EsaiJejak Kata

Ketika Teknologi AI Menjadi Jalan Sesat Kalangan Mahasiswa

×

Ketika Teknologi AI Menjadi Jalan Sesat Kalangan Mahasiswa

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI | Istimewa

TEKNOLOGI sudah menjadi salah satu kebutuhan krusial bagi banyak orang, terutama di bidang informasi. Salah satu teknologi kekinian yang sedang menjadi trend adalah Artificial Intelligence (AI).

Teknologi ini sudah mengalami banyak kemajuan dan sangat mudah untuk diakses, sehingga mempermudah masyarakat dalam mencari dan mengakses informasi. Namun terkadang ini tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan, karena berbagai sebab: kurang bisa menggunakan atau ‘grusa-grusu’ diantaranya.

Di kalangan mahasiswa, teknologi AI bukan sekadar dijadikan untuk tempat mencari dan mengakses informasi, tetapi sebagai alat untuk mengerjakan tugas. Salah satu AI yang paling banyak digunakan di kalangan mahasiswa sekarang adalah ChatGPT.

Nah, bicara soal teknologi ChatGPT, ini ada beberapa hal yang kerap dihadapi oleh mahasiswa. Diantaranya adalah, alih-alih untuk mencari referensi atau ide dalam mengerjakan tugas, malah menjadikan teknologi ini sebagai tempat untuk mencari jawaban semua tugas-tugas secara total. Artinya, bukannya mencoba berusaha untuk menjawabnya sendiri, tetapi lebih memilih untuk langsung menanyakannya kepada ChatGPT, dan ‘copy paste’. Jawaban yang diberikan oleh ChatGPT diterima secara mentah-mentah tanpa melihat dulu apakah itu sudah sesuai atau belum. Lebih-lebih kalau sudah dalam kondisi terdesak atau ‘mepet deadline’, sudah pasti berpikir yang penting beres.

Dan, apa yang terjadi? Tidak menutup kemungkinan, jawabannya pasti akan blunder!

Maka dari itu, penggunaan AI harus diikuti juga dengan sikap yang bijak, agar tidak salah dan menyebabkan ketergantungan. Karena, yang namanya teknologi pasti memiliki kelebihan dan kekurangan, sehingga kita perlu melakukan analisa dari hasil yang kita dapat, sehingga kunci jawaban tidak sekadar ada, tetapi tepat, logis dan bisa diterima akal sehat.

Dampak Positif dan Kelebihan

Teknologi ChatGPT, ini sangat bisa mendukung dan membantu mahasiswa dalam menunjang produktivitas kegiatan sehari-hari, terutama membantu dalam proses belajar. Selain itu, ketika mahasiswa masih kurang memahami materi yang dijelaskan atau diberikan oleh dosen di kelas, di situlah saat yang tepat bagi mahasiswa untuk meminta penjelasan lebih jelas dan mendetail kepada ChatGPT agar lebih mengerti materi tersebut. Juga bisa digunakan untuk mencari referensi atau ide untuk tulisan ketika dapat tugas membuat essay. Dan, jika mahasiswa bisa memanfaatkannya dengan baik, ChatGPT bisa jadi tempat untuk melatih cara berpikir kritis dalam proses tanya-jawab suatu masalah dan banyak hal lainnya.

Dampak Negatif dan Kekurangan

Terlepas dari banyaknya dampak positif dan kelebihan yang diberikan, pasti tidak luput dari adanya dampak negatif dan kekurangannya. Meskipun ChatGPT dianggap serba tahu, tetapi belum tentu jawaban yang diberikan itu akurat dan benar, sehingga apabila menjadikan jawabannya tersebut untuk menjawab tugas-tugas kita secara mentah-mentah, akan sangat berisiko mendapatkan nilai yang buruk. Maka dari itu kita jangan mudah percaya, dan harus mencari tahu lebih dalam.

Terkadang juga ChatGPT tidak bisa atau kurang memahami pertanyaan yang kita berikan, terlebih jika itu pertanyaan yang rumit. Terutama bagi mahasiswa ketika mendapat tugas essay, yang di mana harus mencantumkan dan meminta untuk dibuatkan daftar pustaka, biasanya daftar pustaka yang diberikan tidak dapat diakses dan cenderung jurnal berbahasa asing yang malah membuat kita kerja dua kali.

Dampak negatif dan kelebihan yang paling sering terjadi dan dirasakan oleh mahasiswa adalah ketergantungan. Penggunaan ChatGPT yang berlebihan dan menganggapnya sebagai alat yang sangat bisa diandalkan, bisa membuat mahasiswa menjadi ketergantungan untuk terus menggunakannya. Akibatnya, mahasiswa menjadi semakin lebih malas untuk belajar dan lebih memilih untuk terus mengandalkan ChatGPT. Selain itu, dalam posisi tertentu, ketika kita tidak bisa menyampaikan pertanyaan dengan benar dan tepat, hal itu justru akan membuat kita kebingungan, dalam kondisi ini biasanya kita kesulitan mendapatkan jawaban yang benar, dan sebaliknya malah mendapatkan jawaban yang sesat.

Nah, sebagai mahasiswa seharusnya bisa lebih bijak dalam menyikapi kemajuan teknologi terutama di bidang AI. Ketika mendapatkan tugas, setidaknya cobalah terlebih dahulu untuk menjawabnya sendiri dan apabila dirasa mengalami kesusahan baru cobalah meminta bantuan ChatGPT untuk membantu mengolah pikiran dan mendapatkan gambaran, bukan malah semata-mata langsung digunakan untuk mencari jawaban. Jika sudah ketergantungan yang rugi adalah diri sendiri, karena akan mempersulit dalam proses mengembangkan potensi diri. Maka dari mulailah untuk menggunakan teknologi secara bijak dan tidak berlebihan.


Penulis:
Hafiz Eqbal Yusuf
Mahasiswa Pengantar Ilmu Politik, Prodi Ilmu Komunikasi, FISIP
Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Serang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *