Jejak KataSoft News

Mengapa Ada Orang Memilih Pasangan yang Sudah Dikenal Mantan Istri?

×

Mengapa Ada Orang Memilih Pasangan yang Sudah Dikenal Mantan Istri?

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI

PSIKOLOGI SOSIAL— Dalam urusan mencari pasangan, manusia ternyata tidak selalu mencari yang jauh. Sebagian justru merasa lebih nyaman dengan orang yang sudah berada di lingkaran sosialnya—bahkan seseorang yang dikenal oleh mantan istri.

Sekilas pilihan ini terdengar seperti resep untuk membuat grup WhatsApp keluarga berubah menjadi ruang sidang. Namun secara psikologis, ketertarikan kepada orang yang sudah dikenal bukan sesuatu yang aneh.

keluarga berubah menjadi ruang sidang. Namun secara psikologis, ketertarikan kepada orang yang sudah dikenal bukan sesuatu yang aneh.

Ada beberapa mekanisme yang mungkin menjelaskannya.

Familiaritas: yang sering terlihat terasa lebih aman

Psikologi sosial mengenal mere exposure effect, yakni kecenderungan seseorang menjadi lebih menyukai sesuatu setelah berulang kali terpapar olehnya. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa familiaritas dan frekuensi pertemuan dapat berhubungan dengan meningkatnya ketertarikan interpersonal.

Karena itu, orang yang sudah lama berada di sekitar kita mempunyai satu keunggulan yang tidak dimiliki orang asing: rekam jejak sosial.

Kita sudah tahu bagaimana ia berbicara, bersikap kepada orang lain, menghadapi masalah, atau sekadar bagaimana ia memesan kopi.

Dibanding berkenalan dengan orang baru yang profilnya hanya berisi foto terbaik dan keterangan “simple person”, orang yang sudah dikenal kadang terasa lebih mudah dipahami.

Romantis, tetapi juga praktis. Seperti membeli mobil bekas dari tetangga: setidaknya kita pernah mendengar suara mesinnya.

Kedekatan sosial mempermudah terbentuknya ketertarikan

Penelitian tentang proximity effect menunjukkan bahwa kedekatan fisik maupun sosial dapat meningkatkan peluang terjadinya interaksi dan ketertarikan. Salah satu studi eksperimental menemukan bahwa target yang terasa lebih dekat dapat dinilai lebih positif karena lebih mudah diakses secara psikologis.

Dalam kehidupan sehari-hari, orang yang berada di lingkaran yang sama lebih sering bertemu, berkomunikasi, dan memiliki kesempatan melihat kepribadian satu sama lain.

Maka tidak mengherankan jika calon pasangan terkadang bukan datang dari “pencarian”, melainkan dari orang yang sejak awal memang sudah ada di sekitar.

Cinta, dalam beberapa kasus, rupanya tidak perlu GPS.

Kenal dengan mantan bukan berarti mencari “pengganti”

Bagian ini lebih rumit.

Jika seseorang tertarik kepada orang yang mengenal mantan istrinya, tidak otomatis berarti ia sedang mencari pengganti mantan. Ada kemungkinan ia merasa lebih nyaman karena calon pasangan sudah memahami sebagian latar belakang hidupnya.

Namun faktor ini juga dapat menimbulkan persoalan psikologis dan sosial.

Calon pasangan mungkin sudah memiliki informasi tentang hubungan sebelumnya. Ia mengetahui sebagian cerita, konflik, bahkan mungkin karakter mantan istri. Kondisi tersebut dapat membuat proses pendekatan menjadi lebih mudah—atau justru menjadi seperti menghadiri wawancara kerja dengan pewawancara yang sudah membaca laporan tahunan.

Karena itu, familiaritas tidak sama dengan kompatibilitas. Seseorang bisa terasa akrab, tetapi belum tentu cocok menjadi pasangan.

Ada pula faktor kesamaan lingkungan

Dalam penelitian mengenai pemilihan pasangan, pasangan sering kali menunjukkan kesamaan tertentu dalam pendidikan, nilai, gaya hidup, lingkungan sosial, dan karakteristik lainnya. Fenomena ini dikenal sebagai assortative mating, yakni kecenderungan memilih pasangan dengan karakteristik tertentu yang mirip. Studi besar terhadap pasangan juga menunjukkan bahwa kesamaan pasangan dapat berasal dari pilihan langsung maupun lingkungan sosial yang sama.

Itulah sebabnya orang dari lingkungan yang sama sering memiliki peluang lebih besar untuk saling tertarik.

Mereka mungkin memiliki teman yang sama, kebiasaan yang mirip, cara berkomunikasi yang serupa, atau bahkan sudah memahami aturan tidak tertulis dalam lingkungannya.

Kalau begitu, memilih pasangan yang dikenal mantan istri bukan selalu tindakan dramatis. Kadang-kadang itu hanya konsekuensi dari lingkaran sosial yang memang tidak terlalu luas.

Tetapi ada satu hal yang perlu diperiksa: motifnya

Secara ilmiah, tidak cukup hanya melihat siapa orang yang dipilih. Yang lebih penting adalah mengapa ia memilihnya.

Apakah karena memang memiliki ketertarikan dan kecocokan? Karena merasa nyaman? Karena sudah mengenal karakter calon pasangan? Atau, karena ingin mengisi kekosongan setelah perceraian?

Motif yang berbeda dapat menghasilkan dinamika hubungan yang berbeda pula.

Jika seseorang memilih pasangan baru semata-mata untuk melupakan mantan, mencari pembuktian diri, membuat mantan cemburu, atau memperoleh validasi sosial, hubungan tersebut berpotensi dibebani persoalan yang belum selesai.

Sebaliknya, jika hubungan dibangun setelah proses refleksi, batas yang sehat dengan hubungan sebelumnya, komunikasi terbuka, dan pertimbangan kompatibilitas, kedekatan dengan lingkungan mantan bukan dengan sendirinya menjadi masalah.

Jadi, apakah pilihan itu aneh?

Tidak. Tetapi juga tidak otomatis sehat.

Manusia cenderung tertarik kepada sesuatu yang familiar, dekat, dan terasa dapat diprediksi. Penelitian mengenai familiaritas bahkan menunjukkan bahwa pengaruh paparan berulang terhadap kesukaan memang nyata, meski efeknya tidak sesederhana “semakin sering melihat, semakin cinta”.

Karena itu, seseorang yang menyukai orang yang dekat dengan mantan istrinya tidak perlu langsung dicap memiliki motif tertentu. Yang lebih penting adalah melihat kualitas keputusan, kondisi emosional, batas dengan hubungan masa lalu, serta kecocokan dengan pasangan baru.

Sebab dalam urusan jodoh, manusia memang sering berkata ingin menemukan seseorang yang “benar-benar baru”.

Tetapi ketika cinta datang, ternyata yang dicari bukan selalu orang baru. Kadang cukup orang lama yang kebetulan belum pernah dilihat dengan cara yang romantis.

Dan jika orang tersebut sudah dikenal mantan istri? Itu bukan berarti semesta sedang bercanda. Mungkin semesta hanya sedang menunjukkan bahwa lingkaran pergaulan manusia lebih kecil daripada lingkaran masalahnya. (*


Oleh: Jejak Kata

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *