Jejak KataLiputan

Ketika Puisi Menjadi Kado Kemerdekaan Jurnalis dan Seniman Kota Tangerang

×

Ketika Puisi Menjadi Kado Kemerdekaan Jurnalis dan Seniman Kota Tangerang

Sebarkan artikel ini
Senyum semringah SS. Mustofa Medy ketika menerima hadiah dan piala dari Walikota Tangerang, Syachrudin

JEJAK KATA, Kota Tangerang — Kemerdekaan bagi SS. Mustofa Medy tahun ini datang dalam bentuk yang tak biasa: sebuah piala, hadiah, dan sebait puisi yang dibacakan di hadapan publik.

Di sela upacara peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia pada 17 Agustus 2026, seniman sekaligus jurnalis asal Kota Tangerang itu menerima penghargaan sebagai Juara I Lomba Membaca Puisi Jurnalis yang digelar Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Kota Tangerang.

Medy menerima piala dan penghargaan bersama para peserta lomba lainnya. Wali Kota Tangerang, Syachrudin, didampingi Wakil Wali Kota Maryono, menyerahkan penghargaan tersebut.

Senyumnya mengembang. Ada haru yang sulit disembunyikan. Bagi Medy, piala itu bukan sekadar benda untuk dibawa pulang. Ia seperti penanda bahwa puisi, di tengah riuh gawai dan derasnya arus informasi, masih menemukan ruang untuk didengar.

Puisi memang tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya berganti alamat.

Dulu, puisi akrab dengan buku antologi, majalah sastra, panggung kesenian, dan ruang-ruang diskusi. Kini ia bisa muncul di layar telepon genggam, diselipkan dalam unggahan media sosial, atau dibacakan melalui video berdurasi pendek.

Perubahannya bukan semata soal selera. Cara orang membaca ikut berubah.

Anak-anak muda dapat menemukan puisi di Instagram, TikTok, atau platform digital lain dengan tema yang lebih dekat dengan keseharian: cinta, kegelisahan, pertemanan, kehidupan kota, hingga keresahan sosial. Bahasa pun menjadi lebih cair. Tak selalu berbaju majas yang rumit, tetapi kadang justru memakai kata-kata sehari-hari agar terasa dekat.

Di sisi lain, buku puisi cetak menghadapi persoalan klasik: pembacanya cenderung terbatas pada komunitas sastra, mahasiswa, akademisi, dan mereka yang memang sengaja mencari puisi.

Arus informasi yang serba cepat membuat puisi panjang harus berkompetisi dengan video pendek, notifikasi, dan berbagai bentuk hiburan digital. Puisi dituntut untuk singkat agar tak kalah cepat dengan jempol yang terus menggulir layar.

Namun ruang baru juga tumbuh. Komunitas sastra digital bermunculan. Para penulis muda saling berbagi karya tanpa harus menunggu sebuah penerbit mencetak buku. Panggung pembacaan puisi pun tidak lagi selalu berupa gedung kesenian. Layar telepon bisa menjadi panggung. Media sosial menjadi etalase.

Dalam sejarah sastra Indonesia, puisi pernah menjadi suara kegelisahan zaman. Chairil Anwar menulis dengan semangat pemberontakan. W.S. Rendra menjadikan puisi sebagai suara kritik sosial. Sapardi Djoko Damono memperlihatkan bahwa kesederhanaan kata dapat menyimpan kedalaman makna.

Mereka berasal dari zaman yang berbeda. Tetapi persoalannya serupa: bagaimana kata tetap hidup ketika zaman berubah.

Karena itu, kemenangan Medy pada hari kemerdekaan terasa lebih dari sekadar seremoni lomba. Ia mempertemukan dua hal yang sering dianggap berjalan di jalur berbeda: jurnalistik dan puisi.

Jurnalis terbiasa mengejar fakta. Penyair mengejar makna. Jurnalis bertanya apa yang terjadi. Penyair kerap bertanya apa arti dari sesuatu yang terjadi.

Di antara keduanya, kata menjadi alat utama. Dan pada 17 Agustus itu, ketika bendera merah putih berkibar dan upacara hampir menjadi rutinitas tahunan, sebuah piala diberikan kepada seorang jurnalis yang membaca puisi.

Mungkin kemerdekaan memang tidak hanya dirayakan dengan upacara. Ia juga dirawat melalui kata-kata—agar ingatan tidak mudah hilang, kegelisahan tidak selalu dibungkam, dan suara manusia tetap mempunyai tempat untuk didengar. (*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *