“Kalau yang dari Yunan (orang-orang Tionghoa sebelum Cheng Ho-red) itu kan pada abad sebelum masehi, belum ada Islam. Kalau yang ini, yang Cheng Ho pada abad ke-15, tepatnya tahun 1413 itu muslim. Karena, Cheng Ho memang, meskipun ekspedisi dari Kaisar Yung Le dari Tiongkok tapi dia kan membawa misi Islam. Sehingga, pada saat ke sini banyak mendirikan masjid-masjid, salah satunya di Lasem,” ungkap Edi Winarno beberapa waktu lalu.
Edi Winarno juga mengungkapkan, sempat terjadi pergeseran budaya, yaitu ketika eksodus masuknya masyarakat Tionghoa dari daratan Cina datang ke Lasem yang membawa faham konfusionisme, yaitu tak lama setelah kedatangan orang-orang Cheng Ho yang membawa peradaban Islam di wilayah tersebut.
Barulah pada, ketika Sunan Sunan Bonang atau Raden Maulana Makdum Ibrahim masuak ke tanah Lasem, peradaban Islam terus berkembang pesat hingga saat ini.
Dilansir dari sumber rembangbicara.pikiran-rakyat.com, menyebutkan, pada 1479, setelah wafatnya Adipati Wiranegara, Sunan Bonang kemudian mendirikan pesantren di Bonang, Lasem, dengan memanfaatkan bekas gedung kadipaten yang sudah ditinggalkan karena dipindah oleh Nyi Ageng Maloka ke Soditan. Bekas pesantren tersebut berada satu komplek dengan makam yang juga dijakini sebagai Sunan Bonang di Bonang, Lasem. Sunan Bonang wafat pada pada 1525. (*






