JEJAK KATA, Tangerang—Ada aroma ikan bakar yang mengepul dari sebuah rumah makan sederhana di Jalan Columbus, Kelurahan Sukamulya, Kecamatan Cikupa, Kabupaten Tangerang. Di balik kepulan asap itu, tersimpan sebuah kisah yang menempuh ratusan kilometer dari Pulau Sumatra menuju kawasan penyangga Jakarta.
Namanya Rumah Makan Bang Rubi. Bagi sebagian orang, tempat ini hanyalah lokasi makan siang. Namun bagi warga Lampung yang merantau, semangkuk sambal, sepotong ikan bakar, dan sepiring lalapan di sini adalah jalan pulang menuju kenangan.
Menu andalannya adalah seruit—atau dalam dialek setempat kerap disebut sekhuit—kuliner tradisional yang telah lama menjadi identitas masyarakat Lampung. Hidangan ini tampak sederhana: ikan sungai atau ikan laut yang digoreng maupun dibakar, lalu dipadukan dengan sambal terasi, tempoyak hasil fermentasi durian atau irisan mangga muda, ditemani aneka lalapan segar. Namun di balik kesederhanaannya tersimpan filosofi yang jauh lebih kaya daripada sekadar perpaduan rasa.
Di Lampung, seruit bukan hanya makanan. Ia adalah tradisi yang dikenal sebagai nyeruit, kebiasaan makan bersama keluarga, tetangga, maupun kerabat dalam satu hamparan hidangan. Kata nyeruit sendiri bermakna berkumpul dan menikmati makanan secara bersama-sama, sebuah budaya yang lahir dari kehidupan masyarakat agraris dan tepian sungai yang mengandalkan hasil tangkapan ikan sebagai sumber pangan utama.
Dahulu, ikan-ikan seperti belida, baung, layis, hingga nila menjadi hasil tangkapan yang kemudian dibakar atau digoreng sebelum disantap bersama sambal terasi. Kehadiran tempoyak atau mangga muda memberikan karakter rasa yang unik: pedas, gurih, asam, sekaligus segar dalam satu suapan. Kombinasi itulah yang membuat seruit tetap bertahan melintasi zaman.
Tradisi nyeruit juga menyimpan pesan sosial yang kuat. Orang-orang duduk melingkar tanpa sekat, menikmati makanan dari wadah yang sama. Tidak ada kursi paling tinggi atau piring paling mewah. Semua orang memiliki posisi yang setara. Kebersamaan menjadi bumbu utama yang tidak pernah tertulis dalam resep, tetapi selalu hadir di setiap jamuan.
Hingga kini, seruit masih menjadi hidangan penting dalam berbagai acara adat Lampung, mulai dari pesta pernikahan, syukuran, hingga pertemuan keluarga besar. Ia menjadi simbol persaudaraan sekaligus warisan budaya yang terus dipertahankan oleh masyarakat Lampung, termasuk mereka yang hidup jauh dari kampung halaman.
Semangat itulah yang coba dihadirkan Bang Rubi di Cikupa. Di rumah makan ini, setiap pesanan dimasak setelah pelanggan datang. Ikan dibakar atau digoreng saat itu juga, sementara lalapan disiapkan dalam kondisi segar. Cara penyajian yang serba dadakan memang membuat pengunjung perlu sedikit bersabar, tetapi justru menghadirkan pengalaman bersantap yang lebih autentik.
Bagi yang tidak ingin menunggu lama, pemesanan lebih awal menjadi pilihan bijak. Sebab, kesegaran bahan menjadi bagian penting dari cita rasa seruit itu sendiri.
Sebagai pelengkap, tersedia pula segelas serbat berbahan mangga kweni yang harum dan menyegarkan. Minuman tradisional ini menjadi penyeimbang sempurna setelah menikmati sensasi pedas dan gurih sambal seruit.
Di tengah pesatnya pertumbuhan kawasan Cikupa, Curug, Panongan, Tigaraksa, hingga CitraRaya, kehadiran Rumah Makan Bang Rubi menghadirkan lebih dari sekadar alternatif makan siang. Tempat ini menjadi ruang kecil tempat sebuah tradisi tetap hidup, mempertemukan rasa, kenangan, dan kebersamaan di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern.
Pada akhirnya, seruit mengajarkan bahwa makanan terbaik bukan selalu yang paling mahal atau paling rumit. Kadang, ia hanyalah seekor ikan bakar, sambal yang diracik dengan tangan, serta orang-orang yang duduk bersama menikmati setiap suapan. Sebab, seperti filosofi nyeruit yang diwariskan turun-temurun, kelezatan sejati lahir ketika makanan menjadi alasan untuk berkumpul, berbagi cerita, dan merawat persaudaraan. (*






