JEJAK KATA, Kota Tangerang – Di tengah riuh lalu lintas Kota Tangerang, berdiri sebuah masjid tua yang usianya jauh melampaui republik ini. Dindingnya telah berkali-kali dipugar, lantainya telah berganti, dan halaman di sekitarnya kini dipenuhi aktivitas warga. Namun satu hal yang tak pernah berubah: kisah tentang toleransi yang terus hidup di setiap sudutnya.
Namanya Masjid Jami Kalipasir. Berada di Kelurahan Sukasari, tepat di tepian timur Sungai Cisadane, masjid ini bukan sekadar tempat ibadah. Masjid ini adalah lembar sejarah yang masih berdiri tegak, mengisahkan bagaimana Islam tumbuh berdampingan dengan keberagaman sejak ratusan tahun silam.
Yang membuatnya istimewa bukan hanya karena dipercaya sebagai masjid tertua di Tangerang. Masjid yang resmi berdiri pada 1576 itu juga memiliki “tetangga” yang tak kalah bersejarah. Hanya beberapa langkah dari halaman masjid berdiri Klenteng Boen Tek Bio, salah satu klenteng tertua di Indonesia.
Di banyak tempat, perbedaan sering dijadikan alasan untuk saling menjaga jarak. Namun di Kalipasir, azan dan bunyi lonceng kelenteng telah lama menjadi bagian dari irama kehidupan masyarakat. Jauh sebelum istilah toleransi menjadi tema seminar, warga di kawasan ini telah mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Namun, perjalanan Masjid Jami Kalipasir dimulai jauh sebelum bangunannya resmi menjadi masjid.
Kisahnya bermula pada 1412. Saat itu, seorang penyebar Islam dari Kerajaan Galuh Kawali bernama Ki Tengger Jati mendirikan sebuah gubuk sederhana di tepi Sungai Cisadane. Tempat kecil itu digunakan sebagai surau sekaligus pusat syiar Islam bagi masyarakat sekitar yang kala itu masih didominasi permukiman di sepanjang aliran sungai.
Puluhan tahun kemudian, tepatnya sekitar 1445, datang seorang ulama asal Persia bernama Said Hasan Ali Al-Husaini, yang lebih dikenal sebagai Syekh Abdul Jalil. Kehadirannya membawa warna baru dalam perkembangan Islam di kawasan tersebut. Surau sederhana itu diperluas agar mampu menampung semakin banyak jamaah yang datang untuk belajar agama.
Perjalanan panjang itu mencapai tonggak penting pada 1576. Bangunan tersebut kemudian ditetapkan secara resmi sebagai masjid dan pengelolaannya diteruskan secara turun-temurun oleh tokoh masyarakat setempat, di antaranya Tumenggung Pamit Wijaya.
Lebih dari empat abad kemudian, bangunan itu masih berdiri. Seolah menjadi pengingat bahwa sejarah tidak selalu tersimpan di museum. Kadang ia hidup di tengah kampung, menyatu dengan denyut kehidupan warganya.
Keunikan Masjid Jami Kalipasir tidak berhenti pada usianya. Arsitekturnya justru menjadi bukti bahwa budaya tidak pernah benar-benar saling meniadakan.
Menaranya sekilas menyerupai pagoda, menghadirkan sentuhan arsitektur Tionghoa yang berpadu dengan gaya bangunan Nusantara dan nilai-nilai Islam. Perpaduan itu bukan sekadar estetika, melainkan cermin hubungan sosial masyarakat Tangerang sejak masa lampau.
Di bagian dalam masjid, berdiri empat tiang kayu ulin berwarna hitam yang hingga kini masih kokoh menopang bangunan. Masyarakat meyakini tiang-tiang tersebut merupakan pemberian Sunan Kalijaga, salah satu tokoh Wali Songo yang dikenal menggunakan pendekatan budaya dalam menyebarkan Islam. Terlepas dari kisah yang hidup dalam tradisi lisan itu, keberadaan empat pilar tersebut menjadi bagian yang tak terpisahkan dari identitas Masjid Kalipasir.
Masjid ini seolah mengajarkan satu pelajaran penting: peradaban besar tidak lahir dari keseragaman, melainkan dari kemampuan manusia menghargai perbedaan.
Mungkin itulah sebabnya Masjid Jami Kalipasir tetap bertahan melewati pergantian kerajaan, kolonialisme, kemerdekaan, hingga era digital. Ia bukan hanya rumah ibadah, tetapi juga rumah bagi ingatan kolektif masyarakat Tangerang.
Ketika orang datang ke Kalipasir, mereka sebenarnya tidak hanya sedang berkunjung ke sebuah masjid tua. Mereka sedang menyusuri jejak bagaimana Islam berkembang melalui dakwah yang damai, bagaimana budaya saling merangkul, dan bagaimana toleransi telah tumbuh alami jauh sebelum menjadi slogan.
Di tepian Sungai Cisadane itu, sejarah masih bernapas. Dan Masjid Jami Kalipasir terus membisikkan pesan sederhana kepada setiap pengunjungnya: bahwa iman, budaya, dan kemanusiaan dapat berdiri berdampingan, selama manusia memilih untuk saling menghormati. (*






