Wisata dan Kuliner

Jejak Lontong Tuyuhan: Semangkuk Dakwah yang Menghangatkan Rembang

×

Jejak Lontong Tuyuhan: Semangkuk Dakwah yang Menghangatkan Rembang

Sebarkan artikel ini
Sepiring Lontong Tuyuhan

JEJAK KATA, Rembang – Ada kalanya sebuah kuliner lahir bukan sekadar untuk mengenyangkan perut, melainkan untuk menyimpan jejak sebuah peradaban. Di Kabupaten Rembang—wilayah yang dijuluki “The Cola of Java” karena bentang alam perbukitannya yang bergelombang—tersimpan sepiring hidangan sederhana yang usianya telah melampaui beberapa generasi: Lontong Tuyuhan.

Sekilas, sajian ini tampak biasa. Lontong yang dibungkus daun pisang disiram kuah santan kuning yang kaya rempah, ditemani potongan ayam kampung yang empuk. Aroma gurihnya menguar pelan, seolah mengajak siapa pun berhenti sejenak dari perjalanan. Namun, di balik semangkuk kuah itu, tersimpan kisah tentang dakwah, perjuangan, dan keteguhan masyarakat menjaga warisan leluhur.

Makanan memang sering dianggap urusan lidah. Padahal, dalam banyak kebudayaan, makanan adalah bahasa yang paling mudah diterima manusia. Ia mampu menyampaikan nilai tanpa banyak kata, menyatukan orang-orang yang berbeda, bahkan mengobati luka setelah konflik.

Begitulah jejak yang ditinggalkan Lontong Tuyuhan.

Menurut berbagai sumber sejarah lokal, kuliner ini bermula pada sekitar tahun 1740-an, ketika Perang Kuning mengguncang kawasan Lasem. Situasi yang tidak menentu membuat Mbah Jumali, keturunan ulama besar Mbah Sambu, meninggalkan pusat permukiman menuju kawasan selatan Lasem. Bersama para santrinya, ia mendirikan sebuah gubuk sederhana di tepian sungai, di wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Tuyuhan.

Di tempat yang jauh dari hiruk-pikuk peperangan itu, Mbah Jumali tidak hanya mengajarkan ilmu agama. Ia juga membangun kebersamaan melalui sesuatu yang paling dekat dengan kehidupan manusia: makanan.

Lontong berkuah santan dengan ayam kampung menjadi hidangan yang rutin disajikan kepada para santri. Sajian itu bukan sekadar menu makan siang. Ia menjadi bagian dari strategi dakwah yang lembut—mengajarkan bahwa kehangatan bisa hadir dari semangkuk makanan, dan persaudaraan tumbuh dari duduk bersama di atas tikar yang sama.

Dalam filsafat Jawa dikenal ungkapan bahwa urip iku urup—hidup semestinya memberi nyala bagi orang lain. Barangkali, semangkuk Lontong Tuyuhan adalah salah satu bentuk nyala itu. Ia memberi tenaga bagi para santri, sekaligus menjadi simbol bahwa mempertahankan kehidupan tak selalu dilakukan dengan mengangkat senjata. Kadang, ia dimulai dari menghidangkan makanan.

Nama Lontong Tuyuhan sendiri diambil dari desa tempat kuliner itu lahir. Dari sanalah tradisi memasaknya diwariskan turun-temurun, melewati zaman kolonial, kemerdekaan, hingga era modern.

Area Kuliner Khas Rembang Lontong Tuyuhan, di Desa Tuyuhan, Kecamatan Pancur, Kabupaten Rembang

Dulu, para penjual Lontong Tuyuhan berkeliling kampung menjajakan dagangannya. Mereka membawa penanda sederhana berupa lampu kecil dari pelepah pisang yang dibelah tiga. Cahaya itu bukan sekadar penerang jalan malam, tetapi juga penunjuk harapan bagi warga yang menunggu semangkuk hidangan hangat.

Kini, cara berjualannya memang berubah. Pemerintah Kabupaten Rembang telah membangun sentra kuliner di Desa Tuyuhan agar para pedagang memiliki tempat yang lebih layak. Namun satu hal tetap bertahan: resep yang diwariskan dari generasi ke generasi dan cita rasa yang nyaris tak berubah.

Di tengah gempuran makanan cepat saji dan tren kuliner yang datang silih berganti, Lontong Tuyuhan mengajarkan satu hal sederhana: tidak semua yang tua harus ditinggalkan. Ada warisan yang justru semakin bernilai karena mampu bertahan melintasi zaman.

Bagi para pelintas Pantura atau wisatawan yang singgah di Rembang, sempatkanlah menyusuri jalan sekitar 10 kilometer ke selatan Alun-alun Lasem. Di tengah hamparan perkebunan tebu, berdirilah sentra Lontong Tuyuhan yang masih menjaga denyut tradisi.

Di sana, setiap suapan bukan hanya menghadirkan gurih santan dan lembutnya ayam kampung. Ia membawa jejak sejarah, filosofi tentang kebersamaan, dan pelajaran bahwa sebuah makanan dapat menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan.

Karena sejatinya, kuliner terbaik bukan hanya yang mampu memanjakan lidah, tetapi juga yang sanggup membuat kita mengingat dari mana sebuah perjalanan bangsa pernah dimulai. (*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *