HISTORI — Cokelat punya cara sendiri untuk menaklukkan manusia. Ia tidak datang membawa meriam, tidak pula menuntut upeti. Cukup sepotong kecil yang meleleh di lidah, lalu kenangan tentang pahit, manis, dan aroma panggang ikut bekerja.
Setiap 13 September, dunia memperingati Hari Cokelat Internasional. Perayaan ini menjadi alasan untuk mengenang perjalanan panjang kakao—dari tanaman tropis yang dahulu dianggap biasa saja hingga menjadi bahan pangan bernilai tinggi yang menghuni rak supermarket, kafe, toko oleh-oleh, sampai meja makan.
Di Indonesia, kisahnya jauh lebih tua daripada dugaan banyak orang.
Kakao disebut mulai masuk ke Nusantara pada 1560, melalui jalur Spanyol dari Filipina menuju Minahasa, Sulawesi Utara. Jadi, kalau selama ini Belanda sering mendapat kredit sebagai pembawa berbagai tanaman perkebunan ke Nusantara, untuk urusan kakao ceritanya tidak sesederhana itu.
Bibit awal yang dibawa disebut berasal dari varietas Criollo, yang jejak asalnya berkaitan dengan Amerika Latin dan kemudian dikembangkan melalui Filipina.
Namun kakao ketika itu belum menjadi primadona. Pemerintah kolonial lebih sibuk mengurus komoditas yang sudah terbukti menghasilkan cuan: kopi, teh, gula, dan rempah-rempah. Kakao masih seperti pemain figuran—hadir, tetapi belum mendapat panggung utama.
Ketika Kopi dan Teh Tersandung Hama
Kisah kakao berubah ketika perkebunan kopi dan teh mulai menghadapi berbagai persoalan pada abad ke-19. Penyakit dan hama membuat pengusaha perkebunan mencari tanaman alternatif. Kakao kemudian dilirik.
Upaya pengembangan dilakukan di sejumlah wilayah, termasuk Maluku dan sekitar Manado. Hasilnya tidak selalu mulus. Tanaman kakao ternyata bukan jenis yang gampang diajak kompromi. Penyakit dan persoalan budidaya membuat sejumlah percobaan mengalami kegagalan.
Pada 1880, pemerintah kolonial kembali mendatangkan varietas Criollo dari Venezuela untuk dikembangkan di Jawa.
Penelitian kemudian bergerak ke persoalan yang lebih serius: bagaimana mendapatkan tanaman yang lebih kuat menghadapi penyakit dan hama.
Pada awal abad ke-20, perkebunan-perkebunan besar di Jawa, termasuk Getas dan Asinan, menjadi bagian dari pengembangan dan penelitian varietas kakao. Kakao perlahan menemukan tempatnya.
Tetapi ada ironi yang menarik. Tanaman yang kelak menghasilkan cokelat sebagai makanan kesukaan jutaan orang itu pada masa kolonial belum menjadi bagian dari budaya konsumsi masyarakat luas. Olahannya lebih banyak beredar di lingkungan tertentu, termasuk sebagai minuman hangat di kalangan elite dan lingkungan perkebunan. Cokelat belum menjadi jajanan rakyat.
Dari Kebun Menjadi Komoditas Rakyat

Perubahan besar berlangsung jauh setelah masa kolonial. Memasuki dekade 1970-an hingga 1990-an, pengembangan kakao rakyat semakin masif. Sulawesi menjadi salah satu pusat penting, disusul berbagai wilayah di Sumatera, Bali, dan Jawa.
Petani mulai menanam kakao. Kebun-kebun kecil tumbuh. Indonesia kemudian menjelma menjadi salah satu pemain penting dalam perdagangan biji kakao dunia.
Di sinilah cerita kakao Indonesia menjadi menarik: kita memiliki kebun kakao yang luas dan pernah menjadi eksportir besar, tetapi pengolahan di dalam negeri tidak serta-merta mengikuti besarnya produksi bahan baku.
Biji kakao lebih dahulu menjadi komoditas perdagangan daripada menjadi kebanggaan kuliner.
Baru dalam perkembangan industri hilir, cokelat lokal mulai memperoleh ruang lebih besar. Produk cokelat tidak lagi sekadar hasil olahan industri besar. Muncul produsen skala kecil, artisan chocolate, cokelat berbasis kakao lokal, hingga wisata edukasi yang mengajak orang mengenali perjalanan biji kakao dari kebun sampai menjadi makanan.
Dari sini orang mulai memahami bahwa cokelat bukan sekadar rasa manis. Ada fermentasi, pengeringan, pemanggangan, penggilingan, dan tentu saja karakter tanah tempat kakao tumbuh.
Garut dan Jejak Pabrik Cokelat

Dalam sejarah industri cokelat Indonesia, nama NV Ceres menempati tempat khusus. Cikal bakal industri ini disebut berdiri di Garut, Jawa Barat, pada awal 1890-an. Lokasi awalnya berada di kawasan Cimanuk. Perusahaan yang kemudian dikenal sebagai Ceres tersebut menjadi salah satu perintis industri pengolahan cokelat di Indonesia.
Pada masa awal, produksinya berupa serbuk cokelat sebelum berkembang menuju produk cokelat batangan. Perjalanan perusahaan itu tidak selalu manis.
Pada masa pendudukan Jepang, perusahaan mengalami masa sulit hingga akhirnya bangkrut. Setelah Indonesia memasuki era kemerdekaan, pada 1950 perusahaan tersebut dibeli oleh Ming Chee Chuang, pengusaha asal Burma keturunan Tionghoa.
Dari tangan baru itulah kisah Ceres memasuki babak yang kemudian sangat akrab dengan lidah orang Indonesia.
SilverQueen lahir dan berkembang menjadi salah satu merek cokelat paling dikenal di negeri ini. Produksinya kemudian berkembang besar di Bandung. Cokelat yang dahulu hanya dikenal sebagai minuman di lingkungan tertentu berubah menjadi pangan populer. Batangan cokelat tidak lagi menjadi barang asing yang hanya ditemukan di meja kaum berada.
Ia masuk ke toko, warung, pusat oleh-oleh, dan tas sekolah. Kacang mete yang melekat pada SilverQueen bahkan ikut membentuk ingatan generasi Indonesia tentang seperti apa cokelat seharusnya terasa.
Kakao, Tanaman yang Tak Sekadar Manis
Sejarah cokelat Indonesia pada akhirnya adalah cerita tentang perjalanan sebuah tanaman yang berpindah tangan, melintasi laut dan kekuasaan.
Ia datang melalui jalur Spanyol dari Filipina, melewati masa kolonial, diuji oleh penyakit tanaman, dikembangkan di perkebunan, lalu menyebar ke kebun-kebun rakyat. Kemudian industri mengambilnya.
Dari biji kakao yang tampak sederhana, lahirlah serbuk, batangan, minuman, permen, hingga beragam produk cokelat yang kini memenuhi pasar.
Hari Cokelat Internasional pada 13 September karena itu bukan sekadar perayaan bagi makanan manis. Ia juga bisa menjadi pengingat bahwa sepotong cokelat menyimpan perjalanan panjang: tentang perdagangan, perkebunan, teknologi, petani, industri, dan perubahan selera masyarakat.
Cokelat memang manis. Tapi sejarahnya tidak selalu begitu. Ada kolonialisme, kegagalan budidaya, perebutan pasar, dan panjangnya perjalanan dari kebun ke meja makan.
Dan mungkin di situlah letak kenikmatan sebenarnya: setiap kali cokelat meleleh di lidah, yang kita makan bukan cuma rasa manis, melainkan sepotong kecil sejarah Nusantara. (*






