Liputan

Inflasi Menggigt, Pemkab Tangerang Buka Warteksi Gemilang di Cikupa

×

Inflasi Menggigt, Pemkab Tangerang Buka Warteksi Gemilang di Cikupa

Sebarkan artikel ini
Bupati Tangerang Moch. Maesyal Rasyid saat meresmikan sekaligus membuka Warteksi Gemilang di Gerai Tangerang Gemilang (GTG), Cikupa.

JEJAK KATA, Tangerang – Inflasi memang bukan makhluk yang bisa ditangkap lalu dipajang di balai desa. Ia datang diam-diam, menyusup lewat harga cabai yang mendadak pedas bukan hanya di lidah, tetapi juga di dompet. Karena itu, Pemerintah Kabupaten Tangerang memilih cara yang lebih membumi: mengajak “melawan” inflasi lewat sebuah warung.

Namanya Warung Tekan Inflasi (Warteksi) Gemilang. Bukan warung yang menjual janji politik atau diskon musiman, melainkan pasar subsidi yang berusaha membuat kebutuhan pokok kembali masuk akal bagi kantong masyarakat.

Rabu, 22 Juli 2026, Bupati Tangerang Moch. Maesyal Rasyid meresmikan sekaligus membuka Warteksi Gemilang di Gerai Tangerang Gemilang (GTG), Cikupa. Pesannya sederhana: ketika harga pangan terus berlari, pemerintah tidak boleh hanya menjadi penonton yang sibuk menghitung angka inflasi di atas kertas.

“Program ini bertujuan meringankan beban masyarakat, terutama di tengah naiknya harga kebutuhan pokok. Pemerintah memberikan subsidi sekitar 45 persen sehingga masyarakat dapat membeli sembako dengan harga jauh lebih murah,” ujar Maesyal.

Di Warteksi, harga-harga memang seperti diajak kembali mengingat masa lalu. Beras premium dijual Rp7.000 per kilogram, gula pasir Rp12.000, minyak goreng Rp13.500 per liter, bawang merah Rp20.000, bawang putih Rp25.000, cabai merah keriting Rp25.000, cabai rawit merah Rp30.000, dan cabai rawit hijau Rp38.000 per kilogram.

Angka-angka itu tentu terdengar lebih ramah dibanding harga pasar yang belakangan sering membuat ibu rumah tangga mengernyitkan dahi sebelum membuka dompet.

Namun, di balik keramaian antrean dan senyum warga yang membawa pulang paket sembako, ada pertanyaan yang layak diajukan. Apakah inflasi cukup ditaklukkan dengan membuka warung murah selama tiga hari?

Jawabannya tentu tidak sesederhana itu.

Warteksi memang ibarat obat penurun demam. Ia mampu meredakan panas sesaat, tetapi penyebab penyakit tetap harus dicari. Harga pangan bisa melonjak karena distribusi terganggu, produksi menurun, cuaca ekstrem, hingga rantai perdagangan yang terlalu panjang. Jika akar masalah tak disentuh, warung murah berpotensi menjadi rutinitas yang terus dibutuhkan.

Karena itu, program seperti ini seharusnya menjadi pintu masuk menuju kebijakan yang lebih besar: memperkuat ketahanan pangan daerah, memperpendek rantai distribusi, memperbanyak kerja sama dengan petani lokal, serta menjaga pasokan agar harga tetap stabil, bukan sekadar murah ketika pemerintah memberi subsidi.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Tangerang, Resmiyati Marningsih, menjelaskan Warteksi berlangsung selama tiga hari, 22–24 Juli 2026, di GTG Cikupa dan Pasar Daon, Rajeg.

Paket subsidi berisi delapan komoditas pokok, yakni 665 kilogram beras premium, 200 kilogram gula pasir, 200 liter minyak goreng, masing-masing 200 kilogram bawang merah dan bawang putih, serta cabai merah keriting, cabai rawit merah, dan cabai rawit hijau.

Jika dihitung berdasarkan harga pasar, nilai paket mencapai Rp310.200. Pemerintah Kabupaten Tangerang memberikan subsidi Rp139.700 atau sekitar 45 persen, sehingga masyarakat cukup membayar Rp170.500.

Secara ekonomi, langkah ini bukan hanya membantu warga memenuhi kebutuhan pokok, tetapi juga menjaga daya beli agar roda konsumsi tetap berputar. Dalam situasi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil, menjaga daya beli masyarakat sama pentingnya dengan menjaga angka inflasi tetap terkendali.

Manfaat itu dirasakan langsung oleh Yulianti, warga Cikupa. Ia mengaku pengeluaran keluarganya jauh lebih ringan berkat program tersebut.

“Terima kasih kepada Bapak Bupati dan jajarannya. Kegiatan seperti ini sangat membantu kami, terutama ibu-ibu. Kalau bisa, diadakan lebih sering, bahkan setiap bulan,” katanya.

Permintaan Yulianti terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan pesan besar. Masyarakat tidak berharap terus-menerus bergantung pada sembako subsidi. Yang mereka inginkan adalah harga kebutuhan pokok tetap bersahabat setiap hari, tanpa harus menunggu pemerintah membuka warung dadakan.

Di situlah ukuran keberhasilan sesungguhnya. Warteksi akan menjadi cerita sukses bukan ketika antreannya semakin panjang, melainkan ketika suatu hari nanti warung seperti ini tak lagi ramai karena harga di pasar sudah kembali waras.

Sebab, pada akhirnya, inflasi bukan musuh yang bisa dikalahkan dengan spanduk peresmian. Ia hanya bisa ditundukkan oleh kebijakan yang konsisten, distribusi yang sehat, produksi yang kuat, dan keberpihakan yang nyata kepada masyarakat. Warteksi adalah langkah awal yang patut diapresiasi. Tantangan berikutnya adalah memastikan agar yang turun bukan hanya harga di warung subsidi, tetapi juga tekanan hidup masyarakat secara berkelanjutan. (*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *