KULINER — Asap tipis mengepul dari sebuah warung kaki lima di Jalan Raya Peusar, Desa Peusar, Kecamatan Panongan, Kabupaten Tangerang. Tak jauh dari bangunan yang dikenal warga sebagai Rumah Belanda, aroma kuah rempah menguar, memancing siapa saja yang melintas untuk berhenti.
Di tempat sederhana itu, soto tangkar menjadi menu andalan.
Bagi warga Cikupa, Panongan dan sekitarnya, nama Rumah Belanda mungkin sudah cukup dikenal. Lokasinya juga mudah ditemukan melalui Google Maps. Beberapa meter dari bangunan tersebut, ada warung sederhana yang menyajikan kuliner Betawi yang mulai jarang ditemui.
Soto tangkar bukan sekadar soto dengan kuah santan dan potongan daging. Ada sejarah panjang di balik namanya. Dalam bahasa Betawi, tangkar berarti iga sapi. Istilah itu sudah dikenal sejak masa penjajahan Belanda dan bertahan hingga sekarang.
Kuliner ini menjadi bagian dari kekayaan dapur Nusantara. Namun, di tengah menjamurnya makanan cepat saji dan kuliner kekinian, soto tangkar perlahan seperti kehilangan panggungnya.
Di Peusar, ia masih mengepul setiap hari.
Pengunjung bisa memilih isian sesuai selera: campur, babat, kikil, atau daging. Pilihan itu tentu menentukan harga. Namun, satu hal yang relatif sama: porsinya cenderung royal dan harganya masih bersahabat.
Semangkuk soto tangkar bersama nasi putih bahkan bisa terasa seperti makan siang untuk menghadapi sisa hari yang panjang. Kuahnya gurih, rempahnya terasa, sementara potongan daging dan jeroan membuat semangkuk soto ini tidak sekadar menjadi pengganjal perut.
Menariknya, kenikmatan itu tidak harus dibayar dengan menguras dompet.
Pengunjung bisa menyantapnya langsung di tempat atau membawanya pulang. Tak ada ruang makan mewah, tak ada dekorasi yang dibuat untuk mengejar foto Instagram. Yang ditawarkan hanya semangkuk soto, nasi, dan rasa yang menjadi alasan orang datang kembali.
Di tengah jalan yang terus bergerak, warung kaki lima semacam ini justru menyimpan sesuatu yang semakin langka: makanan tradisional yang masih bertahan karena rasanya.
Jika suatu siang melintas di Jalan Raya Peusar dan mencium aroma kuah rempah dari pinggir jalan, mungkin tak ada salahnya berhenti.
Sebab kadang, kuliner istimewa tidak membutuhkan restoran mewah. Cukup semangkuk soto tangkar, nasi putih, dan selera makan yang sedang baik-baik saja. (*






