KULINER — Pada 26–27 Agustus 1883, Krakatau seperti membelah langit. Letusannya terdengar hingga ribuan kilometer, memicu gelombang tsunami besar, dan menewaskan puluhan ribu orang. Peristiwa itu kemudian tercatat sebagai salah satu letusan gunung berapi paling mematikan dalam sejarah modern.
Krakatau boleh telah runtuh. Tetapi kisahnya tidak benar-benar berakhir.
Dari kawasan kaldera itu kemudian muncul gunung baru yang dikenal sebagai Anak Krakatau. Gunung api yang lahir pada awal abad ke-20 tersebut terus tumbuh dan berulang kali menunjukkan aktivitas vulkaniknya. Ia menjadi semacam pengingat bahwa di Selat Sunda, api bumi belum benar-benar padam.
Nama Krakatau rupanya juga mengembara jauh dari laut.
Di meja makan, kedahsyatan gunung itu diterjemahkan menjadi sesuatu yang lebih sederhana—dan bisa dicoba tanpa harus menyeberangi Selat Sunda: sambal.
Namanya Sambal Krakatau
Di Sei Sapi Zensei, sambal ini menjadi pasangan bagi se’i, daging asap khas Kupang yang belakangan semakin mudah ditemui di berbagai kota. Namanya bukan sekadar tempelan. Sambal Krakatau dirancang untuk menghadirkan sensasi pedas yang menghentak, seperti letusan yang menjadi sumber inspirasinya.
Jika Krakatau pada 1883 membuat laut bergerak, Sambal Krakatau cukup membuat lidah gelisah.
Level kepedasannya dibuat bertingkat. Pengunjung dapat memilih tingkat yang sesuai dengan keberanian masing-masing. Pada level tinggi, sensasinya datang cepat: pedas menyengat, kemudian meninggalkan panas yang bertahan setelah suapan berlalu.
Tetapi sambal itu tidak bekerja sendirian. Ada se’i sapi yang menjadi pemeran utama. Daging diproses dengan cara pengasapan menggunakan kayu bakar. Ia tidak dimatangkan langsung oleh jilatan api, melainkan oleh panas dan asap yang perlahan meresap.
Hasilnya adalah daging dengan aroma smoky yang kuat. Irisannya relatif tipis, sehingga bumbu dan aroma asap mudah bertemu dengan sambal ketika masuk ke mulut. Di sinilah Sambal Krakatau menemukan pasangan yang masuk akal.
Asap pada se’i memberikan rasa gurih dan aroma bakar. Sambal menyusul dengan tendangan pedas. Nasi jeruk atau nasi cikur menjadi penyeimbang yang membuat satu piring tidak terasa seperti lomba ketahanan lidah.
Se’i sendiri merupakan bagian dari tradisi kuliner Kupang, Nusa Tenggara Timur. Di daerah asalnya, olahan ini dikenal menggunakan daging babi atau rusa. Namun di outlet yang menyajikan versi halal, bahan tersebut digantikan dengan daging sapi dan ayam.
Perjalanan se’i dari Kupang ke kota-kota besar memang menarik. Daging yang dahulu erat dengan lanskap kuliner Nusa Tenggara Timur kini masuk ke dalam daftar makanan yang diburu pencinta kuliner perkotaan.
Sei Sapi Zensei termasuk salah satu tempat yang menawarkan menu tersebut. Outletnya antara lain berada di Bandung, dengan beberapa titik seperti kawasan Ranggamalela, Jalan Banda, Pasteur, dan Jatinangor. Ada pula titik penjualan di kawasan Pancoran, Jakarta Selatan.
Namun yang membuat pengalaman makan ini sedikit berbeda adalah nama sambalnya.
Krakatau biasanya menghadirkan bayangan tentang letusan, abu, tsunami, dan kehancuran. Namun di meja makan, semua gambaran itu dipadatkan menjadi satu sensasi: pedas.
Tentu saja sambal tidak akan membuat Selat Sunda bergelombang. Tidak pula membuat gunung api mengeluarkan asap. Tetapi ada satu kesamaan yang mudah dipahami lidah: datangnya tiba-tiba dan sulit diabaikan.
Krakatau pernah mengajarkan bahwa sesuatu yang tampak diam bisa menyimpan energi luar biasa. Sambal Krakatau mengambil gagasan yang sama dalam ukuran jauh lebih kecil—cukup sebesar satu sendok, tetapi mampu membuat orang berhenti sejenak setelah menyantapnya.
Bedanya, letusan Krakatau meninggalkan sejarah panjang. Sementara Sambal Krakatau meninggalkan pertanyaan sederhana di meja makan: Masih berani menambah satu suapan lagi? (*






