“Ini buka soal kemanusiaan, ini bukan soal membenci sesama manusia, enggak. Kalian, silahkan aja dengan ajaran kalian yang penuh damai itu, kita terima. Saya juga mau dengan ajaran damai yang diajarkan oleh agama Kristen itu, saya setuju dengan itu, yang kita tidak boleh membenci sesama manusia, saya setuju, ajaran agama Islam mengajarkan kayak gitu juga,” katanya.
“Tapi kalau soal Anies datang ke Rumah Tuhan, di Rumah Doa Alfa Omega ini, datang ke kelompok umat Kristen gitu ya, ini bukan soal kemanusiaan lagi, ini itu soal peluang dan ruang dia (Anies-red) untuk menciptakan kemungkinan bahwa dia bisa maju sebagai Capres, ini soal politik, gitu. Ini bukan soal kemanusiaan,” imbuhnya.
“Ketika Anies datenag kerumah kalian, ke Rumah Tuhan kalian, dia tujuannya bukan untuk dilaturahmi, tapi untuk menaikkan ektabilitas dia. Dengan tujuan agar dia bisa diterima oleh masyarakat luas. Jadi, kalian hanya dimanfaatin aja,” ucap Alifurrahman menandaskan.
Sang Pakar Mantan ini juga menyampaikan, alasan ia menilai bahwa Anies ini hanya memanfaatkan umat Kriten di Rumah Doa Alfa Omega ini, selama ini Anies didukung oleh kelompok yang intoleransi.
Manuver politik Anies ke Rumah Doa Alfa Omega ini juga disoroti mantan Ketua Umum Ganjarist, Mazdjo Pray. Ia mengomentari nama yang disematkan kepada Anies lewat channel YouTube COKRO TV. Menurut Mazdjo, Yohanes adalah nama seorang nabi di ajaran Nasrani.
Pria jenaka yang kerap melontarkan kritik terhadap Anies ini juga mengungkit cuitan pengamat politik Saiful Mujani. “Luar biasa waktu itu komentarnya, sangat konteks dengan yang terjadi di Papua,” kata Mazdjo.
“Jangankan jadi Yohanes dan masuk ke rumah Tuhan, ibaratnya makan daging yang diharamkan kalau itu bisa buat Anies jadi presiden akan dilakukan. Kira-kira begitu,” lanjutnya.
Mazdjo juga menjuluki Anies sebagai politikus palugada, alias kepanjangan dari “apa yang lu mau, gue ada”.
“Kita punya politisi model Anies ini, saya sebut sebagai politisi palugada. Apa yang pendukungnya mau, dia ada,” jelas Mazdjo.
“Waktu pendukung dan konsultan politiknya menghendaki Anies mainkan isu ayat dan mayat, dia siap laksanakan. Terjadi di awal mula Anies mendapat predikat ‘bapak politik identitas’ di Jakarta,” tuturnya melanjutkan.
Karena itulah, Mazdjo menduga saat ini Anies sedang melakukan manuver politik yang berbeda lagi.
“Waktu pendukung dan konsultan politiknya menghendaki Anies memainkan isu toleran, dia siap blusukan ke rumah-rumah ibadah selain masjid, bahkan sampai ke Papua. Demi apa? Demi suara,” terang Mazdjo.






