Wisata dan Kuliner

Di Pinggir Cisadane, Ada Ikan Cere yang Bikin Orang Rela Putar Arah

×

Di Pinggir Cisadane, Ada Ikan Cere yang Bikin Orang Rela Putar Arah

Sebarkan artikel ini
Kudapan ikan cere lengkap dengan lalapan dan nasi sebakul yang menggoda

JEJAK KATA, Kota Tangsel – Jangan tertipu ukuran ikan ini. Namanya ikan cere, tubuhnya mungil, tetapi kemampuannya membuat orang menambah nasi bisa dibilang luar biasa.

Kalau aroma sambal yang baru diulek sudah lebih dulu menyapa hidung, bersiaplah. Niat awal hanya “makan sebentar” bisa berubah menjadi duduk berlama-lama sambil menikmati semilir angin di tepi Kali Cisadane.

Pengalaman itu bisa dirasakan di Saung Bu Tini, sebuah rumah makan sederhana yang tersembunyi di Kampung Bojong, Kranggan, Tangerang Selatan. Lokasinya memang jauh dari hiruk-pikuk kota. Namun justru karena itulah banyak orang datang. Di sini, kemewahan bukan diukur dari pendingin ruangan atau kursi empuk, melainkan dari suara gemericik sungai, rimbunnya pepohonan, dan sepiring ikan goreng yang menggoda selera.

Perjalanan menuju saung ini seperti sedang berburu harta karun kuliner. Setelah melewati jalan kampung dan jembatan yang membentang di atas aliran deras Kali Cisadane, pengunjung akan menemukan sebuah saung sederhana berdinding bambu dengan lantai tanah dan beratap daun kelapa.

Tak ada lampu kristal. Tak ada meja marmer. Yang ada hanya suasana pedesaan yang perlahan mulai sulit ditemukan di tengah pesatnya pembangunan kota. Justru di situlah daya tariknya.

Ikan Kecil, Rasa Besar

Menu andalan Saung Bu Tini adalah ikan cere goreng. Ikan mungil yang hidup liar di aliran Kali Cisadane itu digoreng hingga garing, lalu disajikan bersama sambal rawit merah yang diulek, lalapan segar, dan semangkuk sayur asem hangat.

Dapur tradisional Saung Bu Tini masih menggunakan kayu bakar

Kesederhanaannya justru menjadi keistimewaan. Sekali mencicipi, bunyi “kriuk” ikan cere berpadu dengan pedasnya sambal mampu membuat keringat mengalir tanpa disuruh. Anehnya, semakin pedas, semakin sulit berhenti menyantapnya.

Di sinilah nasi sering kali menjadi korban pertama. Kartini, pemilik Saung Bu Tini, sengaja tidak membudidayakan ikan cere. Bukan karena tidak bisa, tetapi karena ingin mempertahankan cita rasa alaminya sekaligus berbagi rezeki dengan para nelayan di sekitar Kali Cisadane.

“Ikan sengaja tidak diternak. Selain berbagi rezeki dengan penangkap ikan di sekitar kali, memilih ikan liar juga rasanya lebih enak,” ujar Kartini.

Tak ada resep yang dirahasiakan. Tak ada bumbu yang konon diwariskan tujuh turunan. Menurut Kartini, semua dimasak seperti masakan rumahan.

“Tidak ada rahasia masakan tertentu, biasa saja. Mungkin pengunjung datang pas lagi lapar,” katanya sambil tersenyum.

Kerendahan hati itu justru menjadi “bumbu” yang membuat tempat ini terasa hangat.

Dari Buruh hingga Pejabat Duduk Bersila

Meski tampil sederhana, Saung Bu Tini sudah lama menjadi tujuan para pecinta kuliner. Pengunjungnya datang dari berbagai kalangan. Buruh, karyawan, pegawai, keluarga, hingga pejabat daerah pernah menikmati hidangan di saung ini.

Saung Bu Tini yang selalu ramai pengunjung

Yang menarik, semua duduk sama rendah. Tak ada ruang VIP. Tak ada meja khusus. Semuanya lesehan. Barangkali, di hadapan ikan cere dan sambal pedas, jabatan memang kehilangan pamornya.

Lebih mengejutkan lagi, harga seporsi makanan khas di sini tetap ramah di kantong. Ketika penulis datang dan menyantap kudapan dari dapur tradisional Saung Bu Tini, hanya dengan uang Rp50 ribu sudah makan kenyang untuk dua orang. Termasuk es teh manis, bakwan jagung, serta sambal dan lalapan yang berlimpah. Ikan cere, sudah pasti!

Rezeki yang Mengalir Seperti Sungai

Saung sederhana yang berdiri sejak awal tahun 2000-an itu kini menghidupi banyak orang. Belasan karyawan bekerja di sana. Belum termasuk nelayan pencari ikan, pedagang sayur, hingga warga sekitar yang ikut merasakan manfaat dari ramainya pengunjung. Termasuk tukang parkir.

Sambul menyantap kudapan ikan cere, pengunjung akan disuguhi panorama alam pedesaan yang masih hijau

Kartini percaya, usaha tidak akan bertahan lama jika hanya menguntungkan satu orang. Karena itu, ia lebih senang membeli hasil tangkapan nelayan setempat daripada memelihara ikan sendiri.

“Alhamdulillah, ini rezeki bersama. Saya tidak pernah memandang mereka sebagai karyawan dan saya bosnya. Di sini semuanya sama. Mungkin itu sebabnya usaha sederhana ini masih bisa terus berjalan,” tuturnya.

Di tengah menjamurnya restoran modern yang berlomba menawarkan kemewahan, Saung Bu Tini justru membuktikan hal sebaliknya. Bahwa rasa yang jujur, suasana yang alami, dan ketulusan berbagi rezeki sering kali lebih membekas daripada dekorasi yang mewah. Dan mungkin, itulah resep paling rahasia yang tidak pernah tertulis di buku masak mana pun. (*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *