Liputan

Dari Filosofi Tumpeng, Warga Gang Flamboyan Empat Memaknai Kemerdekaan

×

Dari Filosofi Tumpeng, Warga Gang Flamboyan Empat Memaknai Kemerdekaan

Sebarkan artikel ini
Berdoa, potong tumpeng dan makan bersama: cara warga Gang Flamboyan 4, Perumahan Mekar Asri II dalam menyambut dan memaknai Kemerdekaan

JEJAK KATA, Tangerang — Malam 17 Agustus 2026, sebuah tumpeng berdiri di tengah Gang Flamboyan 4, RT 03/RW 06, Perumahan Mekar Asri 2, Mekar Bakti, Panongan, Kabupaten Tangerang.

Tak ada panggung megah. Tak ada pidato berapi-api. Warga cukup berkumpul, berdoa, memotong tumpeng, lalu makan bersama.

Dari gang kecil itu, kemerdekaan dirayakan dengan cara yang barangkali paling tua sekaligus paling sederhana: guyub rukun.

Tumpeng bukan sekadar nasi yang dibentuk kerucut dan dikelilingi lauk-pauk. Dalam tradisi Jawa, ia sarat simbol. Bentuknya mengingatkan pada gunung sebagai perlambang tempat yang tinggi dan sakral. Puncaknya mengarah ke atas, seolah mengingatkan manusia kepada Tuhan.

Nasi putih menyiratkan kesucian niat. Ayam ingkung menggambarkan ketulusan dan kepasrahan. Telur mengingatkan pada kesempurnaan dan kesetaraan manusia. Ikan teri yang bergerombol menjadi simbol kebersamaan. Sayuran menyiratkan kesuburan dan panjang umur.

Semua berkumpul dalam satu tampah. Di situlah tumpeng menjadi lebih dari makanan. Ia seperti sebuah pelajaran sosial yang bisa dimakan bersama-sama.

Dalam pemaknaan populer masyarakat Jawa, tumpeng dikaitkan dengan tumapaking urip—menapaki jalan kehidupan—dan yen metu kudu mempeng: ketika sudah lahir ke dunia, harus bersungguh-sungguh menjalani kehidupan.

Wejangan itu terasa pas untuk sebuah perayaan kemerdekaan. Sebab merdeka bukan pekerjaan sekali jadi. Setelah penjajahan berakhir, pekerjaan berikutnya justru lebih rumit: bagaimana kehidupan bersama dijalankan dengan adil, bagaimana kesejahteraan dibagikan, dan bagaimana perbedaan tidak berubah menjadi pertengkaran.

Warga Flamboyan 4 memilih menjawabnya dengan gotong royong.

Ada yang menyiapkan makanan, ada yang mengatur tempat, ada yang membawa perlengkapan. Setelah doa selesai, batas-batas sosial seperti luruh. Semua duduk bersama. Semua mengambil bagian.

Rukun agawe santosa, crah agawe bubrah. Kerukunan membuat kehidupan kuat. Perselisihan membuat semuanya berantakan.

Kalimat Jawa itu mungkin terdengar kuno. Namun republik yang telah berusia 81 tahun masih membutuhkan nasihat semacam itu.

Slogan HUT ke-81 Kemerdekaan RI, “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”, tidak cukup menjadi hiasan spanduk. Ia harus terasa dalam kehidupan sehari-hari: rasa aman, kebutuhan yang terjangkau, pekerjaan yang layak, pelayanan publik yang tidak menyusahkan, serta hukum yang berlaku tanpa pandang bulu.

Di Flamboyan 4, harapan itu disampaikan melalui doa. Warga memanjatkan permohonan agar lingkungan mereka tenteram, aman, sejahtera, dan tetap rukun.

Ada pula wejangan lain: eling lan waspada—ingat dan waspada. Mengingat bahwa kemerdekaan adalah amanah. Waspada agar kepentingan bersama tidak dikalahkan oleh ego pribadi.

Bagi mereka yang memegang kekuasaan, ada nasihat yang lebih pendek: aja dumeh. Jangan mentang-mentang. Jangan karena memiliki jabatan lalu merasa lebih tinggi. Jangan karena memiliki kuasa lalu lupa bahwa kekuasaan pada akhirnya akan kembali kepada rakyat.

Tumpeng kemudian dipotong. Bagian puncaknya diberikan sebagai simbol penghormatan dan rasa syukur. Setelah itu, makanan dibagi.

Barangkali di situlah inti kemerdekaan yang sering luput dari pidato: berbagi. Republik tidak selalu membutuhkan kalimat besar untuk membuktikan persatuan. Kadang ia cukup dimulai dari meja makan—dari orang-orang yang bersedia duduk berdampingan meski berbeda latar belakang.

Sak madya, secukupnya. Tidak berlebihan mengambil, tidak pelit memberi.

Malam semakin larut. Tumpeng habis. Piring-piring kosong. Anak-anak mulai lelah bermain. Percakapan warga perlahan mereda. Namun sebuah pelajaran kecil masih tersisa.

Jika warga di sebuah gang mampu guyub, rukun, dan gotong royong, mengapa semangat yang sama tidak menjadi watak dalam mengelola negeri?

Urip iku urup—hidup hendaknya memberi manfaat dan menjadi penerang bagi sesama.

Dari Gang Flamboyan 4, kemerdekaan barangkali memang tidak perlu dirayakan dengan suara paling keras. Cukup dengan kehidupan yang saling menjaga. Sebab Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur bukan hanya Indonesia yang pandai mengucapkannya. Melainkan Indonesia yang rakyatnya masih mau duduk bersama, berbagi, dan menjaga kerukunan.

Tumpeng itu akhirnya habis. Tapi, wejangannya jangan. (*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *