REPUBLIK ini memang unik. Di negeri yang politiknya lebih ramai daripada musim durian, seekor udang pun bisa terseret ke panggung kekuasaan. Bukan karena udangnya pandai berpidato, melainkan karena PT Panca Mitra Multiperdana Tbk (PMMP), perusahaan pengolahan udang yang sebagian sahamnya dimiliki Kaesang Pangarep, sedang mengajukan restrukturisasi utang kepada sejumlah bank dengan nilai mencapai lebih dari Rp2 triliun.
Dalam dunia usaha, itu bukan dosa. Restrukturisasi adalah vitamin pahit yang kerap diminum perusahaan ketika arus kas sedang batuk-batuk.
Masalahnya, di republik ini, neraca keuangan sering kali kalah menarik dibanding silsilah keluarga. Begitu nama Kaesang muncul, pembicaraan langsung melompat dari laporan keuangan ke Istana. Dari udang beku mendadak menjadi udang politik.
Direktur Eksekutif Center for Budget Analysis (CBA), Uchok Sky Khadafi, bahkan berpendapat bahwa setelah Joko Widodo tak lagi menjadi presiden, bisnis yang berkaitan dengan Kaesang akan menghadapi tantangan lebih berat. Benar atau tidak, itu adalah pendapat yang tentu sah diperdebatkan.
Namun, komentar itu mengingatkan kita pada satu kenyataan: di Indonesia, persepsi sering berlari lebih cepat daripada fakta.
Di sisi lain, Kaesang sedang memimpin PSI yang menatap Pemilu 2029. Mengurus partai bukan pekerjaan sambilan. Mesin politik harus terus menyala, sementara mesin bisnis juga menuntut perhatian yang sama. Persoalannya sederhana, tetapi tidak ringan: siapa yang lebih dulu diprioritaskan?
Publik tentu berharap jawabannya bukan kekuasaan.
Sebab demokrasi yang sehat membutuhkan batas yang jelas antara ruang rapat perusahaan dan ruang rapat partai. Investor membutuhkan kepastian bisnis. Pemilih membutuhkan kepastian etika. Keduanya sama-sama tidak bisa dibayar dengan slogan.
Bank tidak pernah menyetujui restrukturisasi karena jumlah pengikut di media sosial. Pasar modal juga tidak mengenal istilah “anak mantan presiden”. Yang mereka lihat hanyalah kemampuan mengelola risiko, membayar kewajiban, dan menjalankan perusahaan secara profesional.
Karena itu, ujian Kaesang bukan hanya membawa PSI ke Senayan. Ujian yang lebih berat adalah membuktikan kepada publik bahwa bisnis yang terkait dengannya dapat berdiri tegak tanpa tongkat kekuasaan, dan politik yang dipimpinnya tidak menjadi tempat berteduh kepentingan bisnis.
Sebab di negeri ini, yang paling cepat berkembang bukan hanya pembangunan perumahan atau jumlah partai politik. Yang tumbuh paling subur adalah kecurigaan publik. Dan kecurigaan, sekali dipanen, jauh lebih sulit direstrukturisasi daripada utang Rp2 triliun. (*
Oleh: Widi Hatmoko






