Jejak KataSeni dan Hiburan

Ketika Krakatau Mengguncang Panggung Musik Indonesia

×

Ketika Krakatau Mengguncang Panggung Musik Indonesia

Sebarkan artikel ini
Grup Band Krakatau | Foto: Dok. Instagram @krakatau.official

HIBURAN — Ledakan Krakatau ratusan tahun silam kedahsyatan mengguncang dunia. Suaranya terdengar ribuan kilometer dari Selat Sunda. Letusannya mengubah lanskap, memicu tsunami, dan meninggalkan jejak panjang dalam sejarah.

Setelah letusan super-dahsyat tersebut menghancurkan lebih dari dua pertiga tubuh gunung induknya dan menyisakan kaldera (kawah raksasa) di bawah permukaan laut Selat Sunda. Sisa gunung api purba itu masih kerap memuntahkan lahar dan membawa ingatan ke ratusan tahun silam.

Lalu, tahun 1984, di Bandung. Nama induk gunung merapi purba itu kembali mencuat. Bukan dari kawah perut bumi, bukan pula abu vulkanis yang membuat anak-anak sekolah terpaksa melakukan pembelajaran jarak jauh. Melainkan dari panggung musik Indonesia.

Sekelompok musisi memilih nama Krakatau dijadikan sebuah grup musik yang kelak menjadi salah satu legenda jazz fusion Indonesia. Jika gunung itu menyimpan energi di perut bumi, Krakatau versi musik menyimpan ledakannya dalam bass, keyboard, gitar, drum, dan vokal.

Band ini digerakkan oleh dua nama penting: Dwiki Dharmawan dan Pra Budi Dharma. Dari kota yang dikenal sebagai salah satu episentrum kreativitas musik Indonesia, Krakatau mulai membangun suara sendiri.

Mereka tidak datang untuk sekadar memainkan jazz.

Pada masa awal, Krakatau bergerak di antara jazz rock dan fusion. Komposisi yang rumit bertemu dengan energi panggung. Improvisasi menjadi ruang bermain, sementara karakter masing-masing pemain memberi warna yang membuat musik mereka sulit disamakan dengan kelompok lain. Nama Krakatau pun perlahan meledak.

Dari Delta ke Krakatau

Jauh sebelum dikenal luas, kelompok ini sempat menggunakan nama Delta dan Mesopotamia. Formasi awalnya diisi Pra Budi Dharma pada bass, Dwiki Dharmawan pada keyboard, Donny Suhendra pada gitar, dan Budhy Haryono pada drum.

Titik penting datang pada 1986. Indra Lesmana masuk pada keyboard. Gilang Ramadhan mengisi drum. Trie Utami bergabung sebagai vokalis dengan karakter suara yang segera menjadi salah satu penanda penting Krakatau.

Formasi ini kemudian menjadi fase yang paling melekat dalam ingatan publik.

Musik mereka tidak lagi hanya hidup di kalangan penikmat jazz. Lagu-lagu seperti “Gemilang”, “Kau Datang”, dan “Sekitar Kita” membawa Krakatau ke telinga pendengar yang lebih luas. Seperti namanya, band ini tidak memilih jalan yang tenang.

Ketika Musik Tradisi Masuk ke Dalam Jazz

Memasuki dekade 1990-an dan 2000-an, Krakatau kembali berubah. Mereka tidak puas berhenti sebagai kelompok jazz fusion.

Gamelan dan instrumen tradisional Indonesia mulai masuk ke dalam eksplorasi musik mereka. Jazz bertemu bunyi-bunyian Nusantara. Eksperimen itu membawa Krakatau ke wilayah yang kemudian dikenal sebagai world jazz.

Sejumlah musisi turut memperkuat fase tersebut, antara lain Ade Rudiana, Nya Ina Raseuki atau Ubiet, Yoyon Dharsono, Zainal Arifin, dan Gerry Herb.

Perubahan itu menunjukkan satu hal: Krakatau bukan band yang senang membangun rumah dengan satu kamar. Mereka terus membongkar dindingnya sendiri.

Album Krakatau pada 1987 dan Kau Datang pada 1988 menjadi bagian dari perjalanan awal mereka. Bertahun-tahun kemudian, Kembali Satu pada 2016 menandai babak lain dalam perjalanan kelompok ini.

Lagu-lagu seperti “Gemilang”, “Kau Datang”, “Sekitar Kita”, dan “La Samba Primadona” tetap menjadi bagian dari ingatan pendengar. Pada fase etnik, “Genjring Party” menunjukkan keberanian Krakatau mempertemukan jazz dengan warna musik tradisional.

Empat dekade lebih setelah dibentuk, nama itu masih memiliki daya ledak. Bedanya dengan gunung yang menjadi sumber inspirasinya, Krakatau versi musik tidak meninggalkan abu atau tsunami. Ia meninggalkan bunyi.

Bunyi itu menempuh jalannya sendiri: dari panggung-panggung Bandung, rekaman, radio, hingga telinga generasi yang bahkan belum lahir ketika band itu pertama kali berdiri.

Gunung Krakatau pada 1883 mengubah dunia dengan ledakan. Krakatau, band asal Bandung, memilih cara yang lebih damai untuk mengguncangnya: musik.

Jika letusan 27 Agustus 1883 menjadi salah satu dentuman paling dahsyat yang pernah dicatat manusia, maka Krakatau adalah upaya lain untuk membuat Indonesia mendengar sebuah ledakan—bukan dari perut bumi, melainkan dari kreativitas para musisinya.

Dan, perkembangan terbaru grup Band Krakatau, masih aktif mengisi berbagai event musik, termasuk tampil dalam kolaborasi spesial bersama Karimata pada pertengahan tahun 2026 ini. (*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *