JEJAK KATA, Tangerang—Tangerang 10K 2026 belum dimulai, tetapi para pelari sudah lebih dulu memanaskan langkah. Sabtu, 8 Agustus 2026, sekitar 100 pelari dari berbagai komunitas berkumpul dalam City Touchdown di Kopi Nako Alam Sutera.
Kegiatan yang digelar Harian Kompas bersama bank bjb dan Pemerintah Kota Tangerang itu menjadi pemanasan menuju Tangerang 10K yang dijadwalkan berlangsung 13 September 2026.
Bukan sekadar lari. Setelah menempuh aktivitas lari, peserta mengikuti Open Talks yang membahas kesiapan lomba sekaligus perkembangan budaya lari di Indonesia.
General Manager Event Harian Kompas, Budhi Sarwiadi, mengatakan minat terhadap Tangerang 10K terus meningkat. Sejumlah kategori pendaftaran, termasuk early bird dan group of three, disebut terisi relatif cepat.
Penyelenggara juga mengevaluasi pelaksanaan sebelumnya, dari rute hingga pengambilan race pack. Tahun ini, program The Frontliner kembali digelar untuk memberi kesempatan pelari komunitas menempati barisan depan bersama pelari elite nasional dan memperebutkan podium khusus kategori tersebut.
Bagi Pemerintah Kota Tangerang, lomba lari itu sekaligus menjadi cara memperkuat ekosistem olahraga kota.
Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Tangerang, Kaonang, mengatakan bahwa pemerintah tidak hanya mempersiapkan hari perlombaan, tetapi juga pengalaman peserta sejak tiba di Tangerang.
Sejumlah fasilitas pendukung disiapkan, antara lain Race Pack Collection di Pusat Pemerintahan Kota Tangerang, Festival Kuliner di Stadion Benteng Reborn, serta layanan shuttle untuk mobilitas peserta.
Bank bjb melihat ajang ini dari sudut yang lebih lebar. Deputy Corporate Secretary bank bjb, Sani Ikhsan Maulana, mengatakan, Tangerang 10K dapat menjadi ruang untuk memperkuat komunitas, mempromosikan UMKM, sekaligus mendorong gaya hidup sehat.
Target peserta tahun ini juga naik. Jika 2.500 slot pada 2025 habis terserap, jumlahnya dinaikkan menjadi 3.000 slot untuk 2026. Menjelang perlombaan, kata Sani, tersisa sedikit slot.
Tangerang 10K 2026 akan digelar di kawasan Pusat Pemerintahan Kota Tangerang dengan tema “Made To Move”.
Lari, dalam konteks ini, bukan hanya soal siapa yang paling cepat sampai garis finis. Ia juga menjadi cara sebuah kota mempertemukan olahraga, komunitas, ruang publik, dan aktivitas ekonomi lokal.
Tangerang kini tinggal menunggu suara peluit pertama. Setelah itu, ribuan langkah akan menentukan apakah slogan Made To Move sekadar tema acara atau benar-benar menjadi gambaran sebuah kota yang bergerak. (*






