Jejak KataOpini Pinggiran

Dari Perahu Naga ke PIK 2: Mengulang Jejak Lama di Pesisir Teluknaga

×

Dari Perahu Naga ke PIK 2: Mengulang Jejak Lama di Pesisir Teluknaga

Sebarkan artikel ini
Salah satu simbol ikonik di PIK 2 | Istimewa

“Ketika sejarah, modal, dan simbol budaya kembali bertemu di pantai utara Tangerang”

SEJARAH memiliki kebiasaan yang unik. Ia jarang benar-benar pergi. Ia hanya berganti pakaian. Kadang ia datang sebagai kapal kayu bercadik yang mengarungi Laut Jawa. Kadang ia menjelma deretan ruko bergaya oriental, jembatan berornamen naga, kawasan Chinatown modern, dan Mega Proyek bernama Pantai Indah Kapuk (PIK) 2.

Jika seseorang berjalan di kawasan PIK 2 hari ini, ia akan menemukan begitu banyak simbol Tiongkok. Gerbang bergaya Dinasti Ming, ornamen naga, arsitektur oriental, kawasan Pecinan modern, hingga pusat kuliner yang sengaja dibangun dengan nuansa Tionghoa.

Pertanyaannya sederhana tetapi menarik. Mengapa simbol-simbol itu hadir justru di pesisir Tangerang? Apakah semata-mata strategi pemasaran properti? Ataukah tanpa sadar, PIK 2 sedang membangunkan kembali memori sejarah yang selama ratusan tahun pernah hidup di wilayah yang sama?

Jawabannya mungkin berada jauh sebelum nama Agung Sedayu Group dikenal publik. Bahkan jauh sebelum Republik Indonesia lahir.

Teluknaga: Gerbang yang Terlupakan

Website resmi Pemerintah Kabupaten Tangerang menyebutkan bahwa Teluknaga merupakan pintu masuk pendatang asal Tiongkok yang datang ke Nusantara untuk berdagang. Mereka memasuki teluk, kemudian menyusuri Sungai Cisadane menuju pedalaman. Nama Teluknaga sendiri bukan sekadar nama geografis.

“Naga” dalam kebudayaan Tiongkok merupakan simbol kekuasaan, kemakmuran, pelindung air, sekaligus keberuntungan.

Menariknya, menurut sumber Pemkab Tangerang, para pedagang itu menggunakan perahu-perahu naga ketika memasuki Cisadane. Dengan kata lain, sejak berabad-abad lalu kawasan ini sudah menjadi koridor ekonomi maritim orang-orang Tionghoa.

Artinya, sebelum Jakarta menjadi Batavia. Sebelum Banten menjadi pusat perdagangan. Bahkan sebelum VOC mengatur jalur niaga. Teluknaga telah menjadi salah satu pintu masuk penting jaringan perdagangan Asia.

Sungai Adalah Jalan Tol Masa Lampau

Hari ini kita mengenal jalan tol. Dahulu, yang menjadi jalan tol adalah sungai. Cisadane menjadi jalur distribusi manusia, budaya, rempah-rempah, keramik, kain sutra hingga logam. Di sepanjang sungai itulah muncul permukiman-permukiman Tionghoa yang kemudian berasimilasi dengan masyarakat lokal. Bahkan lahirlah komunitas yang kini dikenal sebagai Cina Benteng. Mereka bukan pendatang baru. Mereka adalah bagian dari sejarah Tangerang sendiri.

Dari Teluknaga ke Lasem

Jika Teluknaga merupakan pintu masuk. Maka Lasem adalah laboratorium bagaimana komunitas Tionghoa membangun jaringan ekonomi maritim. Lasem sering dijuluki “Tiongkok Kecil di Jawa.” Namun julukan itu sesungguhnya terlalu sederhana.

Lasem bukan sekadar kawasan Pecinan. Ia pernah menjadi simpul perdagangan internasional. Di sana berdiri Lawang Ombo, bangunan besar yang dibangun sekitar tahun 1860 oleh Liem Kok Sing. Secara resmi bangunan itu tampak seperti rumah besar.

Namun sejarah mencatat fungsi lain yang jauh lebih menarik. Ia merupakan gudang candu. Candu didatangkan dari Tiongkok melalui laut. Barang kemudian memasuki Sungai Lasem menggunakan kapal kecil. Agar lolos dari pengawasan Belanda, candu dimasukkan ke dalam peti mati.

Ketika penulis sempat bertemu dan wawancara dengan Sejarawan Lasem, Edi Winarno, beberapa waktu lalu, menyampaikan bahwa dari bibir sungai terdapat lorong bawah tanah yang langsung terhubung dari akses pelabuhan Lasem ke bangunan Lawang Ombo. Ini bukan cerita film. Ini adalah strategi logistik abad ke-19. Artinya, orang-orang Tionghoa ketika itu tidak hanya piawai berdagang. Mereka juga menguasai jaringan distribusi, transportasi, penyimpanan barang hingga rekayasa infrastruktur bawah tanah.

PIK 2: Sejarah yang Berganti Bentuk

Kini mari kembali ke Tangerang. PIK 2 dibangun oleh Aguan, tokoh yang dikenal sebagai salah satu anggota kelompok pengusaha yang populer dijuluki “Sembilan Naga.” Istilah itu tentu bukan istilah resmi. Namun simbol naga kembali muncul.

Lalu kita melihat kawasan yang dipenuhi arsitektur oriental. Ada Chinatown. Ada gerbang merah. Ada lampion. Ada ornamen naga. Ada ruang ekonomi baru. Sulit mengabaikan kemiripan simboliknya.

PIK 2 tentu bukan kelanjutan langsung permukiman Tionghoa kuno. Namun ia berdiri di wilayah yang sejak ratusan tahun lalu memang menjadi ruang hidup komunitas Tionghoa pesisir.

Sejarah memang tidak berulang secara persis. Tetapi ia sering berirama. Dalam ilmu perkotaan terdapat konsep place branding. Sebuah kawasan tidak hanya dijual melalui bangunan. Tetapi melalui cerita. Melalui identitas. Melalui sejarah. Melalui simbol budaya.

PIK 2 tampaknya memahami hal itu. Orientalisme bukan sekadar dekorasi. Ia menjadi nilai jual. Arsitektur Tiongkok bukan hanya estetika. Ia menjadi identitas ekonomi. Seolah-olah kawasan ini berkata: “Kami bukan hanya membangun kota baru. Kami sedang menghidupkan kembali memori lama.”

Dari Jalur Rempah ke Jalur Properti

Dulu kapal membawa keramik. Kini investor membawa modal. Dulu sungai menjadi jalur distribusi barang. Kini jalan tol menghubungkan kawasan elite. Dulu gudang menyimpan candu. Kini kawasan komersial menyimpan investasi bernilai triliunan rupiah.

Yang berubah hanyalah komoditas. Jaringannya tetap sama: pelabuhan, akses transportasi, pusat perdagangan dan akumulasi modal.

Ironisnya, banyak warga Tangerang mengenal PIK 2. Tetapi tidak mengenal Teluknaga. Mereka tahu Aguan. Tetapi tidak tahu sejarah perahu naga. Mereka tahu Chinatown modern. Tetapi lupa bahwa kawasan ini sudah menjadi “Chinatown alami” jauh sebelum Republik Indonesia berdiri.

Lebih ironis lagi, kita sering memperdebatkan identitas budaya dalam ruang politik, tetapi lupa bahwa sejak abad ke-15 pesisir utara Jawa telah menjadi ruang perjumpaan berbagai etnis, agama, dan kepentingan ekonomi. Sejarah menunjukkan bahwa akulturasi adalah fondasi, bukan ancaman.

Hubungan antara Teluknaga, Lasem, dan PIK 2 tentu bukan hubungan kausal langsung. Tidak ada bukti historis bahwa PIK 2 merupakan kelanjutan institusional dari permukiman Tionghoa masa lampau. Namun, ada kesinambungan geografis, simbolik, dan kultural yang menarik untuk dikaji.

Pesisir utara Jawa sejak berabad-abad merupakan ruang strategis perdagangan maritim. Teluknaga menjadi gerbang masuk pedagang Tionghoa melalui Cisadane, Lasem memperlihatkan bagaimana jaringan niaga itu berkembang dengan segala sisi terang dan gelapnya, sementara PIK 2 menghadirkan wajah baru kapitalisme perkotaan yang memanfaatkan simbol-simbol budaya Tionghoa sebagai identitas kawasan.

Sejarah tidak sedang mengulang dirinya secara utuh. Ia hadir dalam bentuk yang berbeda: bukan lagi perahu naga yang menyusuri sungai, melainkan investasi yang mengalir melalui jalan tol; bukan gudang candu di tepi sungai, melainkan pusat bisnis dan hunian modern di atas reklamasi dan pengembangan pesisir.

Pada akhirnya, pertanyaan yang layak diajukan bukanlah apakah PIK 2 menghidupkan kembali kejayaan Tionghoa di Tangerang, melainkan apakah kita cukup jujur membaca sejarah pesisir ini secara utuh—bahwa di balik naga, sungai, dan kawasan elite, selalu ada kisah tentang perdagangan, kekuasaan, akulturasi, dan perebutan ruang yang terus berganti wajah dari satu zaman ke zaman berikutnya. (*


Oleh: Widi Hatmoko

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *