“Seperti Kata Sang Budiman, hidup aku menyukai, kebenaran aku menyukai juga, tetapi kalau tidak dapat kuperoleh kedua – duanya, akan kulepaskan hidup dan kupegang teguh kebenaran. Semoga teladan Ita Martadinata, dan korban Mei 1998 menjadikan kita selalu ingat menjunjung kebenaran dalam jalan kebajikan, berkeadilan dalam kemanusiaan,” tandasnya.
3 Tahun Melayani, Primaya Hospital Pasar Kemis Semakin Modern
WS Andi Gunawan yang juga merangkap Ketua Panitia Peringatan Tragedi Mei “98 Tahun 2024 itu juga sangat mengapresiasi para tokoh-tokoh lintas agama dan undangan yang ikut dalam peringatan ini.
“Boen Hian Tong telah melaksanakan kegiatan peringatan tragedi Mei ’98 kegiatan pertama dilaksanakan hari Minggu, 13 Mei 2018 Pukul 09.00 WIB. Pada waktu itu bertepatan hari itu dua jam sebelumnya, pukul 07.00 WIB ada kabar bom meledak di Surabaya,” ujar Andi mengenang.
Lebih lanjut, Andi, mengatakan, kenapa pare, itu melambangkan sejarah pahit. Jadi pahit pedas kita ikut nangis kan, melambangkan kepedihan kekerasan dan ketakutan yang dialami orang Tionghoa saat tragedi 98.
“Dan perempuan Tionghoa disimbolkan dengan bunga kecombrang. Ini untuk mengingatkan kepada kita tragedi itu jangan sampai terjadi lagi,” terang Andi.
Dalam gelaran acara kesaksian program Estungkara Kecombrang menghadirkan saksi peristiwa Mei ’98 yaitu; Budi, Anastasia, Michael alias Ting-Ting dan yang lainnya.
Sementara itu, Ketua Boen Hian Tong Harjanto Halim mengatakan, dalam perhelatan tersebut menyajikan rujak pare, bunga telang, bunga sedap malam sebagai simbol-simbol dalam peringatan Tragedi 98 yang dinilai sangat keji dan memalukan.
“Kekejian, aib yang memalukan dan perbuatan tidak terpuji itu jangan dilupakan dan terulang. Ini tugas kita sebagai warganegara,” ujar Harjanto mengingatkan.
Halal Bi Halal Gaya Perupa OTS “Bloboran” dan “Nyeket” Bareng
Lebih lanjut, Haryanto mengajak bersama-sama untuk merajut, menumbuhkan bibit kebaikan dan mengikis kebencian. Dan Peringatan Tragedi Mei ’98 tidak berhenti sampai di sini.
“Yang lalu sudah terjadi tidak bisa dikoreksi dan diperbaiki. Tetapi kita harus menatap masalah ke depan karena masih banyak terjadi kekerasan seksual dan KDRT. Persoalan sextorsion –pemerasan seksual via medsos—yang mengancam anak-anak kita harus diwaspadai. Anak-anak kita butuh perhatian dan kepedulian kita, jangan sampai jadi korban sextorsion,” ujar Harjanto mengingatkan.






