Pada saat Perang Kuning, Raden Panji Margono menggunakan nama samaran Tan Pan Ciang dan dicatat dalam Babad Tanah Jawi sebagai Encik Macan. Raden Panji Magono bersama dengan Raden Ngabehi Widyadiningrat alias Oei Ing Kiat gugur dalam peristiwa tersebut, yaitu pada tahun 1750 M.
Meskipun kalah dalam perang melawan VOC kala itu, kisah heroik ketiganya dimonumenkan dalam bentuk Kelenteng Gie Yong Bio yang dibangun oleh warga Tionghoa Lasem pada tahun 1780.
Seperti Ini Pembiasaan MBG Tahap II di SMPN 19 Kota Tangerang
Penelusuran di tempat ini beberapa waktu lalu, ada keunikan yang terlihat, Kelenteng Gie Yong Bio terdapat satu altar yang terdapat patung kecil bangsawan Jawa, yaitu Raden Panji Margono.
Menurut salah seorang tokoh masyarakat Tiong Hoa Lasem, Pak Gandor, ini adalah bentuk penghormatan kepada Raden Panji Margono.
Penghormatan terhadap Raden Panji Margono sebagai seorang Jawa-muslim oleh komunitas Tionghoa di Lasem ini dapat disebut unik di seluruh Indonesia. Dan, ini menjadi bukti persahabatan leluhur kedua komunitas tersebut.







