ESAI — Dalam politik, rupanya bukan cuma pidato yang punya makna. Gerakan tangan pun bisa naik kelas menjadi bahan diskusi nasional.
Senin, 5 Oktober 2026, Lapangan Prima Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur. Presiden Prabowo Subianto menghadiri peringatan HUT ke-81 TNI. Di sana ada Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden ke-7 Joko Widodo.
Ketiganya kemudian berdiri dalam satu frame. Prabowo di tengah, SBY di kanan, Jokowi di kiri. Kamera bekerja. Foto diambil. Senyum dipasang. Negara tampak lengkap dalam satu jepretan.
Masalahnya muncul setelah kamera selesai bekerja.
Prabowo berbalik ke arah SBY, menyalami dan berbincang dengannya. Ia kemudian menyalami Komandan Upacara Letjen TNI Lucky Avianto. Sementara Jokowi berada di sisi yang lain. Sebuah jabat tangan yang mungkin saja tinggal beberapa detik itu akhirnya tidak terjadi.
Internet pun bekerja lebih cepat daripada protokol.
Potongan video beredar. Gestur Prabowo dianggap cuek. Ada yang melihatnya sebagai sesuatu yang politis. Ada pula yang menganggapnya biasa saja: orang selesai foto memang bisa langsung berbalik ke arah lain. Tidak semua gerakan badan harus memiliki catatan kaki.
Kalau setiap orang yang tidak sempat bersalaman dianggap sedang berselisih, mungkin separuh hubungan pertemanan di Indonesia sudah masuk kategori konflik politik.
Di media sosial, satu detik bisa diperlakukan seperti satu bab dalam buku sejarah.
Padahal, sebelum momen yang menjadi sorotan itu, Prabowo disebut sempat memberi salam hormat dan berjabat tangan dengan Jokowi maupun SBY ketika tiba di lokasi. Setelah sesi foto pun, Prabowo disebut masih menunggu Jokowi sebelum meninggalkan lapangan.
Artinya, perkara ini lebih mirip salaman yang kelewat ketimbang deklarasi perang dingin.
Tetapi politik memang punya kebiasaan unik: ia senang mengubah gestur menjadi simbol. Alis naik sedikit bisa disebut kode. Tatapan dua detik bisa menjadi sinyal. Tangan yang tidak sempat menjabat dapat diperlakukan seperti dokumen rahasia.
Apalagi jika yang berdiri dalam frame adalah dua mantan presiden dan seorang presiden aktif. Maka lahirlah tafsir.
Ada yang membandingkan gestur Prabowo kepada SBY dan Jokowi. Kedekatan Prabowo dengan SBY pun dianggap mudah dipahami karena keduanya punya latar belakang militer. Tetapi apakah kehangatan sebuah jabat tangan otomatis menjadi ukuran hubungan politik? Tentu tidak sesederhana itu.
Hubungan manusia saja sudah rumit. Apalagi hubungan para elite politik.
Kamera juga punya dosa kecil dalam perkara semacam ini. Ia hanya merekam beberapa detik, sementara publik kadang ingin menjelaskan seluruh hubungan antar manusia dari potongan tersebut.
Padahal kamera tidak merekam isi kepala. Ia hanya merekam gerakan.
Karena itu, yang paling aman adalah membedakan antara fakta dan tafsir. Faktanya, ada momen setelah foto ketika Prabowo berbalik ke arah SBY dan tidak langsung bersalaman dengan Jokowi. Tafsir bahwa gestur itu menunjukkan kerenggangan hubungan adalah wilayah lain. Belum tentu benar, belum tentu juga salah.
Di sinilah publik sebaiknya tidak terlalu rajin menjadi penerjemah bahasa tubuh.
Sebab kalau semua gestur pejabat harus dibaca sebagai kode politik, nanti bersin pun bisa menjadi headline: Presiden Bersin, Ada Apa dengan Koalisi?
Pada akhirnya, sebuah jabat tangan yang terlewat hanyalah sebuah jabat tangan yang terlewat—sampai politik dan media sosial memutuskan memberinya umur yang lebih panjang. Dan begitulah zaman bekerja. Foto selesai dalam satu detik. Tafsirnya bisa bertahan seminggu. (*
Oleh: Jejak Kata






