BAHASA daerah merupakan salah satu elemen terpenting yang membentuk identitas budaya masyarakat Indonesia. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, penggunaan bahasa daerah di ranah keluarga semakin menurun. Banyak, anak lebih fasih berbahasa Indonesia, bahkan berbahasa asing, dibandingkan bahasa ibu mereka. Kondisi ini menunjukkan bahwa keluarga, yang seharusnya menjadi lingkungan utama pemerolehan bahasa, mengalami perubahan pola komunikasi yang signifikan, terutama sejak hadirnya teknologi digital.
Menurut data UNESCO, Indonesia termasuk negara dengan jumlah bahasa daerah terbanyak di dunia, yakni lebih dari 700 bahasa. Namun, sekitar 11 persen di antaranya telah berstatus terancam punah, sedangkan sebagian lainnya berada dalam kategori “rentan” dan “sangat terancam”. Fakta ini memperlihatkan bahwa tanpa upaya serius, bahasa daerah dapat kehilangan penuturnya dalam satu atau dua generasi ke depan.
Era digital turut memengaruhi cara anak berkomunikasi sehari-hari. Gawai, media sosial, dan YouTube memberikan paparan bahasa yang jauh lebih dominan dalam bahasa Indonesia atau bahasa asing. Anak-anak yang sejak kecil lebih banyak mengonsumsi konten digital cenderung memilih menggunakan bahasa yang mereka temui dari internet, bukan bahasa daerah yang mungkin jarang digunakan di rumah. Hal ini memperlemah transmisi bahasa antargenerasi.
Padahal, keluarga memiliki peran sangat penting dalam menjaga keberlangsungan bahasa daerah. Banyak kajian linguistik menyebutkan bahwa keberhasilan pelestarian bahasa minoritas sangat bergantung pada praktik berbahasa di rumah. Anak akan lebih mudah menguasai bahasa daerah apabila orang tua konsisten menggunakannya dalam interaksi harian, seperti saat makan bersama, bercerita, atau bermain. Contoh keberhasilan dapat ditemukan pada beberapa keluarga di Jawa, Sunda, dan Bali yang tetap menggunakan bahasa daerah secara aktif. Mereka membuktikan bahwa meskipun hidup di era digital, bahasa ibu tetap dapat dipertahankan ketika keluarga memiliki kesadaran yang tinggi.
Meski demikian, tantangan tetap ada. Orang tua yang sibuk sering kali tidak memiliki banyak waktu untuk berbicara panjang dengan anak. Anak juga lebih tertarik pada konten digital berbahasa Indonesia atau Inggris, sehingga bahasa daerah terasa kurang relevan. Selain itu, ruang penggunaan bahasa daerah di lingkungan publik semakin sempit karena sekolah, media, dan layanan umum sebagian besar menggunakan bahasa Indonesia.
Oleh karena itu, pelestarian bahasa daerah harus dimulai dari rumah. Orang tua dapat secara konsisten menggunakan bahasa daerah dalam percakapan sehari-hari. Selain itu, perlu ada upaya kreatif, seperti mengenalkan lagu anak, cerita rakyat, atau tontonan digital dalam bahasa daerah. Kini sudah tersedia berbagai kanal YouTube dan aplikasi yang menyediakan konten berbahasa daerah, meskipun jumlahnya masih terbatas. Kolaborasi antara keluarga, sekolah, dan komunitas budaya juga penting agar anak memiliki ruang penggunaan bahasa daerah yang lebih luas.
Pada akhirnya, penggunaan bahasa daerah dalam keluarga bukan hanya persoalan komunikasi, tetapi juga upaya merawat identitas budaya. Di tengah arus digital yang semakin kuat, keluarga menjadi benteng terakhir pelestarian bahasa ibu. Jika bahasa daerah hilang, maka sebagian dari memori budaya kita pun turut hilang. Oleh sebab itu, menjaga bahasa daerah berarti menjaga jati diri kita sebagai bangsa yang beragam.
Penggunaan bahasa daerah dalam keluarga pada era digital terus menurun karena anak-anak lebih banyak terpapar bahasa Indonesia dan bahasa asing melalui berbagai platform digital. Padahal, keluarga merupakan tempat utama bagi anak untuk memperoleh dan mewarisi bahasa ibu. Tanpa upaya pelestarian yang berkelanjutan, sejumlah bahasa daerah terancam hilang dalam waktu dekat. Karena itu, peran orang tua sangat penting, antara lain dengan membiasakan penggunaan bahasa daerah dalam percakapan harian serta memanfaatkan berbagai konten kreatif berbahasa daerah. Sinergi antara keluarga, sekolah, dan komunitas budaya juga diperlukan agar bahasa daerah tetap memiliki ruang penggunaan yang luas. Melestarikan bahasa daerah berarti menjaga identitas serta kekayaan budaya bangsa. (*
Penulis: Siti Hauzania Adila
Mahasiswa S1 Bahasa Indonesia, Jurusan Pendidikan Sosiologi
Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa






