WISATA — Anak Krakatau pernah menjadi magnet bagi wisatawan yang ingin merasakan sensasi berdiri di dekat gunung api aktif di tengah Selat Sunda. Pasir hitam, lereng vulkanik, dan laut biru menjadi paket petualangan yang sulit ditemukan di tempat lain.
Trekking menuju batas aman kawah menjadi salah satu aktivitas yang paling diburu. Wisatawan berjalan di atas pasir vulkanik, kemudian berhenti untuk menikmati panorama Selat Sunda dan pulau-pulau vulkanik di sekitarnya. Kamera menjadi teman perjalanan untuk mengabadikan lanskap yang terbentuk dari aktivitas gunung api.
Daya tarik itu tidak lepas dari nama besar Krakatau. Letusan 1883 menjadikan kawasan ini salah satu lanskap vulkanik paling dikenal dalam sejarah. Anak Krakatau kemudian muncul dan terus tumbuh dari laut, membawa cerita baru dari kawasan yang pernah diguncang letusan dahsyat tersebut.
Namun daya tarik itu memiliki batas.
Ketika aktivitas vulkanik meningkat, Anak Krakatau tidak lagi bisa diperlakukan seperti destinasi wisata biasa. Batas aman menjadi aturan utama. Trekking yang sebelumnya menjadi pengalaman wisata harus tunduk pada kondisi gunung dan rekomendasi keselamatan.
Perubahan itu penting di tengah kembali mengemukanya perhatian terhadap kawasan Selat Sunda setelah aktivitas pencarian terhadap rombongan yang hilang kontak di perairan tersebut.
Anak Krakatau, dalam situasi seperti ini, bukan sekadar latar foto atau tujuan perjalanan. Ia adalah gunung api aktif yang berada di kawasan laut dengan dinamika alam yang tidak selalu mudah diprediksi.
Sebelum pembatasan aktivitas diperketat, wisatawan juga biasa menggabungkan perjalanan ke kawasan Krakatau dengan wisata bahari. Pulau Sebesi, Pulau Rakata, dan Lagoon Cabe menjadi sejumlah lokasi yang dikenal untuk menikmati ekosistem bawah laut, termasuk terumbu karang dan ikan tropis.
Kontras antara lanskap vulkanik dan kehidupan bawah laut itulah yang selama ini membuat kawasan Krakatau memiliki daya tarik tersendiri. Daratan memperlihatkan jejak letusan, sementara laut menawarkan kehidupan yang terus tumbuh.
Kini cara menikmati Krakatau pun perlu berubah.
Bukan lagi soal seberapa dekat wisatawan dapat mencapai kawah atau seberapa dramatis foto yang bisa dihasilkan. Ukurannya adalah apakah perjalanan dilakukan sesuai ketentuan keselamatan dan kondisi terbaru gunung api.
Sebab Anak Krakatau bukan gunung yang sedang menunggu wisatawan. Ia terus bergerak, tumbuh, dan berubah.
Di kawasan seperti ini, mengetahui kapan harus berhenti bukan berarti kehilangan petualangan. Justru di situlah batas antara wisata dan kecerobohan menjadi jelas. (*






