JEJAK KATA, Jakarta – Di tengah derasnya arus informasi dan kejar-kejaran mengejar klik, Ketua Umum Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI), Teguh Santosa, mengingatkan satu hal yang kerap terlupakan: jurnalisme lahir untuk manusia, bukan semata-mata untuk algoritma.
Pesan itu disampaikan Teguh saat menjadi pembedah buku “Jurnalisme untuk Kemanusiaan” karya Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PP Muhammadiyah, Roni Tabroni, dalam diskusi yang digelar di Kantor PP Muhammadiyah.
Diskusi tersebut juga menghadirkan Pemimpin Redaksi CNN Indonesia Titin Rosmasari, Direktur tvMu Makroen Sanjaya, Ketua Lazismu Ahmad Mujadid Rais, dan dibuka oleh Ketua PP Muhammadiyah Dadang Rahmad.
Sejak awal paparannya, Teguh memberikan apresiasi tinggi terhadap buku yang ditulis Roni Tabroni. Menurutnya, buku tersebut bukan sekadar karya akademik, melainkan sebuah pengalaman intelektual yang mengajak insan pers kembali mengingat alasan mengapa profesi ini ada.
Ia bahkan menduga pemilihan judul Jurnalisme untuk Kemanusiaan lahir dari kegelisahan penulis terhadap praktik media yang mulai menjauh dari nilai-nilai kemanusiaan.
Dengan gaya khasnya yang santai, Teguh sempat memancing tawa peserta diskusi. Ia mengusulkan agar pada cetakan berikutnya ditambahkan satu kata dalam judul buku.
“Kalau boleh usul, tambahkan saja kata ‘memang’, jadi Memang Jurnalisme untuk Kemanusiaan,” ujarnya disambut senyum para peserta.
Namun, di balik gurauan itu tersimpan kritik yang serius. Menurut Teguh, jurnalisme tidak boleh berhenti pada liputan tentang korban bencana, kemiskinan, atau kerusakan lingkungan. Media juga harus hadir di “hulu” persoalan dengan mengawal kebijakan publik agar berbagai tragedi kemanusiaan tidak terus berulang.
“Tidak cukup kita hanya bergerak untuk membantu korban kerusakan lingkungan. Ada hal di hulu yang harus kita lakukan untuk memitigasi jatuhnya korban. Misalnya dengan mengawal kebijakan tata kelola lingkungan sehingga tidak merusak alam dan kebijakan pembangunan tidak malah menciptakan ketimpangan yang ekstrem, yang menciptakan persoalan-persoalan kemanusiaan,” kata Teguh.
Bagi Teguh, jurnalisme ideal bukan sekadar menjadi “pemadam kebakaran” yang datang setelah musibah terjadi. Jurnalisme harus mampu membantu mencegah api itu muncul sejak awal melalui fungsi kontrol terhadap kebijakan dan kepentingan publik.
Ia juga mengingatkan tantangan terbesar media saat ini datang dari era digital. Persaingan memperebutkan perhatian publik membuat media mudah terjebak mengikuti algoritma yang lebih menyukai isu sensasional daripada persoalan yang benar-benar penting.
Karena itu, Teguh mengajak seluruh insan pers agar tidak menjadi “budak algoritma”. Menurutnya, ketika media hanya mengejar angka klik dan viralitas, jurnalisme perlahan kehilangan perannya sebagai penjaga nilai-nilai kemanusiaan.
Di penghujung paparannya, Teguh berharap diskusi dan peluncuran buku tersebut menjadi pengingat bagi para pengelola media untuk kembali meneguhkan komitmen bahwa tugas utama jurnalisme adalah bekerja demi kepentingan manusia.
Dari Melaporkan Menjadi Menggerakkan
Sementara itu, penulis buku, Roni Tabroni, menjelaskan bahwa Jurnalisme untuk Kemanusiaan merupakan kelanjutan dari buku sebelumnya yang lebih banyak membahas teori komunikasi dan media.
Kali ini, ia menawarkan pendekatan yang lebih aplikatif dengan berangkat dari dua realitas yang selama ini berjalan sendiri-sendiri: dunia jurnalisme yang tengah menghadapi krisis relevansi sosial akibat disrupsi digital, dan Indonesia yang dikenal sebagai salah satu negara dengan tingkat kedermawanan masyarakat tertinggi di dunia.
Menurut Roni, kedua kekuatan tersebut seharusnya dapat dipertemukan. Karena itu, buku ini menawarkan paradigma bahwa jurnalisme bukan hanya bertugas menyampaikan informasi, tetapi juga menjadi katalisator perubahan sosial.
Di dalamnya dijelaskan berbagai pendekatan praktis, mulai dari framework Zona Merah-Kuning-Hijau, konsep P3 (Penyadaran, Pemberdayaan, dan Perubahan), hingga teknik peliputan berbasis data dan narasi yang dapat diterapkan oleh media, akademisi, peneliti, mahasiswa, aktivis filantropi, maupun para kreator konten.
“Buku ini dirancang agar dapat dipraktikkan oleh lembaga maupun individu, sehingga karya jurnalistik tidak berhenti sebagai produk informasi, tetapi menjadi instrumen perubahan sosial yang nyata,” ujar Roni.
Roni Tabroni sendiri merupakan dosen tetap Universitas Muhammadiyah Bandung yang aktif di bidang komunikasi, media, dan kebijakan publik. Ia pernah menjabat sebagai Komisioner KPID Jawa Barat periode 2020–2024 dan kini memimpin Pusat Studi Media Digital dan Kebijakan Publik UM Bandung. Di lingkungan Muhammadiyah, ia menjabat sebagai Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah periode 2022–2027 serta aktif di berbagai organisasi profesi bidang komunikasi dan jurnalistik.
Diskusi itu pun meninggalkan satu pesan sederhana namun kuat: ketika jurnalisme berpihak pada kemanusiaan, berita tidak lagi sekadar menjadi kabar. Ia bisa menjadi awal dari perubahan. (*






