BELANDA tidak mengakui kemerdekaan Indonesia. Negeri Kincir Angin itu menganggap Hindia Belanda adalah tanah jajahan dan orang-orangnya yang masih primitif harus dibuat beradab. Maka bagi Belanda kemerdekaan Indonesia yang diproklamirkan Soekarno-Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945 adalah sebuah kekeliruan yang harus diluruskan. Tahun 1946 Belanda dengan membawa bala bantuan tentara Gurkha kembali datang untuk meluruskan apa yang menurut mereka bengkok.
Kedatangan belanda membuat situasi kota jadi semakin kacau, harga-harga kebutuhan pokok naik dratis karena distribusi terganggu, rakyat banyak kelaparan di mana-mana. Tentara Belanda dan Gurkha merangsek masuk kota dan menembaki rakyat sipil dan para pejuang dengan membabi buta. Hanya para bangsawan yang tetap hidup dalam kemudahan: minum anggur dan mendengarkan alunan biola. Di tengah kesulitan ekonomi yang mencekik, Guru Isa, bersama para pemuda gerilyawan mencoba bertahan dan mengatur strategi untuk menghancurkan Belanda.
Situasi perang pascakemerdekaan itulah latar film Perang Kota garapan Mouly Surya yang sedang beredar di bioskop sejak 30 April yang lalu. Tetapi Mouly tidak menjadikan perang sekadar latar, melainkan juga simbol untuk tema yang lebih besar yang diusungnya: perang ego. Perang fisik, adu bayonet, letusan mortir, desing peluru senapan, gedung-gedung yang dibakar, hanya bagian kecil dari perang ego.
Lewat Perang Kota yang dirilis lebih dulu di Belanda, Belgia, dan Luksemburg pada 17 April 2025, dan menjadi film penutup International Film Festival Rotterdam (IFFR) pada Februari 2025 ini, Mouly juga menyampaikan gugatan terhadap sistem patriarkis dengan cara yang sangat ironis. Guru Isa, tokoh utama yang diperankan oleh Chicco Jeriko menderita impotensi. Guru, pemain biola, dan mantan pejuang ini gagal ereksi saat bercinta sehingga Fatimah (Ariel Tatum), istrinya, gagal mendapatkan kebahagiaan di ranjang.
Suatu hari Guru Isa mengetahui Fatimah selingkuh dengan Hazil (Jerome Kurnia), teman sekaligus murid les musiknya. Namun dia memilih untuk menahan diri alih-alih murka. Guru Isa pura-pura tidak mengetahui hubungan Hazil dan Fatimah di belakangnya. Guru Isa tetap memperlakukan keduanya seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Sikap yang dipilih Guru Isa sangat langka pada laki-laki kebanyakan. Sekalipun seandainya mereka menderita impoten seperti yang dialami Guru Isa, yang menjadi penyebab istrinya selingkuh, seorang laki-laki akan murka. Merasa kelelakiannya terkoyak. Itulah ego laki-laki.
Perselingkuhan seorang istri dianggap dosa besar, melukai perasaan dan harga diri suaminya, pokoknya tak terampuni. Tidak demikian bila yang terjadi sebaliknya. Dalam sistem budaya patriarki, suami yang berselingkuh dianggap wajar. Bahkan kadang sebuah kebanggaan dan menjadi simbol penaklukan laki-laki atas perempuan.
Sistem budaya patriarki menempatkan laki-laki sebagai pusat dunia. Menganggap perempuan adalah makhluk lemah untuk dilindungi. Meskipun pada kenyataannya perlindungan yang dijanjikan hanya dalih. Laki-laki tidak nyaman melihat perempuan lebih berdaya karena akan sulit dikontrol dan berpotensi mengusik ego dan eksistensinya. Karena itulah Guru Isa mengirim Fatimah dan anaknya pulang ke Bukittinggi sekalipun Fatimah ingin dan mampu berjuang bersama dengan para gerilyawan. Fatimah bukan tipe perempuan lemah yang pasrah di bawah ketiak suaminya. Dia memiliki keberanian dan kesanggupan mengokang senapan menembak tentara Belanda.
Guru Isa juga tidak marah kepada Hazil bukan sekadar demi menjaga soliditas para gerilyawan melawan Belanda, tetapi yang lebih utama adalah menutupi ketakutannya ketahuan menderita impotensi. Upaya antara menutupi ketakutan dan melampiaskan kemarahan jauh lebih berat ketimbang perang melawan tentara Belanda. Pada saat yang sama perasaan takut ketahuan impoten justru menumbuhkan keberanian Guru Isa menghadapi perang. Motif ketakutan itu justru yang memberi kedamaian bagi Guru Isa untuk dar der dor melawan tentara Belanda. Wajahnya tenang saat ditangkap dan dibawa di hadapan regu tembak untuk dieksekusi.
Perang Kota ditulis berdasarkan novel Jalan Tak Ada Ujung karya Mochtar Lubis yang diterbitkan pertama kali oleh Balai Pustaka, 1952. Apabila novelnya lebih dalam mengorek ihwal upaya manusia merespons ketakutan-ketakutannya, maka Mouly menggandengnya dengan ihwal kesetaraan peran gender. Mouly banyak menebar simbol-simbol. Saat Guru Isa gagal menarik pelatuk senapan yang macet itu adalah simbol kegagalan senapan paling pribadi miliknya gagal tegak meletupkan peluru. Film ini mudah dan nyaman dinikmati. Bagi saya bahkan seperti menonton film Eropa yang menyimpan banyak ledakan dalam kelembutan. Warna-warna vintage, properti dan dialognya membawa penonton pada masa awal-awal kemerdekaan. Ada memang beberapa properti yang kurang akurat menggambarkan masa tersebut, tetapi tidak terlalu mengganggu. Isu gender dan ego manusia lebih kuat menarik perhatian kita yang menonton.
Oleh:
Aris Kurniawan






