MENDADAK Dangdut berkisah tentang Naya (Anya Geraldine), penyanyi pop terkenal di ibukota yang harus pergi menyamar ke kampung-kampung demi menyelamatkan diri dari kejaran polisi. Mereka kabur bukan karena melakukan kejahatan, melainkan terjebak dalam sebuah peristiwa pembunuhan. Naya memilih kabur karena tidak mau masuk penjara untuk kejahatan yang tidak dilakukannya.
Dari premis ini penonton yang kritis akan segera sadar film ini bukan sekadar menampilkan berbagai peristiwa dalam proses penyamaran Naya yang mendadak harus jadi penyanyi dangdut yang manggung di kampung-kampung pesisir yang mengundang kelucuan, tapi juga hendak menyoroti kinerja kepolisian yang tidak bisa diandalkan namun ogah dikritik.
Di negeri ini masyarakat miskin atau yang tidak punya koneksi ke kekuasaan jangan coba-coba berurusan dengan hukum dan polisi. Kalau nekat bisa masuk bui plus siksaan brutal. Begitulah, Naya tidak bisa membela diri bahwa dia terjebak, tidak terlibat dengan peristiwa pembunuhan. Tetapi dengan kinerja polisi Indonesia yang buruk dan mudah dibeli, di mana mereka hanya akan melakukan penyelidikan sepanjang menguntungkan dan viral. Naya tahu dia akan dengan mudah dikorbankan menjadi tersangka. Makanya dia kabur.
Naya kabur membawa adiknya (Nura Datau) dan ayahnya (Joshua Pandelaki) yang mengidap alzaimer. Film ini juga menyajikan relasi kakak adik dan orangtua. Kita menyaksikan bagaimana hubungan adik dan kakak tidak selalu dalam relasi kuasa. Mereka bisa saling bertukar peran sesuai kebutuhan. Relasi kuasa juga tampak pada hubungan antara Naya dan Wawan-Wedhyo yang diperankan dengan segar oleh Keanu AGL dan Fajar Nugra. Wawan-Wedhyo yang mengetahui kasus Naya, memanfaatkannya untuk mengancam melaporkan Naya ke polisi bila tidak mau bergabung dalam grup musik dangdut pimpinannya.
Adegan-adegan komedik muncul dalam proses transformasi Naya dari penyanyi top menjadi penyanyi dangdut yang manggung dari desa ke desa. Komedik juga dibangun dari hubungan Wawan dan ayahnya (Opie Kumis). Tetapi kelucuan yang dibangun semua tertakar, tidak berlebihan. Yang berlebihan justru muncul pada hasrat yang terlalu besar untuk menghadirkan drama keluarga, sehingga terkesan menye-menye. Namun hal ini bisa terselamatkan karena porsinya yang tidak banyak. Penonton akan memakluminya, terutama oleh lagu-lagu dan sentuhan warna-warna cerah dan tentu saja ceritanya yang lumayan berisi.
‘Mendadak Dangdut’ versi terdahulu tahun 2006 disutradarai Rudy Soedjarwo yang bintang Titi Kamal dan Kinaryosih. ‘Mendadak Dangdut’ versi 2025 ini dibesut Monty Tiwa. Meski demikian ‘Mendadak Dangdut’ versi 2025 bukan remake, melainkan reboot atau produksi versi baru dari film asli yang rilis tahun 2006.
Cerita yang diusung pun berbeda meski masih seputar penyamaran dan pengejaran oleh polisi. Monty Tiwa berhasil menghadirkan kesegaran dengan pengembangan karakter yang mengesankan. Boleh dibilang ini film nostalgia tanpa harus terjebak dalam kenangan lama. Dalam versi baru ini Dwi Sasono satu-satunya pemeran yang kembali dihadirkan, ia tetap memerankan karakter Rizal Maduma yang kini bertransformasi menjadi seorang produser dangdut.
Film musikal ini layak tonton untuk melepas ketegangan dan mendapatkan hiburan sembari berpikir kritis terhadap kinerja kepolisian. (Aris Kurniawan)






