PROBLEM sosial yang terjadi di masyarakat saat ini mulai mengusik tatanan hidup dalam multi dimensi. Hal ini telah menyebabkan rontoknya keadilan, ‘bubrah-nya’ kegotong royongan serta menjamurnya ketidak patutan dalam setiap sudut kehidupan.
Di Tangerang, misalnya. Sebagai daerah industri yang dikenal sebagai kota seribu pabrik: persoalan rontoknya keadilan, bubrahnya gotong royong serta ketidak patutan mulai merambah kehidupan kaum buruh dan calon pekerja yang sampai hari ini menunggu janji kampanye sembilan belas juta lapangan kerja.
Keresahan kaum pencari kerja ini kian merebak. Sepi pemberitaan memang, tetapi riuh dalam perbincangan. Seperti pesan yang berantai tapi terselubung dan hanya menyasar orang-orang yang bisa menjadi target. Ini lah yang namanya rahasia umum.
“Kalau mau masuk kerja, bisa! Tapi nyogok belasan hingga puluhan juta”.
Ehem, enggak adil! Kemana uang itu mengalir?
Orang dalam alias ordal. Uang-uang itu akan mengalir ke orang-orang dalam yang memiliki kekuasaan untuk meloloskan mereka yang mau mengeluarkan sejumlah uang untuk sebuah lapangan pekerjaan. Merekalah kaum-kaum bedebah, pembuat celaka!
Ketika penulis masih bertugas sebagai Jurnalis di salah satu media lokal grup Jawa Pos, pernah mendapat ‘curhatan’ seorang buruh pabrik sepatu yang baru saja sebulan diterima kerja. Suhadi alias Kenceng, itulah kira-kira namanya.
Suhadi alias Kenceng ini mendapatkan intimidasi oleh oknum anggota security perusahaan industri sepatu merek internasional sebab dinilai telah ingkar janji. Karena, pada saat dirinya melamar kerja, oknum security ini berdalih dan menjanjikan bisa membantu memoloskan Suhadi Kenceng masuk menjadi karyawan asalkan mau memberikan sejumlah uang.
Karena begitu banyaknya pelamar dan ketatnya persaingan, serta kolusi dan nepotisme berlaku di Perusahaan tersebut, tidak pikir panjang langsung saja “He eh” dan dirinya sanggup, dengan catatan uang bisa tempo setelah dirinya diterima kerja dan dapat gaji. Terjadilah kesepakatan itu.
Suhadi Kenceng kerja, oknum security menagih janji. Karena menurut sang oknum scurity, diterimanya Suhadi Kenceng sebagai karyawan pabrik sepatu karena pengaruh dari oknum itu yang sudah bekerjasama dengan orang dalam untuk meloloskannya.
Janji tidak ditepati, Suhadi Kenceng pun diintimidasi. Berita ini mencuat, beredar di korang-koran lokal hingga sampai ke meja dinas tenaga kerja setempat.
Pecah Kongsi antara oknum scurity dengan orang dalam pun terjadi. Untuk menyelamatkan dirinya, oknum orang dalam tidak mengakui adanya kong-kalingkong dengan oknum security yang dianggap pembawa sial. Sampai akhirnya, sang oknum security diputuskan hubungan kerjanya dengan tidak hormat alias ‘dilepeh’ dari perusahaan itu.
Memang sih, fenomena masuk kerja pakai orang dalam lewat ‘drama sogok-sogokan’ ini jarang kali mencuat. Kecuali mereka yang gagal meloloskan mangsanya, atau oknum yang sengaja nekat menjadikan ini sebagai modus operandi untuk menipu dan meraup keuntungan.
Sampai hari ini, fenomena masuk kerja macam itu, masih juga sulit untuk diungkap. Salah satunya adalah karena kepentingan mereka saling terpenuhi. Penyogok mendapatkan pekerjaan, yang disogok atau minta sogokan hasrat keuangannya, yang memang mata duitan itu terpenuhi. Atau, ini dianggap sebagai “simbiosis mutualisme”? Weleh…weleh, preet!
Sepertinya ini sudah menjadi virus yang sulit untuk dikendalikan.
Dan, menanti sembilan belas juta lapangan pekerjaan yang ramai pada saat kampanye Pilpres 2024 lalu, sepertinya juga terancam akan berhadapan dengan para begundal ‘tikus-tikus’ yang akan menghadang para pewaris keberlangsungan masa depan republik tersebut. (*
Penulis: Widi Hatmoko
Jurnalis/Seniman






