Pada program ini, lanjut Gandi, memaparkan para peserta mendapatkan input berupa materi tentang Female Gaze, wacana Feminsme Global-Selatan, advokasi perempuan korban kekerasan, aktivisme pemberdayaan perempuan, semiotika, dan metode dekonstruksi sebagai alat pembacaan dan penciptaan karya.
Gandi menambahkan, pelaksanaan program ini diawali dengan seleksi dari konsep tentang Karakter perempuan yang akan dibaca ulang tiap peserta, dan portofolio “Presentasi mereka pun jadi bahan pertimbangan untuk tim seleksi memilih seniman perempuan dari berbagai lintas wahana seperti teater, sastra, tari , seni rupa dan musik,” terangnya.
Menurut Gandi dalam residensi ini pemilihan seniman perempuan sebagai peserta adalah pilihan yang tepat untuk memberi ruang bagi mereka. Kepentingannya untuk menggali pengetahuan dan membuka wawasan lebih luas, karena di Indonesia keterlibatan seniman perempuan dalam even-even seni yang intens relatif lebih lebih kecil daripada kaum laki-laki. Dalam hal ini, tersebab perempuan lebih sering ditempatkan bukan pada posisi strategis di kelompok kesenian.
Gandi menandaskan hal tersebut selaras dengan salah satu tema yang diusung Teater Satu yaitu Pemberdayaan Perempuan dalam Seni. Harapannya, ke depan semakin banyak perempuan pelaku seni yang mampu memiliki independensi dan profesionalitas (otoritas) dalam profesi yang ditekuninya.
“Perempuan seniman baik sebagai individu di tengah masyarakat maupun bagian dari sebuah kolektif masyarakat. Maka peluang untuk terciptanya sebuah sistem sosial dan budaya yang terbebas dari tindakan represif patriarkis akan semakin besar,” tandas Gandi.
Menurut Gandi Maulana, bila jumlah dan kualitas perempuan pelaku seni semakin berkembang di komunitas-komunitas seni, maka melalui institusi sosial yang terbatas ini akan tersebar pengaruh mengenai kesetaraan perempuan di tengah masyarakat yang lebih luas. Konsistensi dan kesungguhan dalam melaksanakan program-program pemberdayaan melalui seni, pada akhirnya akan turut menciptakan Independensi Perempuan di tengah masyarakat dan peradaban. Pada gilirannya, mereka akan mewarisi independensi itu kepada generasi baru.
“Semoga program ini bisa berlanjut hingga pelaksanaan Festival dan Kolaborasi Karya pada tahun berikutnya,” demikian Gandi Maulana dari Teater Satu beharap. (Christian Saputro)






