EsaiJejak Kata

Ketika HAARP, Gunung Meletus, dan Akal yang Ikut “Mletus”

×

Ketika HAARP, Gunung Meletus, dan Akal yang Ikut “Mletus”

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI

OPINI — Enam gunung api erupsi. Abu mengepul, magma bergerak, warga waspada. Lalu datanglah HAARP—sebuah proyek penelitian ionosfer Amerika Serikat—ke tengah keributan.

Bukan datang membawa alat pengukur. Bukan pula membawa tim vulkanologi. HAARP muncul sebagai tersangka dalam sebuah dugaan tentang kemungkinan campur tangan teknologi asing.

Yang membuat cerita ini lebih menarik: dugaan tersebut datang dari Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden, Ulta Levenia Nababan.

Dalam sebuah siniar, Ulta mempertanyakan apakah erupsi enam gunung api yang terjadi berdekatan itu semata-mata fenomena alam. Ia menyebutnya seperti sebuah “orkestrasi”, lalu mengaitkannya dengan HAARP dan dinamika geopolitik, termasuk pertemuan Presiden RI dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Di titik ini, pembaca boleh bertanya: apakah gunung api sekarang punya hubungan diplomatik? Kalau iya, mungkin sebentar lagi Gunung Merapi mengirim nota protes kepada Gedung Putih.

Masalahnya, bumi bukan panggung wayang kulit. Tidak setiap kejadian membutuhkan dalang. Kadang-kadang gunung meletus karena gunung memang bisa meletus. Simpel, to.

Ketika kebetulan dianggap kode rahasia

Manusia memang makhluk pemburu pola. Dua orang memakai baju merah, kita bilang kebetulan. Tiga orang memakai baju merah, mulai dicurigai sedang janjian. Enam gunung erupsi hampir bersamaan?

Nah, pikiran konspiratif biasanya mulai mengambil ancang-ancang. “Ojo-ojo…” Jangan-jangan.

Kalimat sakti itu kemudian menjadi pintu masuk bagi segala kemungkinan. Persoalannya, dalam ilmu pengetahuan, “jangan-jangan” baru boleh masuk ruang sidang setelah membawa bukti.

Sebab sains tidak bekerja berdasarkan feeling. Ia bekerja berdasarkan data, pengukuran, pengujian, dan mekanisme sebab-akibat yang dapat diperiksa.

Kalau enam gunung erupsi, yang harus dicari adalah hubungan geologisnya: Apakah ada perubahan tekanan magma? Apakah terdapat aktivitas tektonik? Bagaimana kondisi sistem hidrotermalnya? Apakah ada perubahan parameter vulkanik yang bisa menjelaskan erupsi?

Bukan: “Siapa yang punya remote control?”

HAARP memang ada. Tapi bukan berarti bisa menyetel gunung

Di sinilah perdebatan sering mengalami pleset logika. HAARP memang ada. Fasilitas itu digunakan untuk penelitian ionosfer dan fenomena atmosfer atas. Keberadaannya bukan hoaks.

Tetapi dari keberadaan sebuah fasilitas penelitian menuju kesimpulan bahwa fasilitas itu dapat mengatur cuaca, apalagi mengendalikan erupsi gunung api, diperlukan bukti yang jauh lebih serius.

Logikanya kira-kira begini: “Amerika punya HAARP.” Benar.

“HAARP memancarkan gelombang radio.” Benar. “Berarti HAARP bisa membuat gunung di Indonesia meletus.” Nah, di sini keretanya mulai keluar rel.

Itulah yang dalam bahasa Jawa barangkali disebut kakehan polah: terlalu banyak gerak, tetapi belum tentu sampai tujuan.

Kalau teknologi pemancar radio bisa membuat gunung meletus sesuka hati, dunia vulkanologi tentu harus segera mengganti buku pelajaran. Para ahli tidak perlu lagi sibuk memasang seismometer. Cukup cari sinyal Wi-Fi. Gunung mau meletus? Restart.

Gunung tidak membaca kalender geopolitik

Menghubungkan erupsi gunung dengan pertemuan politik juga membutuhkan kehati-hatian ekstra. Sebab peristiwa yang terjadi berdekatan waktunya tidak otomatis mempunyai hubungan sebab-akibat.

Presiden bertemu Putin. Gunung meletus. Lalu keduanya disusun dalam satu kalimat. Padahal korelasi bukan kausalitas.

Kalau logika seperti ini dipakai setiap hari, kita akan menemukan teori baru yang sangat mudah dibuat:

Hujan turun setelah pejabat berpidato. Berarti pidato menyebabkan hujan.

Harga cabai naik setelah seseorang mengganti foto profil. Berarti foto profil menyebabkan inflasi.

Tetangga membeli motor baru setelah kita mencuci mobil. Berarti mencuci mobil menyebabkan tetangga kaya. Lha kok ngono?

Yang berbahaya bukan pertanyaannya

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan bertanya. Bahkan ilmu pengetahuan tumbuh dari keberanian mempertanyakan sesuatu.

Namun, masalahnya adalah ketika pertanyaan dikemas sedemikian rupa sehingga terdengar seperti kesimpulan.

“Apakah ada kemungkinan?” Ini pertanyaan.

“Teknologi asing menyebabkan erupsi.” Ini klaim.

Keduanya bukan barang yang sama. Di media sosial, perbedaan itu sering hilang. Potongan video dipisahkan dari konteks. Judul dibuat lebih keras. Algoritma menyukai kegaduhan. Publik menyukai misteri.

Akhirnya teori yang belum terbukti bisa memperoleh umur lebih panjang daripada klarifikasi ilmiah.

Wong Jawa bilang: kabar miring iku mlakune luwih banter. Kabar miring berjalan lebih cepat. Terlebih jika datang dari orang yang dianggap punya kedekatan dengan pusat kekuasaan.

Pejabat publik punya mikrofon yang lebih besar

Inilah bagian yang semestinya menjadi perhatian. Pernyataan dari seorang pejabat atau tenaga ahli di lingkungan pemerintahan tidak berada di ruang yang sama dengan obrolan warung kopi.

Orang boleh bercanda di warung. Orang juga boleh mengatakan, “Jangan-jangan gunung meletus karena alien.”

Tidak ada masalah.

Tetapi ketika dugaan mengenai bencana alam disampaikan oleh figur yang diasosiasikan dengan institusi negara, bobot sosialnya berubah. Publik bisa menganggapnya sebagai informasi yang memiliki dasar resmi. Karena itu, standar kehati-hatian semestinya lebih tinggi.

Dalam budaya Jawa ada ungkapan sabda pandita ratu. Perkataan orang yang memiliki kedudukan dapat dipercaya dan diikuti.

Di zaman digital, ungkapan itu mungkin perlu ditambahi satu kalimat: Sebelum bersabda, cek datanya.

Sebab sekali ucapan masuk internet, ia tidak pulang ke rumah. Ia menetap. Disalin. Dipotong. Dibagikan. Dibikin meme. Lalu lima tahun kemudian muncul lagi dengan judul: “TERBONGKAR!”

Dalam bencana, publik membutuhkan kepastian yang bisa diuji

Erupsi gunung bukan bahan permainan. Ada warga yang tinggal di lereng. Ada petugas yang bekerja di kawasan rawan. Ada penerbangan yang harus memperhitungkan abu vulkanik. Ada pemerintah daerah yang harus menyiapkan evakuasi.

Mereka membutuhkan informasi yang jelas. Mereka perlu tahu status gunung, radius bahaya, potensi awan panas, arah sebaran abu, dan instruksi keselamatan. Mereka tidak membutuhkan cerita bahwa ada seseorang di luar negeri yang mungkin sedang menekan tombol.

Karena kalau informasi bencana dipenuhi spekulasi, masyarakat bisa kehilangan hal yang paling penting: kemampuan membedakan mana peringatan yang harus dipercaya dan mana cerita yang sebaiknya diperiksa dulu.

Di sinilah eling lan waspada seharusnya berlaku. Waspada terhadap gunung. Tetapi juga waspada terhadap informasi tentang gunung. Sebab hoaks kadang tidak mengeluarkan asap.

Alam tidak membutuhkan teori konspirasi

Enam gunung erupsi memang menarik untuk dikaji. Kalau ada hubungan di antara aktivitas gunung-gunung tersebut, silakan teliti. Kalau ada mekanisme baru yang belum dipahami, silakan diuji. Kalau ada bukti teknologi manusia mempengaruhi aktivitas vulkanik, dunia ilmu pengetahuan tentu akan geger.

Tetapi sebelum sampai ke sana, kita perlu melakukan hal paling kuno dalam tradisi ilmiah: membuktikannya.

Bukan mengulanginya. Bukan mempercayainya karena viral. Bukan karena terdengar cocok dengan situasi geopolitik. Dan bukan pula karena kalimat “ojo-ojone ana apa-apane” terasa begitu menggoda.

Sebab dalam urusan bencana, rasa penasaran memang penting. Tetapi keselamatan publik lebih penting.

Gunung boleh punya magma. Politik boleh punya intrik. Internet boleh punya algoritma. Pun demikian, kita sebaiknya tetap punya akal sehat. Jangan sampai gunung yang meletus cuma enam. Akal sehat kita malah ikut mletus semua. (*


Oleh: Jejak Kata

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *