Mereka, kata Gismaya, mengenakan seragam lengkap beserta atribut Pemerintah Kabupaten Tangerang, seolah tidak ada yang perlu disembunyikan.

Pemandangan itu menyisakan pertanyaan yang sederhana, tetapi penting: apakah jam kerja telah berubah menjadi jam bersantai, atau pengawasan yang mulai kehilangan daya?

Ironinya, lokasi kafe tersebut berada tidak jauh dari pusat pemerintahan. Di satu sisi, pemerintah terus berbicara tentang reformasi birokrasi, peningkatan disiplin, dan pelayanan publik yang prima. Di sisi lain, masyarakat masih disuguhi aparatur yang tampak menikmati waktu dinas di balik secangkir kopi.

Tentu tidak adil jika semua pegawai disamaratakan. Bisa saja sebagian dari mereka sedang menjalankan tugas luar, melakukan rapat informal, atau berkoordinasi dengan pihak lain. Namun, ketika kebiasaan itu terlihat hampir setiap hari dan berlangsung dalam waktu yang lama, ruang bagi prasangka publik menjadi semakin lebar.

Kepercayaan masyarakat terhadap birokrasi tidak hanya dibangun melalui slogan pelayanan atau baliho motivasi di halaman kantor pemerintahan. Ia dibangun dari hal-hal sederhana: kehadiran aparatur di tempat tugas, disiplin terhadap jam kerja, dan keteladanan dalam mematuhi aturan yang mereka sendiri jalankan.

Mungkin secangkir kopi memang tidak akan menguras anggaran negara. Namun, jika waktu kerja ikut larut bersama obrolan di kafe, yang perlahan terkikis bukan hanya produktivitas, melainkan juga kepercayaan publik. (*

Sebab pada akhirnya, masyarakat tidak sedang menghitung berapa gelas kopi yang diminum para aparatur. Mereka hanya ingin memastikan bahwa ketika negara membayar jam kerja pegawainya, yang hadir adalah pelayanan—bukan sekadar kursi kosong di kantor dan meja penuh di kafe. (*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *