Liputan

Dari Serambi Masjid Menuju Ruang Kelas: Mimpi Pendidikan Tumbuh di Mekar Asri 2 

×

Dari Serambi Masjid Menuju Ruang Kelas: Mimpi Pendidikan Tumbuh di Mekar Asri 2 

Sebarkan artikel ini
Warga dan Jemaah DKM At Taqwa Mekar Asri 2 sedang bergotong royong untuk mempersiapkan gedung TK Plus At Taqwa Mekar Asri 2, Panongan, Kabupaten Tangerang

JEJAK KATA, Tangerang – Di sudut Perumahan Mekar Asri 2, Kecamatan Panongan, Kabupaten Tangerang, Minggu pagi, 19 Juli 2026, suara cangkul, sapu, dan tawa warga berpadu menjadi satu irama. Tidak ada panggung, tidak ada seremoni. Hanya puluhan tangan yang bekerja bersama membersihkan sebidang tanah dan sebuah rumah wakaf tua di samping Masjid At Taqwa.

Bagi sebagian orang, itu mungkin sekadar kerja bakti. Namun bagi warga Mekar Asri 2, kegiatan itu adalah langkah pertama membangun masa depan: menghadirkan TK Plus At Taqwa, sebuah ruang belajar yang diharapkan menjadi rumah pertama bagi tumbuhnya generasi penerus.

Bangunan wakaf yang dibersihkan bukanlah bangunan baru. Usianya telah mencapai sekitar tiga dekade. Dindingnya mulai menua, beberapa bagian memerlukan renovasi menyeluruh setelah bertahun-tahun tidak dihuni. Namun, di mata warga, bangunan itu menyimpan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar batu bata: harapan.

Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) At Taqwa Mekar Asri 2, Isman Hidayat, mengatakan kebutuhan akan fasilitas pendidikan anak usia dini sudah lama dirasakan warga. Selama ini kegiatan belajar PAUD dan TK memang telah berjalan, tetapi dilakukan secara sederhana di serambi masjid.

Bagi anak-anak, serambi masjid telah menjadi ruang mengenal huruf, angka, doa, dan persahabatan. Namun, semakin bertambahnya kebutuhan pendidikan, ruang tersebut tidak lagi cukup untuk menunjang proses belajar yang ideal.

“Lahannya sudah ada, tetapi bangunannya membutuhkan perbaikan total. Kami ingin anak-anak belajar di tempat yang lebih layak, nyaman, dan aman,” ujar Isman.

Gagasan itu lahir dari kesadaran sederhana bahwa pendidikan bukan hanya soal kurikulum, melainkan juga lingkungan yang mampu menumbuhkan rasa ingin tahu. Anak-anak membutuhkan ruang yang mendorong mereka berani bertanya, bermain, dan bermimpi.

Di banyak negara, penelitian menunjukkan bahwa investasi terbesar bagi masa depan justru dimulai dari pendidikan usia dini. Pada fase inilah karakter, kemampuan sosial, hingga kecintaan terhadap belajar mulai terbentuk. Karena itu, membangun sebuah taman kanak-kanak sesungguhnya sama pentingnya dengan membangun jalan, jembatan, atau gedung pemerintahan.

Tokoh pendidikan setempat, Ustadz Azwar Nafsi, yang akan membidani lahirnya TK Plus At Taqwa, memandang sekolah tersebut bukan sekadar tempat belajar membaca dan berhitung. Ia berharap sekolah ini menjadi pusat pembentukan akhlak, kreativitas, dan kemandirian anak-anak di lingkungan perumahan.

Menurutnya, keberadaan TK Plus At Taqwa juga akan menjadi satu-satunya fasilitas pendidikan anak usia dini di kompleks tersebut. Karena itu, dukungan masyarakat menjadi kunci agar rencana ini tidak berhenti sebagai mimpi.

Kerja bakti yang dilakukan warga menunjukkan bahwa pembangunan tidak selalu dimulai dengan anggaran besar. Ia sering kali lahir dari gotong royong, dari kepedulian terhadap lingkungan, dan dari keyakinan bahwa masa depan anak-anak adalah tanggung jawab bersama.

Ketika sebuah bangunan tua mulai dibersihkan, yang sesungguhnya sedang dipugar bukan hanya dinding dan atapnya. Warga sedang membangun optimisme bahwa pendidikan dapat tumbuh dari ruang-ruang sederhana, selama ada kebersamaan yang menjaganya.

Mungkin beberapa bulan lagi, suara sapu dan cangkul itu akan berganti dengan lantunan lagu anak-anak, tawa di ruang kelas, serta langkah-langkah kecil yang berlari mengejar cita-cita. Dari samping sebuah masjid di Panongan, sebuah pesan sederhana kembali ditegaskan: peradaban yang kuat selalu dimulai dari keberanian masyarakat merawat pendidikan, bahkan sebelum gedung sekolah itu benar-benar berdiri. (*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *