Liputan

Anis Matta: Dunia Tak Kekurangan Senjata, tetapi Kehabisan Narasi

×

Anis Matta: Dunia Tak Kekurangan Senjata, tetapi Kehabisan Narasi

Sebarkan artikel ini
Istimewa

JEJAK KATA, Jakarta – Dunia hari ini seperti ruang percakapan di media sosial: ramai, bising, tetapi sering kali miskin pemahaman. Ketika satu konflik belum usai, konflik lain muncul. Ketika satu prasangka mulai reda, prasangka baru justru diproduksi. Di tengah lanskap global yang semakin terpolarisasi, Wakil Menteri Luar Negeri RI, Anis Matta ,mengingatkan bahwa persoalan terbesar dunia bukan semata perebutan wilayah atau kekuatan militer, melainkan perebutan cara bercerita.

Bagi Anis, diplomasi abad ke-21 tidak cukup hanya diisi perundingan di balik meja. Diplomasi juga harus mampu membangun narasi baru yang meredam Islamofobia, prasangka antaragama, dan kecenderungan menjadikan identitas keagamaan sebagai bahan bakar konflik geopolitik.

Gagasan itu disampaikannya saat menjadi pembicara dalam Sajid Diplomat Talk yang diselenggarakan Serikat Jurnalis Muslim Indonesia (Sajid) di Gedung Konstitusi Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Kamis (16/7/2026). Sekitar 50 jurnalis dari berbagai media mengikuti forum tersebut.

Menurut Anis, sepanjang sejarah, rasa takut sering kali tidak lahir dengan sendirinya. Ketakutan justru kerap diproduksi, dipelihara, lalu dijadikan instrumen politik.

“Dulu dunia mengenal berbagai bentuk ketakutan terhadap ideologi, negara, bahkan agama. Yang paling kita khawatirkan adalah ketika isu agama dipakai sebagai instrumen dalam konflik geopolitik,” ujarnya.

Dalam pandangan Anis, dunia tidak hanya membutuhkan negosiasi antarpemerintah, tetapi juga narasi yang membuat bangsa-bangsa saling memahami tanpa merasa terancam oleh perbedaan.

Karena itu, Kementerian Luar Negeri tengah menjajaki kerja sama dengan sejumlah negara, termasuk Belanda, untuk memperkuat dialog lintas agama dan kebebasan beragama. Salah satu gagasan yang mengemuka adalah menggelar pameran mengenai Syekh Yusuf Al-Makassari, bukan hanya di Kedutaan Besar Belanda, tetapi juga di Benteng Rotterdam, Gowa, Sulawesi Selatan.

Bagi Anis, sejarah tidak semestinya hanya dikenang sebagai daftar luka, melainkan juga sebagai jembatan menuju rekonsiliasi.

“Kalau residu sejarah terus hidup dalam memori kita, kita akan sulit bekerja sama,” katanya.

Ia kemudian mengajak peserta melihat sejarah dunia sebagai rangkaian peristiwa yang saling terhubung. Jatuhnya Konstantinopel pada 1453, berakhirnya kekuasaan Islam di Andalusia pada 1492, hingga kedatangan Portugis ke Nusantara pada 1511, menurutnya, bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Semua membentuk wajah geopolitik dunia yang dampaknya masih terasa hingga sekarang.

Di era digital, keterhubungan itu bahkan berlangsung jauh lebih cepat. Konflik yang terjadi ribuan kilometer dari Indonesia dapat memengaruhi opini publik hanya dalam hitungan menit melalui layar telepon genggam.

Di sinilah, kata Anis, narasi menjadi sama pentingnya dengan diplomasi. Cara sebuah peristiwa diceritakan sering kali menentukan apakah ia akan melahirkan empati atau justru memperpanjang permusuhan.

Peran media, menurutnya, menjadi semakin strategis. Ia menegaskan jurnalisme tidak semestinya hanya menjadi pengeras suara pemerintah ataupun sekadar mengejar sensasi. Fungsi utamanya adalah membuka ruang diskusi yang sehat agar masyarakat memperoleh pengetahuan yang lebih utuh.

“Pemerintah seharusnya mendengarkan perdebatan publik dan memahami denyut nadi masyarakat,” ujarnya.

Anis juga mengkritik model bisnis media sosial yang bertumpu pada sensasi. Menurutnya, algoritma digital bekerja dengan memberi panggung lebih besar kepada konten yang memancing kemarahan, emosi, atau perpecahan karena terbukti menghasilkan lalu lintas pengguna yang tinggi.

Akibatnya, ruang publik dipenuhi konten yang cepat viral, tetapi belum tentu memperkaya pemahaman.

“Bisnis media sosial bertumpu pada sensasi dan provokasi karena itulah yang menghasilkan trafik. Pada akhirnya, yang paling diuntungkan adalah pemilik platform,” katanya.

Karena itu, ia berpandangan media yang mengedepankan pendidikan publik dan jurnalisme berkualitas membutuhkan model pembiayaan yang lebih berkelanjutan, misalnya melalui dana abadi (endowment), sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada klik dan trafik.

Di tengah dunia yang semakin mudah tersulut oleh kabar sepenggal, ujaran kebencian, dan perang informasi, Anis berharap jurnalis mengambil peran yang lebih besar. Bukan sekadar menjadi penyampai fakta, tetapi juga penenun narasi yang mempertemukan perbedaan, mengurangi prasangka, dan menjaga ruang dialog tetap hidup.

Sebab, dalam dunia yang dipenuhi berbagai kepentingan, perang paling panjang mungkin bukan lagi perang memperebutkan wilayah. Melainkan perang memperebutkan cara manusia memandang satu sama lain. (*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *