ESAI – Ada pemimpin yang tampaknya mempunyai bakat istimewa: bisa berbicara panjang, tetapi telinganya pendek. Bukan pendek secara anatomi. Pendek dalam urusan mendengar.
Kritik datang dari warga, ia menyebutnya sentimen. Keluhan datang dari jalanan, dianggap gaduh. Data yang tidak menyenangkan disebut tidak lengkap. Pengamat yang berbeda pendapat dicurigai punya agenda. Ketika kenyataan tidak sesuai pidato, mungkin kenyataannya yang perlu diperiksa.
Di sinilah legenda Raja Midas terasa seperti cerita lama yang tiba-tiba menemukan alamat baru.
Dalam mitologi Yunani, Midas pernah menjadi juri pertarungan musik antara Apollo (dewa musik dan matahari) dan Pan (dewa hutan). Meskipun semua orang tahu musik Apollo jauh lebih indah, Midas dengan lantang dan sombongnya memprotes dan mengatakan bahwa musik Pan jauh lebih baik. Apollo yang tersinggung kemudian menghukum Midas dengan telinga keledai. Midas malu. Telinganya ditutup sorban. Hanya tukang cukurnya yang mengetahui rahasia itu.
Masalahnya, manusia boleh menyimpan rahasia. Tetapi manusia juga punya kebutuhan untuk bercerita.
Sang tukang cukur akhirnya menggali lubang, lalu membisikkan rahasia ke tanah: Raja Midas punya telinga keledai. Setelah itu lubang ditutup. Persoalan dianggap selesai. Eh, ternyata tidak.
Alang-alang tumbuh. Ketika angin berembus, batang-batang itu seperti mengulang rahasia sang tukang cukur. Kerajaan akhirnya mendengar sesuatu yang ingin disembunyikan Midas.
Politik modern tentu tidak membutuhkan alang-alang. Ada media sosial. Ada warung kopi. Ada grup WhatsApp keluarga. Ada mahasiswa. Ada warga yang mengantre layanan publik. Ada pedagang yang menghitung harga kebutuhan pokok. Ada pekerja yang menghitung upah. Dan ada rakyat yang tidak perlu menjadi profesor politik untuk mengetahui bahwa sesuatu sedang terasa tidak beres.
Kritik semacam itu memang tidak selalu benar. Rakyat bisa keliru. Pengamat bisa keliru. Media bisa keliru. Bahkan pemerintah pun bisa keliru. Karena itu, kritik tidak harus selalu dipercaya. Tetapi kritik seharusnya didengar. Di situlah bedanya pemimpin dengan pengeras suara.
Pengeras suara hanya tahu cara mengeluarkan suara. Pemimpin seharusnya juga mempunyai kemampuan menerima suara. Namun, yang menjadi persoalan adalah ketika setiap suara yang tidak sesuai dengan narasi penguasa buru-buru diberi label: sentimenisme.
Istilah itu terdengar ilmiah. Seolah-olah kritik sudah diperiksa di laboratorium, kemudian dinyatakan mengandung terlalu banyak perasaan dan terlalu sedikit kenyataan. Padahal, kadang-kadang sentimen adalah nama lain dari pengalaman.
Orang yang mengeluh harga mahal tentu berbicara dari pengalaman. Orang yang kesulitan memperoleh pekerjaan berbicara dari pengalaman. Warga yang merasa pelayanan publik buruk juga berbicara dari pengalaman.
Pengalaman memang bukan satu-satunya ukuran kebenaran. Tetapi pengalaman rakyat bukan pula sampah yang boleh disapu ke bawah karpet istana.
Untuk negeri yang cukup luas dan besar, tentu akan sulit jika diukur hanya dari podium: Di podium, jalan bisa tampak mulus. Namun di jalan, bisa saja ternyata lubang masih terasa. Di podium, ekonomi nampak terlihat tumbuh. Tetapi di pasar, pedagang menghitung ulang uang kembalian. Di podium, kebijakan terdengar begitu indah. Sementara di rumah warga, akibatnya bisa terasa berbeda.
Maka ketika seorang pemimpin hanya mendengar laporan yang menyenangkan telinga, akan berpotensi mengalami penyakit politik yang aneh: semakin tinggi kedudukannya, semakin jauh suara yang sampai ke telinganya.
Bukan karena rakyat berhenti berbicara. Melainkan karena di sekitar kekuasaan terlalu banyak orang yang pandai menerjemahkan keluhan menjadi pujian.
Midas juga begitu. Ia menutup telinganya bukan karena tidak ada suara. Ia menutupnya karena suara tertentu tidak ingin ia dengar.
Pertanyaannya kemudian sederhana, meski agak kurang sopan: kalau seorang pemimpin terus-menerus tidak percaya pada suara kritik rakyat, apakah telinganya perlu dibuat seperti Midas? Telinga keledai? Tentu tidak!
Kita bukan kerajaan Yunani. Presiden, menteri, gubernur, bupati, wali kota, anggota parlemen—semuanya manusia biasa yang bisa dikritik dan bisa keliru.
Rakyat butuh telinga yang lebih panjang. Panjang dalam arti sanggup mendengar sampai ke ujung keluhan. Sebab dalam demokrasi, kritik bukan kutukan. Ia semacam alarm.
Alarm memang menyebalkan. Ia berbunyi ketika orang sedang enak-anaknya tidur. Tetapi memecahkan alarm tidak membuat kebakaran berhenti. Begitu pula membungkam kritik, tidak otomatis membuat masalah hilang.
Dan ada satu pelajaran paling jenaka dari Midas: rahasia yang ditanam di tanah pun akhirnya bisa terdengar ketika angin datang.
Di zaman sekarang, anginnya bernama rakyat. Media sosial menjadi alang-alang. Media menjadi alang-alang. Kampus menjadi alang-alang. Jalanan menjadi alang-alang. Setiap kali angin bertiup, pertanyaan yang sama bisa kembali terdengar: Rakyat sedang mengeluh. Apakah penguasa masih punya telinga?
Mungkin masalahnya bukan karena rakyat terlalu banyak bicara, melainkan karena pemimpinnya terlalu lama memegang mikrofon sambil hanya mendengar cerita yang manis. (*
Oleh: Jejak Kata






