JEJAK KATA, Tangerang — Angka 394 kini punya wajah baru. Pemerintah Kabupaten Tangerang meluncurkan logo Hari Jadi ke-394. Logo itu bukan sekadar angka yang dipoles menjadi simbol perayaan. Di dalamnya diselipkan cerita tentang budaya, pesisir, hingga semangat pembangunan.
Hari jadi Kabupaten Tangerang saat ini diatur dalam Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Tangerang Nomor 2 Tahun 2020 tentang Hari Jadi Kabupaten Tangerang.
Berdasarkan regulasi terbaru ini, hari jadi Kabupaten Tangerang ditetapkan jatuh pada tanggal 13 Oktober 1632. Perda ini sekaligus mencabut aturan lama, yaitu Perda Nomor 18 Tahun 1984, yang sebelumnya menetapkan hari jadi pada tanggal 27 Desember 1943.
Logo tersebut merupakan karya Ilham Azi Fadilah, pemenang Lomba Cipta Karya Logo HUT ke-394 Kabupaten Tangerang. Sebanyak 89 peserta mengikuti lomba itu. Setelah melewati seleksi administrasi, teknis, dan penilaian desain, tiga karya melaju ke babak akhir. Ilham akhirnya keluar sebagai pemenang.
Bupati Tangerang Moch. Maesyal Rasyid mengatakan logo tersebut menjadi bagian dari identitas hari jadi sekaligus menyampaikan pesan mengenai arah pembangunan daerah. Tema yang dipilih: “Terus Bergerak Semakin Berdampak.”
“Logo ini bukan hanya sebagai identitas Hari Jadi Kabupaten Tangerang, tetapi juga menggambarkan semangat kita untuk terus bergerak dan memberikan dampak yang nyata bagi masyarakat,” kata Maesyal.
Ilham menyusun angka 394 dari sejumlah simbol lokal. Angka tiga, misalnya, mengambil inspirasi dari batik Kacang Benih Cisoka. Menurut dia, unsur itu menggambarkan semangat berkarya dengan bertumpu pada kearifan lokal.
Angka sembilan mengambil bentuk yang terinspirasi dari wilayah pesisir Kabupaten Tangerang. Ombak menjadi lambang dinamika daerah dan pembangunan yang terus bergerak.
Adapun angka empat mengambil inspirasi dari ayam wareng, yang disebut Ilham sebagai satwa endemik Kabupaten Tangerang. Ayam itu menjadi metafora masyarakat yang lincah, gesit, tegas, dan berani tumbuh.
Semua unsur tersebut kemudian dirangkai menjadi visual api dengan kobaran yang dinamis. Bagi Ilham, api adalah gambaran semangat daerah untuk terus maju. Cahayanya yang menyebar ke berbagai arah dimaknai sebagai harapan agar pembangunan dirasakan masyarakat secara luas.
Angka akhirnya bukan lagi sekadar angka. Ia menjadi semacam janji visual: bergerak, tumbuh, lalu berdampak. Tinggal bagaimana janji itu kelak diuji di jalan, kampung, pesisir, dan ruang-ruang kehidupan warga Kabupaten Tangerang.
Kalau ingin, saya juga bisa membuat versi yang lebih “nakal” dan satir khas Tempo, tetapi tetap aman secara jurnalistik. (*






