Jejak KataWisata dan Kuliner

Masjid Saka Tunggal: Ketika Kera, Mitos, dan Jejak Islam Tua Bertemu di Cikakak

×

Masjid Saka Tunggal: Ketika Kera, Mitos, dan Jejak Islam Tua Bertemu di Cikakak

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI: Pak Sulam, Juru Kunci Masjid Saka Tunggal, Cikakak, Banyumas

JEJAK KATA, Banyumas — Kera ekor panjang menjadi pemandangan yang tak lazim di sekitar Masjid Saka Tunggal Baitussalam, Desa Cikakak, Kecamatan Wangon, Banyumas, Jawa Tengah. Mereka turun dari pepohonan, berkeliaran di halaman masjid, bahkan sesekali mendekati rumah warga.

Hewan liar itu telah lama hidup berdampingan dengan masyarakat. Pengunjung biasanya cukup membawa kacang, pisang, atau makanan kecil untuk menarik perhatian mereka. Kera-kera tersebut dikenal jinak selama tidak diganggu.

Di tengah komunitas kera itu berdiri sebuah bangunan tua yang menyimpan mitos lebih panjang daripada usia banyak bangunan di sekitarnya. Masyarakat setempat mempercayai Masjid Saka Tunggal sebagai salah satu masjid tertua di Indonesia—bahkan disebut telah berdiri sebelum masa Wali Sanga.

Juru kunci Masjid Saka Tunggal, Pak Sulam, menjadi salah satu orang yang merawat pengetahuan dan tradisi yang melekat pada masjid tersebut.

Nama Saka Tunggal berasal dari tiang utama bangunan yang dahulu hanya berjumlah satu. Pada tiang itu tercantum angka tahun 1288 Masehi atau 687 Hijriah. Tahun tersebut menjadi dasar bagi keyakinan masyarakat mengenai usia masjid.

Persoalannya, bukti sejarah tidak seluruhnya tinggal bersama bangunan. Kitab-kitab yang disebut ditulis atau ditinggalkan pendiri masjid, Kiai Mustolih, telah hilang bertahun-tahun lalu.

Di situlah sejarah dan mitos bertemu: sebuah angka pada kayu menjadi penanda usia, sementara cerita yang diwariskan masyarakat menjadi perekat ingatan.

Kawasan Masjid Saka Tunggal, Cikakak, Banyumas | FOTO: Dok. Dinas Pemuda Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata Banyumas

Dari Tempat Dakwah hingga RuangTtradisi

Masjid ini dikaitkan dengan Kiai Mustolih, tokoh yang disebut datang dan menetap cukup lama di Cikakak untuk berdakwah. Pada masa itu, masyarakat setempat disebut masih banyak menjalankan praktik yang dianggap menyimpang dari ajaran Islam.

Masjid kemudian dibangun sebagai pusat dakwah. Namanya Saka Tunggal Baitussalam.

Namun, yang membuat masjid ini menarik bukan semata soal umur. Bangunannya memperlihatkan bagaimana Islam berjumpa dengan kebudayaan Jawa tanpa harus menghapus seluruh jejak tradisi sebelumnya.

Atapnya menggunakan sirap kayu. Dinding awalnya berupa kayu dan anyaman bambu sebelum kemudian ditambahkan dinding bata sebagai bagian dari pemeliharaan bangunan.

Di bagian dalam, anyaman bambu digunakan sebagai sekat dan plafon. Kolom utama dibuat dari kayu solid tanpa sambungan. Ukurannya sekitar 24 sentimeter persegi pada bagian pangkal.

Tiang itu dihiasi ukiran flora dan empat bentuk menyerupai sayap. Ornamen tersebut dikaitkan dengan konsep papat kiblat lima pancer—empat penjuru mata angin dengan satu pusat.

Pada mimbar terdapat ukiran dua surya mandala yang dimaknai sebagai dua pedoman umat Islam: Al-Qur’an dan Hadis.

Masjid itu seperti menyimpan dua bahasa sekaligus. Bahasa Islam hadir melalui simbol keagamaan, sedangkan bahasa Jawa bertahan melalui bentuk, ornamen, dan tradisi.

Azan Tanpa Pengeras Suara

Keunikan Saka Tunggal semakin terasa ketika Jumat tiba. Jamaah masih mempertahankan tradisi zikir dan selawat dengan nada yang menyerupai kidung Jawa. Tradisi itu dikenal sebagai ura-ura, menggunakan perpaduan bahasa Arab dan Jawa.

Imam tidak mengenakan peci atau kopiah seperti yang lazim ditemui di banyak masjid. Ia menggunakan udeng, ikat kepala khas Jawa. Khotbah pun disampaikan dengan langgam menyerupai kidung.

Ada pula empat muazin yang mengenakan pakaian serupa: baju putih berlengan panjang dan udeng bermotif batik. Keempatnya mengumandangkan azan secara bersamaan.

Tidak ada pengeras suara. Di tengah zaman ketika suara azan bisa menjangkau kampung melalui perangkat elektronik, Saka Tunggal memilih mempertahankan cara lama. Suara empat muazin menjadi pengeras suara alami yang mengandalkan kekuatan manusia dan ruang terbuka.

Rangkaian salat Jumat juga dilakukan secara berjamaah, mulai dari Tahiyatul Masjid, Qabliyah Jumat, salat Jumat, Ba’diyah Jumat, salat Zuhur hingga Ba’diyah Zuhur.

Tradisi itu bukan sekadar tontonan bagi wisatawan. Ia merupakan bagian dari identitas komunitas Islam Aboge Cikakak yang tumbuh bersama masjid tersebut.

Kera ekor panjang berinteraksi dengan warga di sekitar Masjid Saka Tunggal, Cikakak, Banyumas, Jawa Tengah | FOTO. Dok. Dinas Pemuda Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata Banyumas

Kera, Masjid, dan Ingatan yang Dirawat

Di luar bangunan, kera-kera ekor panjang tetap menjadi penghuni kawasan. Mereka tidak memiliki jadwal kunjungan, tidak mengenal pagar destinasi wisata, dan tentu saja tidak memahami batas antara halaman masjid dengan rumah warga. Mereka datang dan pergi mengikuti naluri.

Kehadiran mereka kemudian menjadi bagian dari wajah Saka Tunggal. Bagi pengunjung, kera mungkin menjadi atraksi. Bagi masyarakat, keberadaan mereka telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Masjid, kera, hutan, tradisi Islam dan kebudayaan Jawa akhirnya membentuk satu lanskap yang sulit dipisahkan.

Di tempat seperti ini, usia bangunan bukan satu-satunya ukuran penting. Yang lebih menarik adalah bagaimana sebuah komunitas mempertahankan ingatan. Setiap 27 Rajab, masyarakat menggelar pergantian jaro sekaligus membersihkan makam Kiai Mustolih. Ritual itu menjadi salah satu cara untuk menjaga hubungan dengan masa lalu.

Saka Tunggal pun terus berdiri. Kayunya menua, dindingnya dipelihara, tradisinya diwariskan. Di sekelilingnya, kera-kera ekor panjang tetap turun dari pepohonan.

Sejarah mungkin kehilangan sebagian kitabnya. Tetapi di Cikakak, ingatan tidak seluruhnya bergantung pada buku. Ia tinggal di tiang kayu, ukiran mimbar, suara empat muazin, kidung dalam zikir, makam seorang pendakwah, dan kawanan kera yang masih berkeliaran di halaman masjid.

Di situlah mitos bekerja: bukan selalu untuk menggantikan sejarah, melainkan untuk membuat sebuah tempat terus diingat. (*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *