Liputan

Remaja 15 Tahun dan Jejak Ganja 3,4 Kilogram di Pul Bus Tanah Tinggi

×

Remaja 15 Tahun dan Jejak Ganja 3,4 Kilogram di Pul Bus Tanah Tinggi

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI

JEJAK KATA, Tangerang—Sebuah ransel hijau tua menjadi petunjuk penting dalam pengungkapan pengiriman 3,4 kilogram ganja dari Sumatera Utara menuju Jakarta. Polisi menemukannya di sebuah pul bus kawasan Tanah Tinggi, Kota Tangerang.

Yang menarik perhatian sebenarnya bukan hanya pada isi tas tersebut. Namun salah satu orang yang membawanya, masih berusia 15 tahun.

Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya mengungkap, kasus itu terungkap setelah petugas menerima informasi masyarakat pada 24 Juli 2026 mengenai pengiriman ganja dari Panyabungan, Sumatera Utara, menuju Jakarta melalui jalur darat.

Kanit 2 Subdit 2 Ditresnarkoba Polda Metro Jaya, Komisaris Polisi Tri Hamdani, mengatakan bahwa berdasarkan inforasi itu, polisi kemudian melakukan penyelidikan dan menyisir kawasan pul bus di Daan Mogot, Tanah Tinggi, Kota Tangerang.

Di lokasi itu, polisi menemukan R, 15 tahun, bersama S, 19 tahun. Keduanya kemudian diamankan setelah polisi memastikan mereka sesuai dengan hasil penyelidikan.

Dari sebuah ransel hijau tua, polisi menemukan tujuh paket ganja dengan berat sekitar 3,4 kilogram. Petugas juga menyita satu paket ganja seberat 42 gram dan sebuah telepon genggam yang diduga digunakan untuk berkoordinasi.

Kedua remaja tersebut beserta barang bukti kemudian dibawa ke Kantor Ditresnarkoba Polda Metro Jaya untuk pemeriksaan dan pengembangan kasus.

Keterlibatan seorang anak berusia 15 tahun membuat perkara ini tidak berhenti pada soal siapa yang membawa ganja. Ada pertanyaan yang lebih penting: siapa yang mengirim, siapa yang menunggu, dan siapa yang mengatur perjalanan barang tersebut?

Sebab, pengiriman narkotika dari Panyabungan ke Tangerang bukan perjalanan pendek. Ada jalur yang harus ditempuh, orang yang berkomunikasi, barang yang dipindahkan, dan penerima yang semestinya menunggu di ujung perjalanan.

Di titik itulah peran kurir menjadi penting bagi jaringan, sekaligus berisiko bagi orang yang menjalankannya.

Remaja yang berada di lapangan berhadapan langsung dengan aparat dan proses hukum. Sementara pihak yang mengatur pengiriman bisa saja berada jauh dari lokasi penangkapan.

Karena itu, keberhasilan polisi menyita 3,4 kilogram ganja baru merupakan satu bagian dari pekerjaan. Bagian lainnya adalah menelusuri jaringan di balik pengiriman tersebut.

Apalagi, dalam kasus ini polisi menyebut masih melakukan pengembangan untuk mengungkap jaringan peredaran narkotika lintas provinsi.

Jika penyidikan hanya berhenti pada dua orang yang ditemukan membawa barang, maka persoalan besarnya belum sepenuhnya terjawab. Dari mana ganja itu dikirim, kepada siapa akan diserahkan, dan siapa yang mengatur distribusinya?

Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi lebih penting ketika salah satu mata rantainya masih berusia 15 tahun.

Anak tersebut mungkin berada di ujung rantai. Tetapi ujung rantai bukan berarti akhir persoalan. Justru dari sanalah polisi dapat menarik benang menuju pihak yang lebih besar. Sebab dalam perkara narkotika, yang membawa tas belum tentu orang yang paling menentukan isi tas. (*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *