Mereka pun menemui satu persatu warga Kampung Ganjar yang seluruh penduduknya berambut putih tersebut. Yang pertama mereka lakukan adalah memberikan pertanyaan soal matematika, mulai dari penambahan, pengurangan, perkalian dan bembagian dengan cepat tanpa menjawab menggunakan mesin hitung (kalkulator-red).
“Selamat pagi, Dek,” tanya seorang mahasiswa kepada seorang berambut putih yang ditemui.
“Selamat pagi, Kak,” jawabnya.
“Bisa penambahan, penjumlahan, pengurangan dan perkalian ya, operasi matematika?” Tanya mahasiswa melanjutkan.
“Bisa Kak!” Jawabnya singkat.
“7×7+19 hasilnya-18:5 hasil keseluruhannya x12,5 ada berapa dek?” Tanya mahasiswa lagi.
“125!” Jawab warga berambut putih.
“Kok bisa?” Tanyanya lagi.
“Iya kak, 7×7 kan hasilnya 49 ditambah 19 jadi 68, 68 dikurang 18 jadinya 50. Hasilnya dibagi 5, 50:5 menjadi 10. 10×12,5 sama dengan 125,” jawab berambut putih menjelaskan.
Beberapa orang berambut putih yang ditemui, semua bisa menjawab pertanyaan yang sulit dengan cepat dan tepat. Pun demikian tidak lantas mempercayai seratus persen bahwa Kampung Ganjar seperti yang disampaikan oleh si Kembang Desa.
Penyelidikan terus berlanjut, menemui orang-orang berambut putih di kampung tersebut. Sampai akhirnya bertemu dengan orang berambut putih berikutnya.
“13,7 x 8 + 9,5 – 17 hasilnya dibagi 11, hasil akhir dikali 2,5?” Tanya seorang mahasiswa ketika ketemu warga berambut putih di Kampung Ganjar berikutnya.
“Enggak bisa, kak!” Jawab warag yang ditemui berikutnya itu.
“Maksudnya enggak bisa?” Tanya mahasiswa menegaskan.
“Karena hasil akhirnya perpecahan. Lah, Kampung sini anti dengan perpecahan karena NKRI harga mati,” jawabnya.






