Wisata dan Kuliner

Menjelajah Rasa Kemerdekaan di Lima Sudut Kuliner Kota Tangerang

×

Menjelajah Rasa Kemerdekaan di Lima Sudut Kuliner Kota Tangerang

Sebarkan artikel ini
Sejumlah warga datang membeli takjil di Pasar Lama, Kelurahan Sukasari, Kecamatan Tangerang, Kota Tangerang, Provinsi Banten | FOTO: Dok. Diskominfo Kota Tangerang

JEJAK KATA, Kota Tangerang — Kemerdekaan tak selalu harus dirayakan dengan upacara, lomba, atau kibaran bendera di depan rumah. Di Kota Tangerang, ia bisa dirayakan dengan cara yang lebih sederhana: menyusuri gang kuliner, duduk di bangku warung, lalu menyantap makanan yang resepnya bertahan melampaui pergantian zaman.

Momentum HUT ke-81 Republik Indonesia menjadi alasan untuk menjelajah kuliner lokal. Tak perlu meninggalkan kota. Sejumlah makanan justru menyimpan cerita tentang keluarga, tradisi, dan perjalanan panjang usaha kecil yang tumbuh bersama masyarakat Tangerang.

Laksa Tangerang menjadi salah satu pintu masuknya.

Kuahnya gurih dengan racikan rempah, berpadu mi berbahan beras dan pelengkap lainnya. Kuliner yang telah menjadi identitas Tangerang ini antara lain dapat ditemui di Kawasan Kuliner Laksa dan Pasar Lama.

Dari sana, perjalanan rasa bisa dilanjutkan ke Sate H. Ishak di kawasan Pasar Lama. Usaha kuliner yang berdiri sejak 1954 itu mempertahankan resep secara turun-temurun. Sate bukan sekadar menu makan, melainkan jejak sebuah keluarga yang menjaga resep ketika selera zaman terus berubah.

Untuk sarapan, ada Bubur Ayam Spesial Ko Iyo. Berdiri sejak 1966, kuliner ini juga mengandalkan resep keluarga yang dipertahankan selama puluhan tahun. Semangkuk bubur dapat menjadi jeda sebelum menyusuri hiruk-pikuk kawasan Pasar Lama.

Jika ingin sesuatu yang lebih ringan, Serabi Hijau bisa menjadi pilihan. Jajanan berbahan tepung itu tampil dengan warna hijau dan rasa manis. Saus pandan dan durian menjadi pilihan pelengkap. Harganya relatif terjangkau untuk sekadar menemani perjalanan kuliner bersama keluarga.

Pasar Lama sendiri tak berhenti pada kuliner legendaris. Kawasan ini juga dipenuhi jajanan yang mengikuti selera zaman: telur gulung, bola ubi, hingga aneka panganan kekinian. Sore hingga malam, kawasan tersebut berubah menjadi ruang pertemuan antara makanan lama dan selera baru.

Di sinilah kuliner menjadi lebih dari urusan perut. Ia menyimpan ingatan.

Resep yang diwariskan, warung yang bertahan, dan pedagang yang terus membuka lapak menunjukkan bahwa sejarah sebuah kota tak selalu tersimpan di museum. Kadang ia mengepul dari panci, dibungkus kertas, atau disajikan dalam semangkuk bubur.

Merayakan kemerdekaan dengan menjelajah kuliner lokal karena itu bukan sekadar wisata rasa. Ada pelaku usaha lokal yang ikut hidup dari setiap kunjungan.

Maka, untuk mengisi libur HUT ke-81 RI, tak perlu buru-buru mencari tiket ke luar kota. Cukup siapkan daftar kuliner, ajak keluarga atau teman, lalu berjalan menyusuri sudut-sudut Kota Tangerang.

Sebab kemerdekaan juga bisa dirayakan dengan mengenali kembali apa yang tumbuh di halaman sendiri. (*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *