OPINI—Ada ironi setiap kali demonstrasi hendak digelar. Massa belum berangkat, kerusuhan belum terjadi, batu belum melayang, tetapi kabar tentang kekacauan sudah lebih dulu berlari.
Seolah-olah kerusuhan mempunyai jadwal sendiri.
Padahal, orang-orang yang turun ke jalan membawa tuntutan. Sebagian membawa poster, spanduk, megafon, dan keberanian. Banyak pula yang datang dengan niat sederhana: menyampaikan kegelisahan kepada penguasa. Mereka boleh marah, boleh keras, boleh berteriak. Tetapi tidak otomatis berarti mereka datang untuk membuat kerusuhan.
Karena itu, kewaspadaan memang perlu. Namun kewaspadaan jangan sampai berubah menjadi prasangka.
Polisi tentu mempunyai kewajiban mengantisipasi kemungkinan terburuk. Mengatur lalu lintas, menyiapkan personel, memetakan titik rawan, mengimbau peserta aksi agar tertib—semua itu bagian dari tanggung jawab menjaga keamanan. Dalam urusan mitigasi, lebih baik repot sebelum kejadian daripada sibuk mencari alasan setelah kejadian.
Masalahnya muncul ketika peringatan tentang kerusuhan justru datang dari kelompok-kelompok yang bukan aparat keamanan. Mereka begitu rajin mencurigai massa demonstran akan rusuh, seakan-akan mempunyai akses ke naskah masa depan.
Di sinilah pertanyaan patut diajukan: mengapa begitu yakin akan terjadi kerusuhan?
Apakah mereka memiliki informasi intelijen? Atau sekadar terlalu banyak mengonsumsi kabar burung?
Kecurigaan berlebihan justru bisa menjadi bagian dari masalah. Massa yang semula datang dengan tuntutan dapat merasa dicurigai sejak awal. Aparat pun bisa terdorong melihat kerumunan bukan sebagai warga yang sedang menyampaikan aspirasi, melainkan sebagai ancaman yang harus dikendalikan.
Padahal, dalam demonstrasi, ketegangan tidak selalu lahir dari peserta aksi.
Kerumunan besar adalah ruang yang mudah dimasuki siapa saja. Jika ada pihak yang memang berniat membuat kekacauan, mereka tidak perlu datang dengan papan nama bertuliskan “Saya Penyusup.” Mereka cukup membaur, menunggu momentum, lalu membuat satu tindakan provokatif. Setelah itu, semua orang di dalam kerumunan bisa terkena getahnya.
Karena itu, yang perlu diantisipasi bukan hanya demonstrannya.
Justru pihak-pihak yang sejak awal terlalu bersemangat mengatakan demonstrasi akan rusuh juga layak diperhatikan. Bukan berarti mereka otomatis penyusup. Tentu tidak. Tetapi kewaspadaan yang sehat mestinya berlaku ke segala arah.
Jangan sampai kita sibuk mencari batu di tangan demonstran, tetapi lupa memperhatikan siapa yang sedang sibuk mencari batu.
Demonstrasi pada dasarnya adalah mekanisme demokrasi. Ia menjadi masalah ketika berubah menjadi kekerasan. Karena itu, negara wajib menjaga agar aksi tetap damai sekaligus memastikan tidak ada pihak yang memanfaatkan kerumunan untuk tujuan lain.
Tugas keamanan bukan meramal kerusuhan. Tugasnya mencegah kerusuhan.
Dan tugas publik bukan memperkeruh suasana dengan tuduhan sebelum bukti muncul.
Sebab kerusuhan yang belum terjadi tidak boleh diperlakukan seperti perkara yang sudah terbukti. Jika setiap demonstrasi diawali dengan prasangka bahwa massa pasti rusuh, kita bukan sedang menjaga demokrasi. Kita sedang menyiapkan panggung agar kecurigaan menjadi pemeran utama.
Ironisnya, bisa saja massa datang membawa perjuangan yang tulus, sementara kerusuhan justru datang dari orang yang tidak membawa tuntutan apa-apa. Mereka hanya membawa agenda.
Dan mungkin, itu sebabnya kewaspadaan tidak boleh berhenti pada kerumunan yang terlihat. Sesekali, kita perlu melihat siapa yang paling sibuk menunjuk-nunjuk kerumunan sambil berteriak, “Hati-hati, nanti rusuh!”
Sebab dalam demokrasi, yang paling berbahaya bukan hanya orang yang melempar batu.
Kadang, orang yang terlalu cepat menunjuk siapa pelempar batunya juga patut ditanya: Anda tahu dari mana? (*
Oleh: Jejak Kata






